Warga Kelurahan Ngaglik Lakukan Bersih Dandang, Ritual Jelang Ramadan

Puluhan ibu-ibu membersihkan dandang diiringi dengan tarian tirto bening di Sumber Belik Tanjung, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Sabtu (12/5/2018). (Foto: Irsya Richa/ BatuTIMES)
Puluhan ibu-ibu membersihkan dandang diiringi dengan tarian tirto bening di Sumber Belik Tanjung, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Sabtu (12/5/2018). (Foto: Irsya Richa/ BatuTIMES)

MALANGTIMES - Pemandangan berbeda terlihat dari Sungai Kebo di Jl Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu. Hari ini, Sabtu (12/5/2018) puluhan ibu-ibu memadati sungai sambil membersihkan dandang. Sedang apa mereka?

Rupanya mereka mengikuti gelaran kegiatan bertajuk Megengan & Haul Pendiri Masjid Pertama di Kota Batu.

Tari membersihkan dandang itu merupakan salah satu ritual yang baru pertama dilakukan oleh warga Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu menjelang bulan Ramadan. Filosofi membersihkan dandang itu diibaratkan bangunan rumah tangga. Dandang yang selalu dibutuhkan sehari-hari untuk memasak.

Dandang juga melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Yang saat bulan puasa diajak berhenti sejenak, karena itu dilakukan ritual bersih dandang.

“Dandang ini kan selalu digunakan sehari-hari untuk memasak. Tetapi saat bulan puasa akan jarang digunakan, karena itu dibersihkan sekaligus untuk membersihkan segala sesuatu hal di dalam rumah,” ujar Achmad Rifai ketua Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Ngaglik.

Usai membersihkan dandang di Sungai Kebo, mereka digiring untuk membersihkan Sumber Tanjung. Sebab di sumber inilah masyarakat bisa mengkonsumsi air bersih sebagai rasa syukur. 

Ritual juga dilakukan dengan menari tirto bening sambil membersihkan dandang dengan mengelilingi area Sumber Tanjung. Selain itu juga dilakukan penanaman pohon tanjung di sana. Dalam ritual tersebut rupanya mendapatkan perhatian dari warga sekitar, sehingga ratusan warga antusias memadati dan mengikuti area ritual.

Ia menambahkan kegiatan ini dilakukan juga sebagai wujud untuk melestarikan budaya yang dulunya pernah dilakukan di sana. Sekaligus mulai menghidupkan budaya menjadikan destinasi wisata.

“Kegiatan ini sudah dilakukan sejak dulu kala, semakin ke sini jarang dilakukan lagi. Sehingga kami sebagai masyarakat setempat berkewajiban untuk melestarikan budaya yang sudah dibangun,” jelas pria yang akrab disapa Mad Berlin ini.

Sebelum dilakukan membersihkan dandang ini juga digelar gugur gunung, resik kalen, ruwahan arwah leluhur yang meninggal. Hingg ritual tradisi masyarakat jawa, bersih-bersih tempat konservasi.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : sandi permana soebagio

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top