Teringat Selebtwit yang Bangga dengan Tatonya

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Pagi masih terlihat perawan,  begitu sedap dipandang mata dan dihidu aromanya. Apalagi ditemani kopi yang dibuat dengan rekah senyum ceu Imas yang bersaing kesegarannya dengan pagi. "Tumben cak,  pagi bener sudah mampir. Untung saya sudah mandi ini, " kata Ceu Imas yang rambutnya masih terlihat basah. 

Saya hanya bisa tersenyum dan menatap sepuasnya keindahan ciptaan Tuhan di pagi ini. Sebelum,  jurus mabuk di pagi hari meluncur dari mulut saya untuk ceu Imas, Sokib si peramal togel tiba-tiba datang. Menyodorkan kertas ukuran A4 (siapa ya dulu yang membuat ukuran kertas? ada F4, A4 dan lainnya) yang sudah terlihat lecek. 

"Ikut yuk cak, " ujarnya sambil memesan segelas kopi yang aromanya menurut Sukir seniman desa yang lama menghilang entah kemana, seharum tubuh perempuan terkasih setelah mandi pagi. 

Dengan enggan saya terima kertas lecek yang saya kira oret-oretan angka togel. Saat saya baca,  ternyata acara hapus tato gratis yang dilaksanakan oleh media online MalangTIMES bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Islamic Medical Service (IMS) dan Mall Dinoyo City. 

"Kamu ikut Kib, tubuh loe dah kaya poster berjalan. Mumpung gratis,  kalau gue kan polosan ini tubuh. Gih sana daftar kalo bayar sendiri mencret loe " ujarku setengah ngusir. 

Tapi,  entah ingatan yang mana,  tetiba saat nyeruput kopi, saya terbayang seseorang. Wanita berusia sekitar 30 an,  mapan, cantik tentunya,  serta begitu eksis di medsos. Terutama twitter yang dulu menjadi tempat baru bagi orang-orang yang jenuh dengan ruang Facebook. Berbagai keunggulan fisik dan bejibunnya follower di twiter serta twitnya yang sangat berani mengenai berbagai hal,  terutama tentang tema-tema tabu. Menjadikan dirinya salah satu selebtwit. 

Keselebannya tersebut,  terkadang membuatnya amat sangat pilih-pilih dalam memfolbek pengikutnya. Dilalah entah karena apa dan perhitungan yang bagaimana,  dirinya menjadi pengikut saya di twitter. 

"Pasti seneng ya difollow artis cak?, " tanya Sokib. "Biasa aja Kib, aku malah seneng kalau yang jadi pengikutku Ceu Imas, " ujarku sambil tertawa. 

Pertanyaan Sokib sama dengan teman-temanku dulu. Padahal sumpah saya tidak punya perasaan seneng atau bahkan sejajar dengannya saat dia jadi pengikutku. "La awalnya gimana kok bisa dia follow loe cak, " tanya Sokib lagi. 

Awalnya dari keisengan cuitan saya tentang tato. Tato yang menempel erat di tubuh si selebtwit dan kerap dia upload di twitternya. Ada gambar kupu-kupu yang menclok tepat di atas (maaf) payudaranya, tribal rumit di paha mulusnya dan berakhir di kain bernama celana yang dipakainya. Atau gambar burung phoenix di punggungnya. "Wiiihh keren banget kak..., " cuitku,  waktu itu. 

"Eh penyuka tato juga ya?" balasnya. 

Tanggung iseng,  saya lanjutkan iseng lanjutan. "Suka banget kak.. Banyak juga gambar nih di tubuh," yang langsung dibalas dengan follow. 

Sejak itu kerap kami saling cuit di medsos,  terkadang nyambung ke telepon. "Dasar penggoda, " cetus Ceu Imas tiba-tiba. Tato yang sering jadi bahan obrolan kami. Padahal sumpah pengetahuan saya tentang tato cetek banget. La wong pengalaman tato saya cuma hanya tato temporal itu pun pake bahan alami. Tiga hari ilang di tubuh yang berkulit tidak putih dan mulus ini. 

Konon, tato sudah ada sejak tahun 53 SM di masyarakat Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Saat itu tato merupakan penanda penuh makna bagi pemiliknya. Baik sebagai penanda salah satu suku sampai pada profesi. Sampai pada simbol keseimbangan alam. Sikerei atau pemimpin adat suku asli Mentawai biasanya bertato bintang sibalu-balu. Para pemburu biasanya merajah tubuhnya dengan gambar binatang hasil tangkapan. Seperti babi, buaya,  burung,  harimau dan lainnya. 

"Kalau Ceu Imas hidup di sana,  tatonya cangkir kopi dan sendok ya cak, " ucap Sokib yang langsung dapat pendelikan mata bola pingpongnya ceu Imas. 

Ada nilai luhur penuh filosofi dalam tato saat itu. Nilai ini yang diwariskan turun temurun sejak mereka masih berumur sekitar tujuh tahun. "Jadi mereka bertato bukan untuk sensasi waktu itu, " ucap si selebtwit. 

"La kok kamu bertato terlihat untuk cari sensasi kak, " tanyaku waktu itu. Yang dijawabnya dengan emotion orang tertawa. 

Usut punya usut, kenapa dia begitu doyan berpose di medsos dengan tatonya dikarenakan sebagai simbol perlawanan terhadap stigma masyarakat tentang pemakai rajah. Di era Orde Baru, tato adalah simbol kejahatan yang wajib diberantas di bumi pertiwi. Maka lahirlah Petrus yang nembaki para pemilik tato di sekitar tahun 1980-an. 

"Habis petrus masyarakat di dorong kebatas paling tepi terhadap orang bertato itu penjahat, sampah masyarakat. Ini yang gue lawan dengan mengekspos tato di tubuhku, " ujar si selebtwit. Dia melanjutkan,  omong-omong kok loe jarang sih ekspos tatomu. "Ayo dong aku pingin liat, " pintanya. 

Kalangkabutlah saya yang memang tidak bertato ini. Akhirnya dengan bantuan photoshop,  saya buat tempelan gambar di foto saya. Tepat di bahu dengan gambar wajah tokoh kartun monkey d lufy dalam film animasi One Piece. 

"Haahh.. Tato kartun? Umur loe berapa. Kok tato kartun, " kagetnya si selebtwit. Setelah itu unfollow lah dia terhadap saya. 

*Penikmat kopi lokal gratisan

Editor : .
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top