Di Balik Perayaan Valentine, Warga Ngantang Bangkit Usai 4 Tahun Tragedi Kelud Meletus

Tragedi letusan Gunung Kelud 14 Februari 2014 lalu membuat rumah warga Ngantang, Kabupaten Malang rusak akibat semburan abu vulkanik kini masyarajatnya sudah bangkit membangun desanya menjadi lebih baik. (foto : google image)
Tragedi letusan Gunung Kelud 14 Februari 2014 lalu membuat rumah warga Ngantang, Kabupaten Malang rusak akibat semburan abu vulkanik kini masyarajatnya sudah bangkit membangun desanya menjadi lebih baik. (foto : google image)

MALANGTIMES - Tahukah Anda, tepat 14 Februari, selain memperingati Hari  Valentine, ternyata ada sejarah atau kejadian mengharukan yang dialami warga Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Yaitu tragedi meletusnya Gunung Kelud pada 14 Februari 2014.

Tepat 14 Februari 2018 ini, sudah empat tahuntragedi Kelud  berjalan, warga Ngantang sedikit banyak tidak bisa melupakan kejadian tersebut.

Banyak  warga yang masih mengingat ketika erupsi dan rumahnya hancur akibat terdampak muntahan gunung berketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut itu.

Gunung Kelud mulanya meletus pada 13 Februari 2014 sekitar pukul 22.50 WIB. Lalu keesokan harinya, 14 Februari 2014, Gunung Kelud mengeluarkan abu vulkanik hingga sampai daerah Solo dan Jogjakarta.

Tak hanya itu. Bangunan rumah ambruk akibat tak mampu menahan tebalnya abu. .Saat erupsi terjadi, material semburan Gunung Kelud berserakan menutupi, jalan, pohon, tanaman. Bahkan, rumah warga tampak dipenuhi debu putih.

Namun seiirng berjalannya waktu, sedikit demi sedikit satu tahun setelah kejadian itu, warga sudah mulai berbenah dan bangkit membangun desanya.

Mereka sudah membuat saluram air yang rusak terdampak abu, bergeliat meningkatkan sektor perekonomian dengan menambang pasir dan pertanian hortikulturanya.

Sekarang ini mereka mulai bangkit membangun desa dan mengembalikan wilayah Ngantang bidang pertanian dan kepariwisataan.

Camat Ngantang Eru Suprijambodo menjelaskan tragedi Gunung Kelud meletus 4 tahun silam ada hikmah yang diambil oleh masyarakat.  "Sekarang ini masyarakat sudah melupakan kejadian itu, warga sudah berbenah dan menyadari bahwa tempat tinggal mereka berada di lingkungan rawan bencana," kata Eru kepada MalangTIMES, Rabu (14/2/2018).

 

Menurut Eru, dari kejadian itu, warga sekarang sudah mandiri dalam menangani bencana yang datang. Artinya warga sudah mendapat bekal pengetahuan dan pelatihan kesiapsiagaan tanggap bencana yang sudah digelorakan.

 

Kemudian, akibat bencana itu, lahan warga semakin subur dengan semburan abu vulkanik. Dia mencontohkan wilayah Ngantang yang mayoritas potensinya dari sektor hortikultura seperti bawang merah, lombok, kentang.

"Jadi sekarang produksi pertanian disini sangat melimpah dan kuwalahan. Ada bawang, kentang dan tanaman hortikultura lainnya. Selain itu saluran air bersih ke warga juga sudah tertata," ucap pria 53 tahun tersebut.

 

Disinggung terkait wilayah mana yang terdampak letusan Gunung Kelud, Eru menyampaikan di wilayah Desa Pandansari, Sumberagung  Kaumrejo, Waturejo, dan Tulungrejo daerah itu yang terdampak letusan Gunung Kelud.

 

"Tapi wilayah yang paling terdampak pada saat itu Desa Pandansar. Sekarang kondisi perkampungannya sudah bersih. Bahkan menyandang prestasi sebagai salah satu desa tangguh bencana tingkat Provinsi Jawa Timur," jelasnya.

 

Eru berharap dengan adanya kejadian letusan Gunung Kelud mengimbau kepada masyarakat terus semangat membangun desa menjadi lebih baik.  "Kami sampaikan ke masyarakat jangan sampai cemas. Bahwa wilayahnya merupakan wilayah radius gunung berapi dan tetap waspada. Karena bencana datang secara tiba-tiba, kita harus siap menghadapinya," pungkasnya. (*)

 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Aditya Fachril Bayu

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top