Camilan Kekinian Ini Ternyata Bikinan Mahasiswa Malang

Selebgram Inas Rana mencicipi kelezatan Camilan Kang Kabayan. Camilan ini merupakan produk mahasiswa Malang Dimas Eka dan sang kawan Miftahul Huda (foto: www.instagram.com/cemilankangkabayan)
Selebgram Inas Rana mencicipi kelezatan Camilan Kang Kabayan. Camilan ini merupakan produk mahasiswa Malang Dimas Eka dan sang kawan Miftahul Huda (foto: www.instagram.com/cemilankangkabayan)

MALANGTIMES - Pernah merasakan nikmatnya camilan makaroni dengan bungkus kece? Atau pernah mendengar nama Kang Kabayan pada bungkus camilan? Camilan itu merupakan besutan mahasiswa Malang lho. 

Dia adalah Dimas Eka Pratama. Mahasiswa magister manajemen Universitas Merdeka Malang itu memulai usaha aneka camilan sejak menempuh studi jenjang sarjana di Universitas Brawijaya. Awalnya usaha ini merupakan ide dari sang teman, Miftahul Huda.

"Jadi usaha ini udah mulai tahun 2010 pendirinya awalnya Miftahul Huda yang ada di Tasikmalaya. Saya dan Miftah ini satu organisasi UKM Mahasiswa Wirausaha di Brawijaya. Awalnya dia produksi untuk pasar anak sekolahan, jdi kemasan masih pakai plastik kecil yg dibuat sesuai ukuran harga 500, 1000, dan 2000," cerita Dimas kepada MalangTIMES. 

Kang Kabayan adalah produk aneka camilan seperti makaroni, sosreng, basreng, seblak, nugget, morling, tahu bulat. Camilan yang mulanya menyasar segmen anak sekolah kini tampil beda. 


Mahasiswa Malang Dimas Eka Pratama (foto: Dimas for MalangTIMES) 

"Akhirnya saya diberi kewenangan buat ngembangin produk camilannya ke yang lebih premium dengan memproduksi kualitas cemilan yang lebih baik, kemasan yang lebih menarik, segmen pasarnya dikembangin dari yang awalnya hanya sebatas untuk anak sekolahan sekarang lebih ke segmen mahasiswa dan pekerja," papar Dimas. 

Perluasan market itu dimulai pada tahun 2016 lalu. Dimas mengatakan sistem penjualan adalah offline dan online. Untuk offline, produk cemilan di pasarkan di warung dan minimarket. "Untuk online melalui media sosial Instagram," kata pria berusia 23 tahun ini. 

Dimas mengatakan lantaran menyasar pangsa pasar mahasiswa, harga yang ditawarkan terbilang tidak semurah bila dijual di sekolah-sekolah. "Untuk harga camilan akhirnya kita patok di kisaran harga mulai sembilan ribu rupiah," sambungnya.

Camilan yang produksinya berada di Tasikmalaya itu dalam satu bulan mampu terjual hingga 5000 bungkus. "Pasar masih banyak Jawa dan beberapa juga sudah mulai ke Kalimantan," tukas Dimas. (*)

Editor : Heryanto
Publisher : Zaldi Deo

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top