Sejarah Masuknya Islam di Malang

Babat Belantara Bekas Kerajaan Singosari, Laskar Diponegoro Ini Bangun Masjid

Cicit Kiai Hammimuddin, H Moensif Nachrowi. (Pipit Anggraeni)
Cicit Kiai Hammimuddin, H Moensif Nachrowi. (Pipit Anggraeni)

MALANGTIMES - Sumber terkait penyebaran ajaran Islam di Malang sampai saat ini masih simpang siur. Namun meski begitu, cerita rakyat yang berkembang di masyarakat pun masih terjaga dan dapat dijadikan sebagai sumber pembanding.

Salah satu cerita yang paling banyak dijadikan rujukan saat ini adalah penyebaran ajaran Islam di kawasan Singosari. Dalam hal ini adalah ajaran yang dibawa Kiai Hammimuddin sebagai mantan laskar Pangeran Diponegoro yang masuk ke wilayah Malang sekitar tahun 1830-an.

Hammimuddin muda diyakini menjadi salah satu tokoh penyebar Islam yang berhasil menancapkan ajarannya di daerah bekas wilayah Kerajaan Singosari. Sampai sekarang, bekas dari tempat beribadah dan mengaji yang dibangun Hammimuddin pun masih dapat ditemui meskipun bentuknya tak lagi sama seperti awal dibangun karena sudah beberapa kali dipugar.

Cicit Kiai Hammimuddin, yaitu H Moensif Nachrowi, memberi kesaksian terkait cerita panjang kakek buyutnya membabat bekas Kerajaan Singosari itu. Di mana saat akhir perang Diponegoro, kakek buyutnya tersebut memilih melarikan diri ke daerah Malang Utara atau Singosari.

"Tapi tahun pastinya tidak tahu persisnya. Yang pasti itu adalah akhir perang Diponegoro 1830. Entah saat itu Kiai Hammimuddin langsung ke Singosari atau masih bertahan di tempat lain sebelum ke Singosari," terangnya kepada MalangTIMES, Jumat (18/5).

Dalam pelariannya itu, Kiai Hammimuddin masih memegang erat ajaran Islam. Dia pun membabat daerah pedalaman Singosari atau yang kini dikenal sebagai Jl Bungkuk. Awalnya, daerah tersebut masih hutan belantara.

Saat menetap dan berniat menyebarkan ajaran Islam, Kiai Hammimuddin membangun sebuah gubuk sebagai tempat beribadah dan mengaji. Saat ini, tempat beribadah dan mengaji itu pun sudah selesai direnovasi dan berdiri bangunan permanen. yaitu pondok pesantren dan Masjid Miftahul Falah atau yang lebih dikenal sebagai ponpes dan Masjid Bungkuk.

Ajaran Islam yang disampaikan saat itu bukanlah murni ajaran Arab. Melainkan sudah disesuaikan dengan budaya Jawa atau yang disebut sebagai Islam Abangan. Tak heran, karena Pangeran Diponegoro sendiri juga merupakan orang Jawa yang melakukan pendekatan budaya dalam menyebarkan ajaran Islam.

Saat itu, ajaran Islam sudah banyak diterima oleh masyarakat yang notabene memeluk ajaran Hindu dan Buddha. Keluwesan dari ajaran Islam yang tak lagi mengenalkan kasta menjadi salah satu alasan banyaknya masyarakat yang memilih memeluk ajaran Islam. "Awalnya santri Kiai Hammimuddin tak banyak. Tapi kemudian berangsur mencapai ribuan," kata Moensif.

Saat menetap di Singosari, Kiai Hammimuddin dikaruniai tujuh orang anak. Dari tujuh anaknya itu, Hammimuddin menikahkan anak bungsunya bernama Siti Hindun Murtosiah dengan Kiai Mohammad Thohir yang merupakan keturunan kiai Bangil. "Tapi saya belum tahu, isteri beliau itu adalah istri yang dibawa saat pelarian atau istri yang dinikahi saat menetap di Singosari," tambahnya.

Selanjutnya, pondok pesantren beserta Masjid Bungkuk pun diserahkan kepada menantu Kiai Hammimuddin, yaitu Kiai Mohammad Thohir. Dari pernikahan Kiai Thohir dan Nyai Murtosiah itu, lahir lima orang anak. Dua diantaranya adalah laki-laki dan tiga perempuan.

Dari lima anak itu, satu diantaranya adalah Kiai Nachrowi Thohir sebagai generasi ketiga pengurus pondok pesantren dan Masjid Bungkuk. Kiai Nachrowi pun dikaruniai 10 orang putra dan putra terakhirnya, yaitu Ahmad Hilmy, saat ini menjadi pengurus ponpes dan Masjid Bungkuk.

Sedangkan H Moensif Nachrowi sendiri merupakan anak kelima dari Kiai Nachrowi Thohir. Saat ini, ia masih aktif dalam kepengurusan pondok serta masjid. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top