Merawat Tradisi Toleransi, Pemkot Malang Tunda Perayaan Hari Jadi Kota

Bangunan Gereja GPIB Immanuel dan Masjid Agung Jamik Kota Malang yang berdiri berjajar sejak sekitar tahun 1800-an merupakan salah satu simbol toleransi yang dirawat turun-temurun. (Foto: Iim Hardian/MalangTIMES)
Bangunan Gereja GPIB Immanuel dan Masjid Agung Jamik Kota Malang yang berdiri berjajar sejak sekitar tahun 1800-an merupakan salah satu simbol toleransi yang dirawat turun-temurun. (Foto: Iim Hardian/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Setiap tahun, Kota Malang merayakan hari jadi pada 1 April. Tapi pada peringatan ke-104 tahun ini, ada yang berbeda. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memilih menunda perayaan hari jadi kota. Dasarnya, untuk merawat tradisi toleransi yang telah berlangsung turun-temurun. 

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Wasto mengungkapkan, penundaan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT)  Ke-104 Kota Malang tersebut karena pada 1 April, bertepatan dengan hari Minggu Paskah. "Jadi, sebagai bentuk toleransi dalam rangka Paskah, rangkaian kegiatan perayaan hari jadi ini diundur, tidak pas tanggal 1 April," ujar Wasto. 

Wasto mengurai, kegiatan yang dilangsungkan Pemkot Malang relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari rapat paripurna istimewa, upacara hari jadi, dan juga gelaran doa bersama. "Karena diundur, upacaranya baru dilaksanakan hari Selasa (3/4/2018) karena Senin (2/4/2018) itu ada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Malang," ujarnya. 

Selain itu, Senin malam juga bakal digelar acara doa bersama. "Yang juga rangkaian HUT Kota Malang, Senin malam ada istighotsah di depan balaikota," terang Wasto. Doa bersama itu, lanjut dia, agar Kota Malang terus terjaga dari berbagai ancaman baik dari luar maupu dari dalam. Terlebih memasuki tahun politik, doa bersama juga dipanjatkan agar situasi Kota Malang tetap kondusif. 

Seperti diketahui, umat Kristen Katolik di seluruh dunia tengah menjalani rangkaian Hari Raya Paskah. Kamis (29/3/2018) kemarin, menjadi awal dimulainya Tri Hari Suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung (30/3/2018), malam Paskah pada Sabtu (31/3/2018) dan Minggu Paskah (1/4/2018).

"Kami juga berupaya merawat tradisi toleransi yang sudah turun-temurun. Di Kota Malang ini, semua umat beragama dapat hidup berdampingan dengan damai," terangnya.

Salah satu simbol kerukunan antar umat beragama dan tradisi toleransi itu yakni keberadaan Masjid Agung Jamik Kota Malang yang berdiri berdampingan dengan Gereja GPIB Immanuel di sisi barat Alun-Alun Kota Malang. 

Wasto menegaskan, kebijakan Pemkot Malang tersebut juga akan berlaku jika pada saat HUT Kota Malang bertepatan dengan perayaan keagamaan lain. "Kalau keagamaan yang lain juga akan ditunda, karena kan menghargai dan toleransi antar umat beragama. Biar mereka juga melaksanakan ibadahnya dengan khusuk. Sejauh itu agama yang diakui negara tentu akan kami sikapi yang sama," paparnya.

Pada peringatan tahun ini, lanjut Wasto, Pemkot Malang mengangkat tema 'Bertumbuh Melayani'. "Filosofinya, Kota Malang ini masih akan terus tumbuh menjadi kota besar, yang penting agar tumbuh dengan baik adalah seluruh komponen pemerintahan mau melayani dengan maksimal agar rakyatnya makin sejahtera," tegasnya. 

Selain itu, untuk menyemarakkan perayaan tersebut Pemkot Malang juga mengajak warga berpartisipasi. Misalnya dengan mengadakan kegiatan kerja bakti bersih-bersih di lingkungan masing-masing agar tampak lebih bersih dan sehat. "Kami ajak juga pada Senin besok semua ASN (aparatur sipil negara) maupun non ASN untuk mengenakan pakaian Malangan atau pakaian tempo dulu," pungkasnya. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top