Permintaan Daging Kelinci Tinggi, Pemkot Batu Bantu Kembangkan Indukan

Salah satu kelinci hibrida yang dikembangkan di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu kelinci hibrida yang dikembangkan di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Permintaan daging kelinci di Kota Batu tak pernah surut untuk memenuhi konsumen yang menyantapnya sebagai kuliner. Karena itu, agar daging kelinci tetap melimpah, Pemkot Batu bakal membantu para peternak menambah populasi hewan tersebut.

Salah satu caranya dengan menambah 108 ekor indukan kelinci di Balai Kota Among Tani. Dengan penambahan populasi ini, Pemkot Batu tentunya juga mendirikan kandang khusus kelinci di Balai Kota Among Tani.

Kandang kelinci itu dibangun pada tahun 2017 silam dengan anggaran APBD 2017 sebesar Rp 193 juta. Kandang itu memiliki luas 5 x 15 meter. “Nantinya bangunan ini akan fungsikan tahun ini. Kandang ini mampu memuat 200 ekor kelinci. Namun untuk tahap awal, baru akan diisi 108 ekor terlebih dahulu,” ungkap Kepala Seksi Bina Produksi dan Pemasaran Peternakan Dinas Pertanian Kota Batu Alfas Fatrus Akbar, Selasa (17/4/2018).

Ia menambahkan, salah satu faktor peternak kelinci belum bisa memenuhi pasar karena angka kematian kelinci. Yakni sekitar 1 persen hingga 5 persen. Sedangkan angka kelahiran 2 persen.

“Angka kematian kelinci masih tinggi. Namun masih dalam batas kewajaran. Karena itu, Pemkot Batu juga memberikan bantuan untuk menekan angka kematian dan memenuhi permintaan,” imbuh Alfas.

Sementara itu, Masyhuri Azhar, peternak kelinci di Desa Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, menjelaskan wisatawan banyak yang tertarik mengonsumsi daging kelinci Kota Batu karena tekstur ketika dimakan sangat lembut. Wisatawan juga suka kelinci usia muda karena rasanya lebih manis.

Apalagi peminat daging kelinci ini didominasi oleh orang lanjut usia hang menginginkan dagingnya halus. "Wisatawan itu suka dengan kelinci Batu karena  rasa dagingnya manis, tekstur daging lembut. Beda lagi kalau di kota lainnya," ucap Azhar.

Permintaan kelinci bisa mencapai 30 kilogram per hari. Sedangkan untuk 30 kilogram daging sama dengan 12 kelinci hibrida. Harga kelinci ini per kilorgam Rp 40 ribu. Kelinci yang bisa dijual untuk pedaging harus berusia 3 bulan.

Dalam beternak kelinci pedaging, salah satu kendala utama adalah penyakit perut kembung dan diare. “Dua penyakit ini selalu menjadi momok dalam beternak kelinci di Desa Bumiaji,” tutup Azhar. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top