Menelusuri Jejak Tumbuhnya Musik Religi di Kota Malang

Ilustrasi (jadiberita.com)
Ilustrasi (jadiberita.com)

MALANGTIMES - Musik religi, menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi masyarakat Kota Malang. Baik di hari biasa, terlebih di bulan suci ramadan dan Idul Fitri. Alunan musik religi selalu menghiasi setiap kegiatan warga.

Seperti baru-baru ini, alunan musik yang dibawakan Grup Gambus Sabyan seolah merasuki setiap denyut nadi seluruh elemen masyarakat Indonesia, tanpa kecuali warga di Kota Malang.

Di rumah, kantor, pasar, hingga tempat hiburan sekalipun, suara merdu dari grup gambus ini selalu menghiasi.

Sebelum itu, sederet musisi kenamaan lainnya juga sempat ramai diperbincangkan lantaran musik religi yang dibawakan. Sebut saja Sulis, dara manis yang dulu sempat ramai diperbincangkan karena suara merdunya saat bershalawat. 

Lebih lama lagi, dikenal Taufik Ismail dan Bimbo yang menyita perhatian publik dengan lirik yang adem dan musik yang hangat. Sederet band yang digandrungi anak muda seperti Gigi dan Ungu pun tak ketinggalan mengeluarkan single religi saat momen Ramadan dan Idul Fitri.

Perkembangan musik religi yang lumayan pesat itu terkadang membuat kita penasaran. Kapan sebenarnya pertama kali musik religi bernuansa islami itu dikenal masyarakat, khusunya di Kota Malang.

Sampai sekarang, jejak dari tumbuh dan berkembangnya musik islami di Kota Malang memang belum banyak diungkap. Sederet pengamat pun sepakat jika sampai sekarang belum ditemukan bukti kuat siapa musisi pertama di Malang yang mengeluarkan single religi bernuansa islami.

"Sampai dengan sekarang saya belum menemukan siapa sebenarnya musisi pertama di Malang yang menyajikan lagu religi islami," terang seniman sekaligus pengamat musik di Kota Malang Redy Eko Prastyo pada MalangTIMES.

Meski belum diketahui dengan pasti siapa grup asli Malang yang menyuguhkan alunan musik religi di kota pendidikan ini, ia berpendapat jika pasti ada musisi yang sebenarnya telah menggeluti musik religi. 

Terlebih sebagai kota musik Malang dikenal dengan musisi yang memiliki beragam genre. Dapur rekaman pun tak sedikit ditemukan di kota yang juga berjuluk sebagai kota bunga ini.

Hanya saja, sampai sekarang ia memang belum menemukan kapan dan siapa sosok yang mengeluarkan album atau single religi di Kota Malang. 

"Di Malang ada studio rekaman tua, namanya Joyoboyo Record yang ada di Kasin. Sepertinya di sana juga merekam musisi yang nelantunkan lagu religi," imbuh pria berambut gondrong itu.

Dalam perkembangannya, alunan religi di Kota Malang menurutnya memang lebih banyak dikenal melalui kasidah dan samroh yang sering dibawakan secara berkelompok. Seperti saat pengajian salah satunya, dan itu pun ditambah dengan sentuhan Jawa melalu penakan lirik berbahasa jawa ataupun sentuhan musik khas.

Sementara itu, jika menarik pada masa yang lebih jauh, ia berpendapat jika perkembangan musik religi di Indonesia pada umumnya mulai ada sejak tahun 1936.

Hal itu dikuatkan dengan ditemukannya audio musik yang direkam menggunakan piringan hitam dengan tema Selamat Lebaran.

Piringan hitam yang telah diconvert dalam sebuah audio khusus dan dilengkapi dengan visual jaman dulu itu pun kini banyak ditemui di youtube. Salah satunya lagu berjudul Selamat Hari Raya yang dinyanyikan oleh Miss Aminah. Diciptakan Tengku Alibasha @Che Ara Bangsawan pada 1936.

"Jadi itu dalam bentuk audio piringan hitam yang diconvert dan dipermanis dengan visual jaman dulu. Jadi itu bukan video asli, tapi suaranya memang terdengar berasal dari piringan hitam," jelas Redy sembari menyebut jika audio tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu referensi terkait perkembangan musik religi di Indonesia.

Di sisi lain, Ketua Museum Musik Indonesia (MMI) Malang Hengki Herwanto menjelaskan jika sampai sekarang ia belum mendapat bukti kuat terkait awal mula perkembangan musik nuansa islami di Kota Malang ataupun Indonesia.

Dariesederet koleksi album religi yang dimiliki MMI, menurutnya ada salah satu piringan hitam dari lebel Lokananta Record yang rilis pada 1956 dan memuat lagu religi. Dia menilai jika album tersebut bisa jadi merupakan awal mula dikeluarkannya album religi.

"Tapi itu masih belum jelas kepastiannya, itu hanya kemungkinan dan perlu pendataan ulang," jelas Hengki.

Dia juga menyampaikan jika perkembangan musik, baik nuansa religi atau bukan sudah dikenal sejak berabad-abad lamanya. Salah satunya diketahui melalui prasasti di Candi Jajagu, di mana di sana ditemukan sebuah prasasti yang menggambatkan alat musik.

"Ada empat alat musik yang terpahat di sana (Candi Jajagu), salah satunya dawai. Jika benar maka itu menjadi bukti jika musik sudah dikenal sejak lama," pungkasnya.

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top