Bikin Bangga, Anak Petani dari Kabupaten Malang Ini Mampu Raih Emas di Olimpiade Sains Nasional 2018

Adit siswa SMPN 1 Turen peraih medali emas OSN di Padang (tengah). Prestasi yang membuat nama Kabupaten Malang berkibar di level nasional (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Adit siswa SMPN 1 Turen peraih medali emas OSN di Padang (tengah). Prestasi yang membuat nama Kabupaten Malang berkibar di level nasional (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - "Hasil lomba itu serupa menanam padi atau tanaman lainnya. Tidak menentu, terpenting kita telah melakukannya dengan baik. Urusan hasil sudah ada yang menentukan," Hadi Wibowo, petani dari Kabupaten Malang menasehati buah hatinya. 

Siapa sangka, berbekal nasehat itulah, siswa bertubuh kurus bernama Aditya Rio Wibowo menyabet medali emas dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMP di Padang,  Sumatera Barat (Sumbar). Medali tertinggi bagi perlombaan ilmiah para pelajar se-Indonesia. 

Adit-begitu siswa SMPN 1 Turen disapa, menyisihkan 132 siswa dari seluruh provinsi untuk bisa menggenggam prestasi tertinggi dalam lomba Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Berbekal ketekunan, kerja keras serta menyerahkan hasil akhir pada Allah. Seperti nasehat Hadi Wibowo,  ayah Adit,  yang dipegang teguh olehnya sampai saat ini. 

"Nasehat ayah yang saya pegang hingga saya sampai di OSN dan mendapat medali emas," ucap Adit yang tidak pernah mematok target kemenangan dalam setia lomba. Pasalnya, dia tidak ingin dalam perlombaan terbebani saat mengisi berbagai soal. 

Proses menuju tingkat nasional bukanlah perkara mudah. Ada kerja keras Adit beserta seluruh pihak terkait dalam pencapaian luar biasa tersebut. 

Adit yang memiliki kebiasaan membaca,  dua jam setiap hari ini sempat ragu untuk mengikuti perlombaan bergengsi tersebut. 

"Tidak terpikir bisa ikut lomba karena banyak teman yang lebih jago. Bahkan sebenarnya saya tidak punya cita-cita ikut lomba. Tapi,  bapak ibu guru memberi kesempatan agar saya mencoba ikut," kenang Adit. 

Kesempatan serta bekal nasehat dari ayahnya itu yang membulatkan tekad Adit untuk melenggang sampai di tingkat nasional. Walau sempat berkali-kali gagal menembus OSN,  Adit terus berjuang. 

Dari penuturannya, dia pernah berkali-kali gagal. Bahkan saat masih di level kabupaten. Saat di kelas VII,  siswa berperawakan kurus ini hanya bisa mencapai juara III. Baru di tahun inilah dia bisa menyisihkan 190 pesaingnya dan melaju ke tingkat provinsi. Keberhasilannya tersebut juga tidak disangkanya. Karena Adit memang tidak memikirkan dirinya bisa jadi juara atau tidak. 

"Hanya belajar seperti biasanya. Apalagi saat itu pesertanya banyak dan materi lomba lebih susah dari tahun lalunya," ujar anak dari Hadi Wibowo dan Umi Hanik. 

Bakat Adit terhadap pelajaran IPS baru terlihat saat semester dua. Walaupun sudah menyukainya sejak SD. Bakat inilah yang terpantau oleh guru-gurunya di SMPN 1 Turen. 

Ternyata, keyakinan para gurunya tersebut,  membuahkan hasil yang di luar ekspektasi mereka. Tampil sejajar dengan siswa dari Jakarta,  Yogyakarta sebagai peraih medali emas. 

Sebagai anak,  Adit yang disibukkan dengan pelajaran di sekolah dan berbagai lomba sains,  tidak lupa tugasnya membantu orang tuanya yang petani. 

Sesekali ketika longgar dan selesai belajar,  Adit tetap ke sawah. Dia mengatakan,  ternyata dari hal tersebut juga menghasilkan sesuatu yang tak pernah dipikirkannya saat ini.  "Hasilnya saya menjadi terbiasa berjuang dan belajar tanpa lelah. Hingga sampai di tingkat nasional," ujarnya. 

Di kesempatan berbeda,  raihan Adit yang membawa nama harum Kabupaten Malang di kancah nasional,  diapresiasi tinggi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. 

"Kita berterimakasih atas prestasi tersebut. Ini semoga jadi pemicu bagi siswa lain di sekolah lainnya," ujar M Hidayat kepada MalangTIMES. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top