Hati-Hati, Izin Edar Albothyl Dibekukan BPOM tapi Produknya Masih Beredar di Kota Malang

Obat merek Albothyl yang telah dibekukan izin edarnya oleh BPOM RI masih ditemui di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Obat merek Albothyl yang telah dibekukan izin edarnya oleh BPOM RI masih ditemui di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk sementara membekukan izin empat obat tetes yang kerap dimanfaatkan untuk mengobati sariawan. Namun nyatanya, produk-produk tersebut masih beredar di Kota Malang, baik di apotek-apotek maupun di toko-toko modern. 

Empat obat yang disinyalir berbahaya tersebut yakni Albothyl dan Medisio produksi PT Pharos Indonesia, Prescotide produksi PT Novel Pharmaceutical Laboratories, serta Aptil produksi PT Pratapa Nirmala. Merek-merek itu merupakan cairan obat luar konsentrat yang mengandung zat policresulen. 

Dalam rilis resmi yang ditayangkan kemarin (15/2/2018), Humas BPOM Nelly L. Rachman menjelaskan bahwa pihaknya membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui. "Untuk produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama," ujar Nelly.

Untuk diketahui, Albothyl merupakan obat bebas terbatas. Bentuknya berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik (menghentikan pendarahan) dan antiseptik (penghambat peradangan) pada saat tindakan pembedahan. Penggunaannya pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi).

Terkait pemantauan Albothyl, lanjut Nelly, dalam dua tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan. Mereka menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan. "Di antaranya efek samping serius, yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lession)," paparnya.

Nelly menyebut bahwa BPOM RI secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat beredar di Indonesia melalui sistem farmakovigilans. Hal itu untuk memastikan bahwa obat beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu. "Kami mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut," tegasnya. 

Selanjutnya, BPOM RI juga menginstruksikan PT Pharos Indonesia sebagai produsen Albothyl dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen untuk menarik obat dari peredaran. "Selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkannya surat keputusan pembekuan izin edar atau per 15 Maret mendatang," paparnya. 

BPOM RI pun sebelumnya telah melakukan kajian bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi sebelum merekomendasikan putusan pembekuan izin edar itu. "Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain," imbaunya. 

Obat yang dimaksud yakni yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1 persen, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. "Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat," terangnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan MalangTIMES, hingga saat ini obat tersebut masih beredar di Kota Malang. Salah satunya di salah satu toko modern di Jalan Husni Tamrin. "Belum tahu ada edaran itu," ujar Elva, salah satu pegawai toko itu. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top