Rare Moment Sajikan Seni Jalanan di Ruang Pameran

Pengunjung melihat salah satu karya dalam pameran Rare Moment di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Pengunjung melihat salah satu karya dalam pameran Rare Moment di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Seni rupa memiliki ruang ekspresi yang luas. Tak hanya berkembang di ruang-ruang pameran, seni rupa juga hadir di jalanan atau kerap disebut street art. Meski demikian, tidak sedikit hasil karya seniman jalanan yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Bahkan, ada yang berpikir jika karya tersebut seperti sampah.

Namun, perupa seni jalanan Panji Akbar Pratama berupaya menampik stigma negatif tersebut dengan menghadirkan street art di ruang pameran. Panji ingin menunjukkan jika tidak selamanya seni jalanan itu terbilang seni sampah. Hal itu ditunjukkan dengan pameran bertajuk "Rare Moment" di Dewan Kesenian Malang (DKM) ini.

Pameran yang berlangsung mulai tanggal 5-11 Mei tersebut, menampilkan sebanyak 38 karya yang terdiri dari karya lukisan, instalasi, dan foto. Diletakkan di dua ruangan berbeda, seluruh karya Panji ini mempunyai pesan yang disampaikan ke masyarakat. Salah satunya ingin menunjukkan jika tidak semua seni jalanan itu sampah. "Selama ini seni jalanan dipandang sebelah mata. Padahal nggak semua seni jalanan itu sampah jalanan," ujarnya.

Mahasiswa tingkat akhir STMIK Asia Malang itu juga menampilkan karya-karya satire atau bersifat sindiran ke Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Yakni tercermin pada kumpulan foto yang diambil di kawasan Jembatan Suhat Malang. Di dalam foto, terdapat beberapa model yang membawa papan surfing sembari bergaya layaknya sedang berada di pantai.

Maksud dari foto tersebut yakni sebagai sindiran jika Pemkot Malang justru menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat selfie, bukan justru mengurai kemacetan. Ya, jembatan Suhat itu saat ini memang telah dihiasi oleh lampu warna warni. Pada malam hari pun tidak sedikit para remaja yang berhenti untuk sekedar berfoto. 

Selain karya foto itu, juga terdapat sebuah instalasi meja billiard di pameran tersebut. Meja itu mencerminkan kondisi di beberapa negara yang menjadikan billiard sebagai fasilitas yang biasa terdapat di kawasan homeless. Karya Panji yang lain pun juga mempunyai arti masing-masing. "Pameran yang dikerjakan sejak September 2017 lalu ini saya harapkan bisa membuka pikiran masyarakat agar tidak melulu memandang seni jalanan sebelah mata," pungkasnya.

Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top