Kemas Puisi dalam Alunan Akustik, Kerabat Swara Launching Dua Album Baru

Kerabat Swara saat memainkan lagu-lagu dalam dua album barunya di Kafe Pustaka UM (Foto: Pelangi Sastra Malang for MalangTIMES)
Kerabat Swara saat memainkan lagu-lagu dalam dua album barunya di Kafe Pustaka UM (Foto: Pelangi Sastra Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Denyut nadi almarhumah sastrawan kenamaan Ratna Indraswari seakan terasa kembali, tatkala puisi karyanya berjudul Gerakan dengan syahdu dibacakan oleh vokalis Kerabat Swara, Antok Yunus di Kafe Pustaka, Universitas Negeri Malang (UM).

Cobalah masuk, katanya sambil menyorong kursi. Kulihat di sini ada berbagai macam topeng. Kau pakai yang mana, tanya. Secara serentak topeng itu melakukan satu salinan diri yang beraneka ragam. Sehingga aku tak tahu pasti ke mana arahmu berputar. Sambil bernyanyi bersama topeng kau benahi kamar ini. Udara di luar bercak putih tertawa menggulung diri. Lantas kau bilang kau tinggal pilih yang mana, yang terbaik untukmu.

Puisi berjudul Gerakan karya sastrawan kenamaan Ratna Indraswari Ibrahim tersebut dibawakan dengan syahdu oleh Kerabat Swara. Vokal milik Antok Yunus berpadu dengan denting gitar akustik, menghanyutkan puluhan penikmat musik yang hadir di Kafe Pustaka, UM kemarin malam (9/3/2018). 

Bertepatan dengan hari musik tersebut, grup musik asli Malang, Kerabat Swara meluncurkan dua album sekaligus. Album berjudul Kisah Kopi dan Kisah Penyair tersebut, sebagian besar menyanyikan puisi. Selain puisi gerakan, lagu dari puisi Batu-Batu Kepala karya Dewi Nurhalizah dan Iyo Tah karya Subagyo juga disajikan.

Kerabat Swara yang digawangi Antok Yunus, merupakan 'anak' dari kelompok musik Swara Akustik. "Swara Akustik ini terdiri dari saya dengan vokalis Abia Kana. Karena Abia saat ini tengah hidup di Jakarta maka proses kreatif Swara tetap berlanjut  dengan melibatkan musisi-musisi muda," ujar Antok Yunus. 

Dalam kelompok Kerabat Swara tentu ada perbedaan dari Swara. Di Kerabat Swara ini Antok Yunus berada di vokal sekaligus gitar melodi dan mengajak anak-anak muda untuk gabung di antaranya ada Virga, Hamdan dan Ucup. "Kami awalnya dipertemukan di Kafe Pustaka. Juga beberapa kali berkolaborasi mengisi acara-acara sastra dan seni," terangnya. 

Di sela-sela tampil Antok Yunus mengatakan bahwa aliran musik yang dibawakan tidak terkotak pada satu genre tertentu. "Tidak ada batasan genre. Itu bisa didengar di lagu-lagu kami, ada balada, blues, rock n roll. Sepasnya kami saat memadukan antara nafas puisi dengan musiknya," terangnya.

Bersentuhan dengan lintas seni hal yang biasa dilakukan oleh Antok Yunus dan kelompoknya, bahkan secara personal. Jadi bukan hal yang baru ketika puisi dipertemukan dengan musik. Dengan Swara Antok Yunus dan Abia Kana pernah membuat album yang keselurhan dari puisi Tengsoe Tjahjono dan pernah juga menyanyikan puisi-puisi Ragil Sukriwul.

Selain penampilan Kerabat Swara, ada beberapa solois dan kelompok musik menemani peluncuran album tersebut. Yakni Han Farhani, Harmoniora, Seruni, Mega Puspitaningrum dan B 6A J. Acara peluncuran yang dimulai sore hari hingga malam hari berlangsung dengan suasana yang hangat dan akrab. 

Penyair Tengsoe Tjahjono juga turut hadir dan memberi sambutan. Menurutnya, perjumpaan musik dan sastra harus terus diramaikan. "Tak hanya musik dan sastra, tetapi lintas seni bertemu menjadi karya-karya baru saling menginspirasi," ujar dosen Unesa yang tinggal di Sawojajar, Kota Malang itu.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top