Ada Koleksi Baru Alat Angkut Listrik Yang Menjuarai Even International di Museum Angkut, Seperti Apa?

Pengemudi Obinazari Gusmana bersama Alat angkut listrik karya tim Apatte 62 Brawijaya yakni Aristo EV 1 menjadi koleksi baru Museum Angkut. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Pengemudi Obinazari Gusmana bersama Alat angkut listrik karya tim Apatte 62 Brawijaya yakni Aristo EV 1 menjadi koleksi baru Museum Angkut. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Museum Angkut memiliki tambahan koleksi alat angkut yakni mobil listrik. koleksi baru itu karya dari  tangan-tangan kreatif para mahasiswa Apatte 62 Brawijaya jurusan teknik mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. Kelebihan dari mobil telah menjuarai perlombaan dikancah nasional hingga internasional. 

Pada Senin (12/2/2018) tim Apatte 62 Brawijaya secara resmi menghibahkan mobil listrik itu kepada Museum Angkut di Hall Museum Angkut. Apatte 62 Brawijaya adalah tim mobil hemat energi yang berasal dari jurusan teknik mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. 

Tri Tiadi Winarto pengendara mobil listrik untuk Marsela 3 EVO 1 di Museum Angkut. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Untuk saat ini Apatte 62 Brawijaya memiliki 4 mobil, dalam 2 kategori yaitu kategori listrik dan internal combustion engine. Apatte 62 UB telah mendapatkan 10 gelar juara per-tahunnya baik di kancah nasional maupun internasional. 

“Setiap tahun selalu mengimprove body. Terutama energi sedikit tapi body yang ringan,” ungkap Manajer Apatte 62 UB, Tiara Shinta. 

Salah satu produk unggulan mereka adalah Aristo EV 1 yang dihibahkan ke Museum Angkut. Aristo EV 1 ini sudah berlaga di beberapa kejuaraan nasional maupun internasional. 

Tri Tiadi Winarto saat memperlihatkan bagian dalam mobil listrilk Marsela 3 EVO 1 di Museum Angkut. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Prestasi yang berhasil disabet di antaranya juara 2 nasional pada kejuaraan energy marathon challenge 2014. Lalu peringkat 8 Shell Eco Marathon Asia 2014 Manila, Philipina. Dan peringkat 5 Shell Eco Marathon Asia 2015 Manila, Philipina.

Untuk bahan dari mobil ini adalah karbon fiber menggunakan tenaga baterai lithuum dengan intensitas baterai 85 persen. Untuk kecepatannya mobil kni 320 kilometer per kilowatt perjam. Dan  pembuatnya tahun 2012 dan selesai di tahun 2013

Ia menjelaskan dengan dihibahkannya alat angkut listrik itu agar mengedukasi para wisatawan. Sekaligus menjadi pembelajaran terutama para pelajar dan mahasiswa

Bagian dalam mobil listrik Aristo EV 1 di Museum Angkut. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

“Kalau kita taruh di sini banyak aspek bisa jadikan pembelajaran. Sekaligus supaya tahu bahwa Indonesia, khususnya di Malang punya mobil listrik dan bisa membuat mobil listrik,” ujar mahasiswa semester delapan ini. 

Selain itu tim ini juga mengenalkan Marsela 3 EVO 1 memiliki keunggulan aerodinamis, ringan dan zero emission (ramah lingkungan) yang berhasil menyabet juara 3 pada kontes Mobil Hemat Energi 2017 tingkat nasional. Kemudian Marsela 3 EVO 1 ini juga akan bersaing pada Shell Eco Marathon Asia tingkat Asia Pasifik, 7-11 Maret 2018 di Singapore mendatang.

“Sedangkan untuk mobil ini dibuat selama kurang lebih 9 bulan di tahun 2017,” jelasnya.

“Masih belum tahu, yang Marsela 3 Evo ini akan dihibahkan atau tidak. Tergantung nantinya dengan adek tingkat nanti, kami serahkan kepada mereka nanti,” tambah Tiara.

Sementara itu Operational Managet Museum Angkut Endang A. Shobirin menjelaskan Museum Angkut merupakan salah satu destinasi wisata yang peka terhadap perkembangan dunia teknologi, edukasi  dan inovasi. Di tahun ke empat ini sesuai dengan visi dan misi untuk mengedepankan dunia pendidikan dan produk ramah teknologi mendukung produk gerakan hemat energi yang diusung oleh Universitas Brawijaya jurusan teknik mesin.

“Saya berterima kasih karena kontribusi para mahasiswa ini telah menciptakan sesuatu yang menginspiratif. Sekaligus memberi tahu bahwa di sini tidak hanya mobil pada jaman-jaman kuno tapi juga teknologi alat angkut terbaru juga ada,” ucap Endang.

Dengan bertambahnya koleksi ini Endang berharap bisa mengedukasi para pelajar dan mahasiswa. Bahwa orang Indonesia mampu menyuguhkan karya yang mendunia. 

“Semoga dengan bertambahnya koleksi ini bisa menyemangati wisatawan, supaya ikut  bersama berkarya,” harapnya.

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top