Daya Saing Produk UMKM Lemah, Bupati Malang Rendra Kresna: Dua Yang Harus Dikuatkan

Bupati Malang Rendra Kresna menyampaikan ada dua hal dalam menguatkan produk UMKM dalam menghadapi produk luar. (Nana)
Bupati Malang Rendra Kresna menyampaikan ada dua hal dalam menguatkan produk UMKM dalam menghadapi produk luar. (Nana)

MALANGTIMES - Tugas berat pemerintah dalam melindungi perekonomian rakyat melalui usaha mikro kecil menengah (UMKM) di era perdagangan bebas semakin nyata. Persaingan yang kompetitif di era perdagangan bebas tentunya menjadi tugas pemerintah untuk mempersiapkan UMKM. Pasalnya,  eksistensi UMKM akan diuji dalam perdagangan bebas dari sisi psikologi pasar.

Seperti terjadi saat ini, masyarakat cenderung lebih senang dengan produk-produk impor. Hal ini yang membuat berbagai produk UMKM dari luar negeri setiap tahun mengalami peningkatan dalam neraca perdagangan. 

Psikologi pasar terhadap masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Malang, terhadap produk luar negeri dibandingkan dengan produk UMKM sebenarnya bukan dikarenakan sisi kualitas atau harganya. Tapi lebih pada lemahnya daya saing produk. 

"Produk luar negeri memiliki kesan bagus dalam masyarakat. Padahal tidak sepenuhnya benar. Produk UMKM banyak yang lebih bagus. Ini dikarenakan daya saing yang lemah produk UMKM terhadap produk luar," kata Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, Kamis (17/5/2018).  

Daya saing adalah kendala pertama yang membuat potensi besar produk UMKM terhambat. Kondisi tersebut yang menurut Rendra perlu adanya strategi baru dalam menggerakkan UMKM agar dapat berdaya saing tinggi. UMKM yang berdaya saing tinggi, lanjut Rendra, adalah yang mencirikan adanya kecenderungan permintaan yang meningkat dari laju pertumbuhan volume produksi. Kedua, pangsa pasar domestik dan pasar ekspor selalu meningkat. "Jadi, UMKM melayani pasar domestik, nasional dan luar negeri juga, " ujarnya kepada MalangTIMES. 

Untuk mencapai hal tersebut,  terdapat tiga hal yang patut diperkuat terhadap keberadaan UMKM sehingga memiliki daya saing yang kuat terhadap berbagai produk luar negeri yang membanjiri pasar di Kabupaten Malang. Pertama,  memberikan perlindungan terhadap UMKM dengan membatasi ritel modern khususnya di kawasan perdesaan. Keberadaan ritel modern tanpa kendali akan menjadi ancaman bagi produk UMKM. "Psikologi pasar yang kembali bermain. Masyarakat akan terus berbondong-bondong ke ritel modern daripada ritel UMKM. Perlindungan tersebut bisa melalui regulasi yang dibuat pemerintah," ujar Rendra. 

Regulasi tersebut bisa melalui peraturan daerah di lingkup daerah. Sedangkan di tingkat nasional bisa dengan berbagai regulasi yang ada dan diatur dalam perundang-undangan. "Regulasi ini selain melindungi produk UMKM di pasar domestik, juga bisa berperan dalam persaingan pasar dengan para pengusaha dari negara lainnya, " imbuh ketua DPW Partai NasDem Jatim itu. 

Langkah kedua dalam penguatan UMKM adalah pemberdayaan berkelanjutan. Pemberdayaan tersebut bisa melalui berbagai kegiatan. Baik melalui pelatihan manajemen,  produk,  pemasaran, kemasan,  sampai pada penguatan jaringan lintas sektoral. 

Melalui pemberdayaan berkelanjutan,  maka UMKM bisa semakin memiliki kepercayaan diri dan kompetensi dalam mencipta produk yang sesuai dan diminati di era pasar bebas ASEAN ini. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top