Bola Panas SMPN 4 Kepanjen Terus Menggelinding (5)

Uang Jasa 30 Juta Rupiah, Kasek: Itu Saya Ngetes Komite Saja

Kepala SMPN 4 Kepanjen Suburyanto memperlihatkan berbagai bukti dirinya tidak seperti yang disangkakan eks komite sekolah yang dinonaktifkan. (Nana)
Kepala SMPN 4 Kepanjen Suburyanto memperlihatkan berbagai bukti dirinya tidak seperti yang disangkakan eks komite sekolah yang dinonaktifkan. (Nana)

MALANGTIMES – Adanya uang jasa sebesar Rp 30 juta yang menurut Ketua Komite SMPN 4 Kepanjen (non-aktif) Sugijanto Basoeki diminta Kasek Suburyanto untuk diberikan kepada pihak yang telah membantunya pindah kembali ke sekokah ternyata hanyalah gertak sambal.

Begitulah yang disampaikan Suburyanto kepada media mengenai polemik yang membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Malang merespons isu tersebut secara keras melalui Kepala Dinas M. Hidayat. “Itu hanya gertak saya saja. Ngetes komite agar saya bisa melihat berapa jumlah saldo yang ada di rekening yang tidak diberitahukan kepada saya walau saya berkali-kali memintanya,” kata pria yang disapa Subur itu.

Jawaban Subur tersebut dikarenakan rasa jengkelnya terhadap proses keuangan di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya sejak dia kembali menjabat sebagai kepala SMPN 4 Kepanjen sejak awal 2018. Dia menegaskan, Rahmad (kasek yang digantikannya, red) sejak pindah sampai sekarang belum memberikan laporan keuangan sekolah kepada dirinya. Pun, komite sekolah terkesan membela Rahmad.

Surat untuk Bupati Malang dari Komite SMPN 4 Kepanjen mengenai Suburyanto (Nana)

“Maka saat itu saya sampaikan ke komite untuk meminjam uang sebesar Rp 30 juta buat keperluan pribadi. Tapi komite menolaknya. Ya sudah. Namanya rencana pinjam tapi ditolak, ya nggak apa-apa,” ujarnya. Saat didesak uang tersebut untuk keperluan apa, Subur tidak berkenan menjawabnya.

Pernyataan Subur tersebut bertolak belakang dengan surat Sugijanto yang dikirim kepada bupati Malang dengan nomor 12/Ext/Komite/II/2018 perihal konflik di SMPN 4 Kepanjen. Dalam surat tersebut tertulis bahwa, “...meminjam dana sebesar 30 juta guna kepentingan pribadinya sebagai tanda terima kasih kepada pihak yang membantu proses pemindahannya,”.

Ngetesnya Subur ternyata menjadi bola panas di tingkat Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Sebab, secara langsung ataupun tidak langsung, asumsi kalimat dalam surat Sugijanto akan mengarah kepada dinas yang menaungi pendidikan di Kabupaten Malang tersebut. M. Hidayat, kepala Disdik Kabupaten Malang, bahkan sempat menyampaikan pernyataan, “Mati kafir kalau menerima uang tersebut".

Aliran dana jasa perpindahan kepala sekolah ini tentunya menjadi salah satu alarm bagi dunia pendidikan di Kabupaten Malang. Walaupun Subur menyatakan permintaan atau rencana peminjaman uang tersebut hanya untuk urusan pribadi, ternyata dari surat komite yang dinon-aktifkan, redaksi urusan pribadinya tersebut mendapatkan penjelasan yang lebih terinci.

“Karena itu, siapa pun yang bermain di sini, saya akan tindak tegas. Saya tidak main-main dengan persoalan ini,” tegas Dayat, panggilan kadisdik Kabupaten Malang, kepada MalangTIMES.

Konflik tersebut, masih menurut Subur, tidak membuatnya seperti yang dituduhkan oleh komite sekolah yang diberhentikan sebelum masa jabatannya selesai itu (periode jabatan 2017-2020, red). Dirinya dengan tegas mengatakan tidak melakukan pemecatan dengan adanya konflik tersebut. “Pemberhentian mereka atas dasar rapat perwakilan orang tua kelas 7 sampai 9 dengan jumlah 33 orang. Mereka juga yang melakukan pemilihan komite sekolah baru. Sesuai regulasi, saya sebagai kasek hanya mengesahkan proses yang telah dilalui perwakilan orang tua murid saja. Ditambah mereka memang tidak mendukung program sekolah,” terangnya.

Saat disinggung mengenai iuran yang disampaikannya kepada komite, baik untuk liburan para guru dan keluarga ke Lombok serta rencana menaikkan gaji guru tidak tetap (GTT) dan PTT serta kesejahteraan guru dengan total anggaran sebesar Rp 600 juta, Subur membenarkannya.

“Saya meihat gaji GTT dan PTT sejak saya jadi kasek di sini sampai saya kembali ke sini lagi masih sama. Ini yang membuat saya menyampaikan adanya perubahan gaji GTT dan PTT kepada komite. Kalau urusan liburan, kami sudah bosan, Mas. Apa yang saya sampaikan untuk para guru dan murid juga,” ujarnya. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top