Lagi-Lagi Demo Angkutan Umum (2)

Angkutan Umum Gelar Demo, Begini Reaksi Netizen

Ilustrasi demo angkutan umum yang berlangsung di Kota Malang
Ilustrasi demo angkutan umum yang berlangsung di Kota Malang

MALANGTIMES - Aksi demonstrasi yang sedianya digelar ribuan sopir angkutan umum hari ini (14/3/2018) mendapat sejumlah reaksi dari warganet atau netizen. Ada yang menunjukkan simpatinya, ada yang justru antipati, dan ada pula yang menyampaikan saran solusi. 

MalangTIMES merangkum sebagian unggahan warga Malang Raya yang terkait aksi besar-besaran yang rencananya melibatkan sekitar 1.000 peserta itu. Misalnya tiga unggahan di grup Facebook Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) yang beranggotakan 437 ribu akun itu. 

1. Kirim Surat Terbuka Buat Sopir Angkot 

Akun milik Roswell Rumkey mengirim sebuah unggahan di grup tersebut yang tampaknya merupakan curahan hati (curhat) seorang penumpang untuk sopir angkutan kota (angkot). Hingga pagi ini, tulisan tersebut sudah mendapat banyak komentar, termasuk kembali dibagikan oleh member sekitar 70 kali. Begini isinya.

Abang angkot yang baik, sebenernya apa sih yang abang takutin dari ojek online? Abang pikir karena penghasilan abang berkurang? Abang lupa ya waktu penumpang minta cepet-cepet angkot abang jalan, terus jawaban abang apa? "Kalau mau cepet naik mobil sendiri," nah sekarang doa abang dikabulin Tuhan. Kita pakai jasa online mobil serasa mobil sendiri dan cepet lagi. 

Dan Abang sadar nggak yang paling sadisnya lagi? Waktu penumpang di angkot abang cuma sendirian? Abang turunin tuh penumpang di tengah jalan tanpa abang peduliin keselamatan penumpang itu, terus abang minta pula ongkosnya. Nah sekarang Tuhan kirimin ojek online yang nganterin penumpang sampai tujuan. Terus kenapa abang cemburu? 

2. Bagi Pendapat Soal Konsep Angkot Halokes alias Angkot Sekolah 

Akun milik Achmad Doni juga menyampaikan pendapat soal keberadaan angkot di Malang Raya. Dia menuliskan serangkaian saran bagi pihak Organisasi Angkutan Daerat (Organda) yang membawahi angkot, dinas pendidikan (diknas), dinas perhubungan, DPRD, dan pemerintah. 

Dalam unggahan berjudul Urun Rembug itu, Achmad Doni menuliskan soal pengembangan konsep Angkot Halokes berbasis aplikasi. Tujuannya, untuk mengurangi angkot ngglondang alias kosong tanpa penumpang, maupun nge-tem alias menunggu penumpang di jalanan yang membuat macet. 

Selain itu, juga diharapkan hal tersebut dapat mengurangi potensi gejolak antara sopir angkot dan transportasi online atau berbasis aplikasi. Dengan penerapan itu, juga mendorong keteraturan lalu lintas.

Untuk Organda, tertulis empat saran. Yang pertama, harus ada perbaikan fisik sehingga nyaman. Juga aturan perilaku mengemudi, antrian, dan lain-lain. Pengusaha dan sopir angkot juga bisa melengkapi dengan GPS dan aplikasi gadget untuk mengatur antrian dan rute supaya tidak menumpuk di satu titik dan menimbulkan kemacetan. 

3. Alasan Penumpang Beralih dari Angkutan Konvensional

Akun milik Ismojo membeber soal penyebab utama berpindahnya masyarakat pada transportasi berbasis aplikasi dari angkutan konvensional. Dia menekankan pentingnya kebijakan pihak eksekutif yakni pemerintah daerah dan legislatif yakni DPRD. 

Kedua pilar pemerintahan tersebut, menurut Ismojo musti meletakkan standar pelayanan masyarakat yang lebih tinggi atau lebih baik. Sehingga, orang merasa nikmat dalam menaiki angkutan umum. Dia juga merinci standar pelayanan yang lebih baik.

Di antaranya, mobil angkutan umum harus laik jalan. Kriterianya, jendela harus bisa ditutup supaya penumpang tidak basah di waktu hujan. Lalu isolator atau dudukan jok depan harus baik sehingga penumpang tidak kepanasan saat duduk. Dia juga meminta agar angkot maksimal hanya diisi sepuluh penumpang. Sebab selama ini rata-rata maksimal 13 penumpang dengan satu tambahan kursi di bagian belakang dan dua kursi tambahan di samping pintu. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top