Ada 'Bulan Janda' di Tulungagung

https://cdn-img.jatimtimes.com/images/2018/07/09/Ada_Bulan_Janda_di_Tulungagungu4tCj.jpg
https://cdn-img.jatimtimes.com/images/2018/07/09/Ada_Bulan_Janda_di_Tulungagungu4tCj.jpg

 Kasus perceraian di Tulungagung tergolong tinggi. Bahkan, dalam satu tahun, ada musim atau bulan yang angka perceraiannya meningkat dibandingkan bulan lainnya. Karena itu, bulan itu disebut bulan janda.
"Bulan Juli pendaftar kasus perceraian bertambah. Bukan karena bulannya, tapi itu momentum Lebaran dan puasa. Jadi, pendaftar yang kebetulan TKW (tenaga kerja wanita) dan TKI (tenaga kerja Indonesia) memanfaatkan momentum cuti Lebaran untuk sekalian mendaftarkan perkaranya," kata Muhammad Hufron Efendi, praktisi hukum sekaligus pengacara yang sering menangani kasus perceraian.

Hufron mengakui jika mendaftar Juni dan Juli, perkara akan putus Agustus dan September. Dari data yang diperoleh tahun 2017 di Pengadilan Agama Tulungagung, Agustus dan September merupakan bulan yang jumlah angka perceraiannya lebih tinggi.

Mengutip data tahun lalu, dari Januari hingga September, disebutkan Januari 375 kasus dan dinyatakan dikabulkan 248. Februari, pengajuan masuk 267 dan dikabulkan 234. Maret 288 dan dikabulkan 278. April 300 dan dikabulkan 253. Mei 258 dan dikabulkan 310. Juni 146 dan dikabulkan 234. Juli 408 dan dikabulkan 248. Agustus 317 dan dikabulkan 349. Kemudian September hingga 18 lalu, data masuk 175 dan dikabulkan 177 perkara. 

Dari data itu bisa disimpulkan sementara, bulan Juli adalah bulan paling banyak pendaftaran perkara perceraian masuk. Dan atas perkara itu, bulan Agustus jumlah yang dikabulkan mencapai 349 kasus.

Sedangkan alasan yang mendasari perceraian melalui jasa pengacara masih sama seperti tahun sebelumnya. Yakni masalah perselingkuhan dan masalah ekonomi.

"Suami seleweng, suami menghabiskan hasil kerja istri. Kalau laki-laki kurang lebih sama saja. Tapi faktor-faktor ketidakharmonisan keluarga, bertengkar karena jarang komunikasi yang diakibatkan suami atau istri atau bahkan dua duanya di luar negeri. Jadi, banyak pemicunya," ungkap Hufron.

Senada dengan Hufron, pengacara yang juga kebanjiran order jasa perceraian mengakui peningkatan perceraian di bulan-bulan jelang Lebaran karena para TKW dan TKI pulang kampung dan kecewa sama keadaan di rumah.
"Kan yang kerja di luar negeri ini biasanya kirim uang, minta dibelanjakan ini dan itu sama yang di rumah. Nah, laporan lewat telepon beres, tapi faktanya satelah di rumah realisasinya itu berbeda," kata M. Ihsan Muhlason, pengacara yang juga ketua Lembaga Hukum dan HAM GP Ansor Kabupaten Tulungagung.

Muhlas juga mengungkapkan, selain yang disampaikan Hufron, faktor lain yang sekarang mulai tren adalah cukup banyak TKW atau TKI menjalin hubungan asmara sejak di luar negeri. "Karena hubungan sudah terjalin di luar negeri, banyak yang pulang sudah membawa pasangan, lalu mengurus perceraian sama di rumah. Ini belum begitu banyak, namun sudah ada klien yang demikian," ujarnya.

Meski banyak TKW dan TKI menggunakan jasa pengacara, non-TKW dan TKI juga tidak kalah banyak mengurus perceraian dengan berbagai masalah keluarga. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top