Satu dari Tiga Anak Indonesia Alami Gangguan Pertumbuhan hingga Negara Rugi Rp 300 Triliun, Apa Peran Kota dan Kabupaten Malang?

Ilustrasi anak-anak yang tengah bermain di Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang. Risiko stunting cukup tinggi di lingkungan masyarakat berpenghasilan rendah. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi anak-anak yang tengah bermain di Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang. Risiko stunting cukup tinggi di lingkungan masyarakat berpenghasilan rendah. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Selain gizi buruk, masalah yang menjadi momok alias menghantui anak-anak di Malang Raya adalah stunting. Stunting merupakan kondisi saat seorang anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya.

Bukan hanya merugikan individu dan keluarga. Tingginya angka stunting secara nasional juga merugikan negara sebesar Rp 300 triliun per tahun.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) RI pun berupaya menurunkan dan mencegah stunting. Salah satunya dengan melakukan uji coba modul berjudul Pelibatan Ayah dalam Pencegahan Stunting. "Malang kami pilih sebagai lokasi uji coba karena baik pemerintah kota dan kabupatennya berkomitmen untuk menjadi kota/kabupaten layak anak," ujar Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan KPPPA Lenny N. Rosalin. 

"Pada 2017 kemarin, dua daerah ini mendapatkan penghargaan dalam penanganan gizi anak. Tetapi sebenarnya masih banyak masalah di lapangan yang harus ditangani," tambahnya saat ditemui saat konferensi pers di Harris Hotel, Rabu hari ini (7/3/2018). 

Uji coba yang bakal digelar pekan ini, lanjut Lenny, melibatkan pekerja profesional Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dari Provinsi Jawa Timur, Jawa tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Tangerang dan Depok. "Kami juga melibatkan unsur daerah yakni pusat studi dan akademisi dari Kabupaten Malang, dinas kesehatan, kementerian agama dan kementerian lain yang terkait," ucapnya. 

Bekerja sama dengan Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia, uji coba tersebut menitikberatkan pada fungsi relasi orang tua atau ayah dan ibu yang setara dalam memperhatikan asupan gizi anak.  Sebab, secara nasional, di Indonesia, satu dari tiga anak mengalami stunting. Indikasinya yakni gangguan pertumbuhan fisik dan kecerdasan akibat kurang gizi sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

"Efek jangka panjangnya, anak stunting mengalami penurunan produktivitas karena kemampuan fisik dan kognitifnya kurang. Akhirnya berpotensi mendapat penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh optimal," ujar Direktur Inklusi Sosial dan Gender MCA Indonesia Dwi Rahayu Yuliawati Faiz.

Perempuan yang disapa Yulia itu menerangkan bahwa penyebab stunting tidak hanya kurangnya asupan gizi. Pengasuhan anak yang kurang baik serta minimnya layanan informasi bagi ayah dan ibu merupakan faktor penting penyebab stunting. "Studi yang dilakukan MCA Indonesia menunjukkan peran ayah masih rendah dalam pengasuhan anak di Indonesia. Padahal, keterlibatan ayah sangat berpengaruh pada pertumbuhan, kecerdasan dan perkembangan emosi anak," paparnya. 

Modul yang akan diujicobakan mencakup langkah-langkah praktis yang harus dilakukan ayah pada berbagai tahapan. Yakni mulai masa kehamilan ibu, pemberian ASI ekslusif, hingga anak tumbuh besar. "Gerakan ini diterapkan di seluruh indonesia tanpa terkecuali. Lokasi penyusunan modul di Malang, setelah itu informasi akan disebarluaskan pada semua pihak," pungkasnya. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top