Jelang Imlek, Petani Buah Naga Tertawa Senang

Buah naga yang dibudidayakan di Wandanpuro, Bululawang, di lahan milik Halimatus, petani buah naga sejak tahun 2008, Rabu (14/02). (Nana/MalangTIMES)
Buah naga yang dibudidayakan di Wandanpuro, Bululawang, di lahan milik Halimatus, petani buah naga sejak tahun 2008, Rabu (14/02). (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kearifan budaya selalu memiliki efek domino positif, baik bagi masyarakat pemiliknya maupun bagi warga lainnya. Hal inilah yang terjadi dengan budaya masyarakat Tionghoa saat merayakan Imlek. 

Di dalam Imlek,  pemeluk Tionghoa selalu menyajikan dua buah yang tak pernah ketinggalan. Satu buah jeruk dan lainnya adalah buah naga atau dragon fruit. Buah naga inilah yang setiap perayaan Imlek tidak pernah tertinggal. Pasalnya,  buah dengan ciri kulit bersisik mirip kepala naga dan batang tanamannya yang seolah sebagai ekor penuh duri. Adalah buah yang senantiasa menghiasi altar pemujaan dewa menjelang Imlek. 

Maka,  setiap menjelang Imlek,  buah yang dianggap membawa hoki atau keberuntungan dan  berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan itu menjadi buruan masyarakat Tionghoa. 

Maka,  petani buah naga pun girang setiap kali menjelang Imlek. Sebab, permintaan terhadap buah ini melonjak cukup tinggi. Di Kabupaten Malang, lonjakannya sampai saat ini sudah mencapai 20 persen lebih dari hari biasanya. 

"Naiknya sampai 20 persen. Ini akan terus naik biasanya sampai  min satu Imlek, " kata Halimatus Sadiyah, petani buah naga dari Desa  Wandanpuro,  Kecamatan  Bululawang, Rabu (14/02). 

Ibu dari tiga anak yang bertani buah naga sejak tahun 2008 di lahannya sekitar 1 hektare ini mengaku  bahwa buah naga kerap menjadi incaran pembeli saat menjelang Imlek. Walaupun begitu,  Halimatus tidak pernah menaikkan harga thang loy -begitu buah ini disebut oleh masyarakat Tionghoa. 

"Kami tetap menjual dengan harga normal karena memang buah naga ini semakin ketat persaingannya. Terutama dengan buah naga dari Banyuwangi. Kami sudah senang dengan adanya kenaikan omzet ini,  Mas, " ujar Halimatus. 

Buah naga yang ditanam di kebun Halimatus  terdiri dari jenis super red, red,  dan buah naga putih. Setiap jenis dari buah naga tersebut memiliki harga yang berbeda-beda. Untuk buah naga jenis super red dijual seharga Rp 20 ribu  per kilogram (kg). Jenis buah naga red dibanderol Rp 8 ribu  dan  buah naga putih dijual Rp 20 ribu  per kg. 

Buah naga super red dan red inilah yang kerap dicari masyarakat Tionghoa untuk melengkapi perayaab Imlek. 

Ditanya mengenai penjualan hari biasanya,  perempuan berhijab dan berkaca mata ini menyatakan, buah naganya rata-rata terjual 60 kg. "Menjelang Imlek,  saya bisa menjual sampai 80 kg setiap harinya, " ujar Halimatus. 

Omszet Halimatus dari buah naga yang membawa hoki ini. Setiap hari dia bisa meraup sekitar Rp 1 Juta. "Biasanya paling tinggi Rp 800 ribu, " ujarnya. 

Kabupaten Malang merupakan salah satu sentra buah naga. Walau pun tidak terlalu masif,  buah naga yang  tumbuh di tanah Arema ini bisa bersaing dengan daerah sentra lainnya. Sebut  saja Banyuwangi,  Pasuruan,  Batam maupun Semarang. 

Halimatus juga mengatakan,  buah naga tetap dicari masyarakat dikarenakan kandungan dari dagingnya yang berwarna merah atau putih sangat kaya vitamin.  Baik vitamin B1, B2, B3, C, zat besi, potasium, dan mineral lainnya.  "Dan buah naga ini dipercaya banyak memiliki khasiat bagi daya tahan dan metabolisme tubuh, "  ujar  dia. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Angga .
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top