Partisipasi Warga Rendah, Bank Sampah Masyarakat Kota Malang Masih Merugi

Kepala Bidang Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang Rahmat Hidayat menunjukkan plastik cacahan di BSM Sukun. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kepala Bidang Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang Rahmat Hidayat menunjukkan plastik cacahan di BSM Sukun. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keberadaan program Bank Sampah Malang (BSM) masih belum sepenuhnya diminati masyarakat Kota Malang. Padahal, boleh dibilang program yang banyak diadaptasi daerah lain itu pertama kali tercetus di kota ini. 

Kepala Bidang Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Rahmat Hidayat mengatakan partisipasi warga untuk turut serta dalam program tersebut masih belum menyeluruh. Padahal, BSM merupakan salah satu upaya untuk mengurangi masalah sampah perkotaan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dari sampah. 

Menurut Rahmat, masyarakat memiliki peran besar terhadap eksistensi bank sampah yang telah berdiri sejak tahun 2011 lalu. Sehingga partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. "Secara hitungan ekonomi kami merugi, karena BSM harus banyak mengeluarkan biaya operasional untuk mengangkut sampah dengan armada yang terbatas," ujarnya saat ditemui di kantor BSM Sukun, Kota Malang. 

Selama ini, lanjut Rahmat, kendala BSM adalah terkait tenaga/SDM dan fasilitas seperti alat angkut sampah dan gudang sampah. Apalagi BSM kini masih berbadan hukum koperasi atau swasta. Sehingga pengelolaannya secara mandiri. "Selain itu, kami juga harus terus memberikan pengetahuan pada masyarakat tentang bagaimana memilah sampah. Sebab sampah punya nilai ekonomis jika sudah dipilah," imbuh Rahmat.

Rahmat menjelaskan, warga yang tergabung dalam BSM kini baru 10 persen dari total warga Kota Malang. Saat ini, tercatat ada sebanyak 30 ribu nasabah bank sampah. Dari jumlah itu, 80 persen nasabah merupakan warga Kota Malang. "Sisanya, 20 persen lainnya warga Kabupaten Malang dan Kota Batu," kata pria yang juga menjadi penasehat BSM ini.

Dari 30 ribu nasabah tersebut, rinciannya terdiri dari 581 unit milik masyarakat, 260 unit bank sampah sekolah, 80 unit bank sampah milik instansi, 25 orang pemulung, serta 1.422 nasabah individu. "Setiap hari kami mengolah 5 ton sampah dari nasabah. Itu jumlah yang cukup besar dan membuktikan kalau masyarakat bisa punya peran besar dalam pengelolaan sampah," paparnya.

"Jika masyarakat punya rasa memiliki terhadap bank sampah, harapannya program ini berkelanjutan. Karena bank sampah ini cikal bakal masyarakat bisa peduli terhadap lingkungan," tutur Rahmat. Untuk itu, saat ini DLH Kota Malang masih melakukan kajian tentang bagaimana menjadikan BSM sebagai bagian dari pemerintah.

Wacana itu dimunculkan agar nantinya BSM bisa dibentuk menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) di masing-masing kecamatan. "Target kami setiap kecamatan ada cabang bank sampah. Selama ini kendalanya keterbatasan tenaga dan gudang sampah. Jika di masing-masing kecamatan ada cabangnya, maka pengelolaan bank sampah lebih efisien," pungkas Rahmat.

Editor : A Yahya
Publisher : Zaldi Deo

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top