Nawacita Jokowi Bisa Rusak, Sikap Curiga Penyebabnya

Bupati Malang Rendra Kresna berharap kejadian teror tidak melahirkan sikap curiga satu sama lain, tapi melahirkan kesiagaan dan kebersamaan dalam masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing. (Nana)
Bupati Malang Rendra Kresna berharap kejadian teror tidak melahirkan sikap curiga satu sama lain, tapi melahirkan kesiagaan dan kebersamaan dalam masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing. (Nana)

MALANGTIMES - Nawacita Presiden Joko Widodo kini menghadapi tantangan dengan adanya tragedi teror yang terus merembet ke berbagai daerah. Setelah Surabaya, Sidoarjo, Riau, Malang, Mojokerto, dan kota lain jadi sarang teroris, penjagaan ketat dari aparat semakin ditingkatkan. 

Penjagaan ketat tersebut di satu sisi sebagai upaya kehati-hatian agar tidak kembali terjadi peristiwa berdarah yang dikutuk seluruh masyarakat Indonesia. Sisi lain melahirkan sikap curiga terhadap masyarakat dengan penampilan yang kerap dipakai oleh para teroris. Bercadar bagi perempuan serta tampilan khas muslim bagi laki-laki. 

Sikap curiga tersebut yang akan melemahkan Nawacita Jokowi, yaitu guyub dan gotong-royong sebagai nilai luhur masyarakat Indonesia. "Kenapa curiga bisa melemahkan hal tersebut? Karena saat satu sama lain bercuriga. Maka silaturahmi terputus. Padahal silaturahmi yang menguatkan keguyuban dan gotong-royong itu sendiri, " kata Dr H Rendra Kresna, bupati Malang, kepada MalangTIMES. 

Kondisi tersebut lambat laun juga akan berimbas di dalam masyarakat. Sikap curiga akan melahirkan turunan sikap lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila ditunggangi dengan  kepentingan lainnya, akan berdampak buruk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Bupati Rendra melihat kondisi inilah yang patut juga untuk dieliminasi sedini-dininya. Sikap siaga aparat tidak bisa disalahkan dengan adanya kejadian di Surabaya. Tapi apabila hal ini terus berkembang,  bisa membuat persoalan baru di tengah masyarakat. 

"Karena itu, kita kuatkan kembali nilai-nilai luhur bangsa. Sikap guyub yang mungkin semakin kendor di lingkungan kita hidupkan lagi. Sikap apatis dan cuek dengan lingkungan saatnya ditanggalkan," ujar ketua DPW Partai Nasdem Jatim ini. 

Masyarakat didorong untuk menghidupkan keguyuban melalui siskamling. Selain akan semakin mendekatkan warga satu dengan yang lain, juga akan menjadi bagian dari upaya kesiagaan. Sikap apatis dan cuek pun bisa dieliminasi dengan cara memberlakukan kembali program wajib lapor 1 x 24 jam di lingkungan setempat. 

"Saat ini kembali dilakukan, lingkungan bisa terkontrol. Satu sama lain saling mengetahui. Sikap curiga pun bisa digeser menjadi bentuk pengenalan diri dan kewajiban sebagai bagian di dalam masyarakat," imbuh Rendra. 

Dandim 0818 Wilayah Kabupaten Malang dan Kota Batu Letkol Inf Ferry Muzawwad menyatakan hal sama dengan kondisi yang belakangan berkembang di dalam masyarakat. Terutama dengan adanya teror bom dari teroris yang dipicu kecuekan dan sikap individualistik warga. 

"Acuh pada lingkungan,  maka kita siap-siap menjadi korban. Ini pula yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo. Para teroris hidup lama di tengah masyarakat dan tidak terdata dan terpantau oleh lingkungan sekitarnya," ujar dandim. 

Kondisi tersebut tentunya menjadi ruang bebas dari sel-sel teroris untuk hidup dan berkembang dalam masyarakat. Karena itulah, Ferry menegaskan, untuk meminimalisasi serta mencegah hal tersebut terjadi,  peran masyarakat guna sama-sama menumbuhkan kebersamaan dalam menjaga lingkungan menjadi sangat penting. 

"Kita awali lagi dengan pendataan di setiap lingkungan. Kita mohon respons baik pemerintah kecamatan dan desa. Kalau ada warga yang tidak mau didata,  laporkan," tegasnya sambil meminta kepada seluruh babinsa untuk berperan lebih aktif dalam proses tersebut. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top