Berubah dari Bentuk Aslinya, Ahli Cagar Budaya Minta Tempat Ibadah Dapat Perhatian Khusus

Sumber foto: nunikutami.com
Sumber foto: nunikutami.com

MALANGTIMES - Ahli Cagar Budaya Dwi Cahyono meminta pemerintah Kota Malang memberi perhatian khusus pada bangunan atau tempat ibadah yang berusia di atas 50 tahun. 

Karena berdasarkan pengalamannya saat turun ke lapangan, tak sedikit bangunan bersejarah yang merupakan tempat ibadah itu mengalami perubahan cukup banyak.

Padahal, sebagai bangunan cagar budaya dan warisan leluhur, bangunan tersebut harus tetap mempertahankan keasliannya.

"Jadi tempat beribadah juga harus dimasukkan dalam daftar untuk ditetapkan sebagai cagar budaya," katanya.

Dari sekian banyak bangunan beribadah, menurutnya masjid merupakan salah satu bangunan suci yang rentan mengalami perubahan.

Di Kota Malang sendiri, Masjid Jami menurutnya telah mengalami banyak perubahan dari bentuk awal pembangunanya. Meski tak sedikit pula ornamen yang tetap dipertahankan keasliannya.

Selain Masjid, Pura, Gereja, Klenteng, dan Wihara juga sudah ada yang mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Kebanyakan juga untuk menyesuaikan kebutuhan dan penampilan.

"Tapi gereja dan klenteng masih terlihat ornamen aslinya di masa lalu," tambah Dwi.

Pada bangunan masjid, menurutnya bagian serambi biasanya paling mudah berubah. Tak hanya itu, atap masjid juga sering mengalami perubahan karena mengikuti tren terbaru.

Hal ini dapat terlihat semisal masjid yang dulunya beratap susun menjadi kubah atau memiliki hiasan. 

"Bangunan yang sudah dan sedang digunakan terkadang juga rentan alami perubahan," paparnya.

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top