Sejarah Masuknya Islam di Malang

Konon, dari Masjid Tua di Malang Ini Kakbah di Makkah Bisa Terlihat

foto istimewa
foto istimewa

MALANGTIMES - Sebuah masjid berdiri megah di perkampungan yang tak jauh dari situs Candi Singosari. Beralamatkan di Jl Bungkuk, masjid yang diperkirakan pertama dibangun pada tahun 1830-an itu pun dikenal dengan nama Masjid Bungkuk.

Kemegahan masjid tampak dari kejauhan. Tapi saat memasukinya, ada beberapa situs bersejarah yang masih kental di sana. Salah satunya adalah empat pilar masjid yang diketahui merupakan fondasi awal yang dibangun oleh Kiai Hammimuddin, seorang mantan laskar Pangeran Diponegoro yang memiliki peranan besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Malang, khususnya Malang Utara.

Konon, di masjid tersebut juga diyakini terdapat sebuah lubang yang digunakan oleh Kiai Thohir, menantu Kiai Hammimuddin, untuk melihat Kakbah di Makkah. 

"Tapi sebagai keturunan langsung dari beliau (KH Thohir; red), saya tidak berani mengiyakan karena itu dekat dengan riya. Dan saya pun sangat menyakini itu karena kekuasaan Allah tidak ada yang tidak mungkin," terang cucu Kiai Thohir, H Moensif Nachrowi, kepada MalangTIMES, Jumat (18/5).

Masjid Bungkuk ini sendiri memang menjadi peninggalan sejarah sekaligus jejak penyebaran ajaran Islam pertama di Malang. Dimulai saat eks laskar Pangeran Diponegoro, yaitu Kiai Hammimuddin, melarikan diri dari peperangan dan menuju Singosari. 

Berdasarkan cerita H Moensif yang juga merupakan keturunan keempat alias cicit Kiai Hammimuddin, masjid tersebut dibangun di tengah-tengah pelarian Hammimuddin. Sebab, sudah menjadi amanah bagi laskar Pangeran Diponegoro bahwa ajaran Islam harus tetap disampaikan di mana pun berada. 

Saat pertama membangun masjid atau tempat beribadah,masjid itu tak berbentuk permanen. Hingga akhirnya, Hammimuddin berhasil membuat bangunan permanen dengan mendirikan empat pilar fondasi. Sampai sekarang, empat pilar itu pun masih tertancap sesuai bentuknya meskipun masjid sudah dipugar beberapa kali. "Terakhir masjid dipugar pada tahun 2008," kata Moensif.

Saat menyebarkan Islam di bekas wilayah Kerajaan Singosari itu, ajaran yang disampaikan bukan murni ajaran dari Arab. Melainkan memang ajaran yang sudah disesuaikan dengan budaya di Jawa. "Hal itu tak lepas dari ajaran yang diberikan Pangeran Diponegoro, yang memang berasal dari Jawa," tambah pria ramah itu.

Saat itu, ajaran Islam masih belum banyak diketahui lantaran masyarakat sekitar daerah tersebut masih kental dengan ajaran Hindu dan Buddha. Sehingga, saat ada beberapa santri yang melaksanakan salat, masyarakat sekitar menyebutnya sebagai daerah bungkuk.

"Kata mbah saya, dulu itu masyarakat menyebut daerah Bungkuk karena mereka belum mengenal istilah rukuk dan sujud. Sehingga, rukuk dan sujud mereka katakan sebagai membungkuk dan masjid pun akhirnya disebut Masjid Bungkuk. Begitu juga pondok pesantrennya," ungkap Moensif lagi.

Saat dipugar pada 2008, terdapat beberapa situs bersejarah yang ditemukan. Di antaranya adalah bebatuan berukuran besar yang diyakini sebagai lintasan pagar pintu masuk ke Kerajaan Singosari. "Dan temuan tersebut sudah diselamatkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto," katanya sembari menyebut jika bebatuan sisa yang tak bisa siselamatkan kembali dikubur saat pembuatan fondasi masjid.

Sampai sekarang, masjid tua yang sudah rampung direnovasi tersebut masih digunakan untuk beribadah. Juga menjadi destinasi wisata religi karena di belakang masjid juga terdapat makam Kiai Hammimuddin beserta keturunannya.

Sebagai informasi, Kiai Hammimuddin saat memutuskan menetap dan menyebarkan ajaran Islam di kawasan Singosari tersebut telah memiliki tujuh keturunan. Anak bungsunya, yaitu Siti Hindun Murtosiah, dinikahkan dengan Kiai Mohammad Thohir yang merupakan keturunan dari kiai Bangil.

Selanjutnya, pondok pesantren beserta Masjid Bungkuk pun diserahkan kepada Kiai Mohammad Thohir. Dari pernikahan Kiai Thohir dan Nyai Murtosiah itu, lahir lima orang anak. Dua di antaranya adalah laki-laki dan tiga perempuan.

Dari lima anak itu, satu di antaranya adalah Kiai Nachrowi Thohir sebagai generasi ketiga pengurus pondok pesantren dan Masjid Bungkuk. Kiai Nachrowi pun dikaruniai 10 orang putra. Dan putra terakhirnya, yaitu Ahmad Hilmy, saat ini menjadi pengurus ponpes dan Masjid Bungkuk. "Saya sendiri anak kelima dari Kiai Nachrowi," pungkas Moensif. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top