Hari Pertama Kampanye, Nanda dan Wanedi Lakukan Kegiatan Berbeda, Apa Saja?

Calon Wakil Wali Kota Malang, Ahmad Wanedi saat bersalaman dengan peserta Uji Kompetensi tenaga ahli dan terampil kontruksi (istimewa)
Calon Wakil Wali Kota Malang, Ahmad Wanedi saat bersalaman dengan peserta Uji Kompetensi tenaga ahli dan terampil kontruksi (istimewa)

MALANGTIMES - Mengawali masa kampanye, pasangan calon Wali Kota Malang Ya'qud Ananda Gudban dan Wakil Wali Kota Malang Ahmad Wanedi melakukan kegiatan yang berbeda. 

Mulai hari ini masa kampanye resmi dilakukan oleh setiap pasangan calon. Khususnya Nanda-Wanedi, mereka menyasar dunia pendidikan dan bisnis. 

Sebagai calon Wali Kota Malang, Ya'qud Ananda Gudban atau yang akrab disapa Nanda mencoba memberi program kuliah gratis kepada 1.000 warga yang tidak mampu. 

Hal tersebut dilakukan karena beberapa warga banyak yang mengeluh masalah biaya masuk kuliah yang cukup mahal. Sehingga banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya sampai minimal strata 1.

"Banyak masyarakat yang mengeluh soal tingginya biaya kuliah di perguruan tinggi. Karena itu bagi saya pemerintah harus memberikan solusi. Saya dan Pak Wanedi dalam program serta visi misi memasukkan kuliah gratis bagi warga tak mampu," ujarnya. 

Alasan Nanda memberi program gratis kuliahpun berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur. Yang mengatakan rendahnya partisipasi masyarakat Kota Malang yang mengenyam pendidikan tinggi. 

Data BPS tahun 2018 menyebut jika partisipasi pendidikan pada masyarakat dengan jenis kelamin laki-laki diusia 19-24 masih rendah dengan prosentase 38,81 persen, sedangkan yang tidak lagi sekolah atau mengenyam pendidikan sebanyak 61,19 persen dari jumlah penduduk Kota Malang.

Untuk jenis kelamin perempuan di usia 19 - 24 tahun, dimana prosentase yang tidak mengenyam pendidikan di usia itu sebanyak 48,81 persen dan sisanya masih mengenyam pendidikan.

Jika diprosentase, hampir separuh warga masyarakat Kota Malang usia 19-24 tahun atau tepatnya 55,04 persen tidak sekolah lagi.

"Dari data BPS ini menunjukkan, masih banyak warga Kota Malang yang belum mengenyam pendidikan tinggi, padahal kita dikenal sebagai Kota Pendidikan. Artinya predikat tersebut bukan saja banyaknya kampus yang ada di Kota Malang tapi juga harus diikuti dengan banyaknya warga yang mengenyam pendidikan tinggi," ungkap Nanda yang baru saja mendapat gelar Doktor dari Universitas Brawijaya itu.

Dalam merealisasikan janjinya nanti, Nanda - Wanedi akan bekerjasama dengan 57 perguruan tinggi se Kota Malang. Pasangan calon yang lekat dengan sebutan MeNaWan ini mengasumsikan jika setiap perguruan tinggi bisa memberikan beasiswa bagi 10 warga tidak mampu, maka sedikitnya ada 570 warga tidak mampu bisa mengenyam pendidikan tinggi.

"Belum lagi nanti dana CSR kita juga akan alihkan sebagian untuk pendidikan ini sehingga tidak saja digunakan membangun infrastruktur berupa taman, tapi juga membangun SDM Kota Malang," tukasnya.

Sementara itu, Ahmad Wanedi bersama Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Sumber Daya Manusia Konstruksi Indonesia (ASDAMKINDO) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Uji kompetensi tenaga kerja ahli dan terampil kontruksi Indonesia Jawa Timur, berlangsung di Jl Tumbal Negara Malang. 

Dalam kegiatan tersebut, Ahmad Wanedi menjelaskan bahwa Sumber Daya Manusia di Indonesia masih sangat minim. Dengan itu ia mencoba mendidik tenaga ahli dan terampil. 

"Kegiatan rutin ini dilakukan dua minggu sekali, tergantung peminatnya di seluruh Jawa Timur. Karena kita punya tanggung jawab secara moral untuk mendidik tenaga-tenaga ahli," ungkap Ahmad Wanedi yang juga menjabat sebagai Sekretaris ASDAMKINDO. 

Nantinya kegiatan ini akan menjadi program secara berkelanjutan karena diberikan kewenangan untuk melakukan uji kompetensi oleh LPJK Jawa Timur.

Selain dibekali tenaga kerja yang siap untuk berkompetisi, para peserta ini nanti akan memperoleh sertifikat yang sudah ditandatangi AFTA (Asean Free Trade Area).

"Karena memang sertifikat ini bisa menjadi persyaratan terutama untuk mengantisipasi arus keluar masuk tenaga kerja ASEAN ini tak terbendung lagi. Jangan sampai justru negara kita menjadi pasarnya negara asing," tuturnya.

Ditambahkan Wanedi, tenaga kerja Indonesia ini harus terus dimaksimalkan, sesuai dengan pesan Bung Karno, jangan menjadi asing di negeri sendiri. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. 

"Salah satunya yaitu tenaga kita harus terampil dan terdidik untuk menciptakan tenaga yang profesional," tandasnya.

Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top