Jasad Dimandikan Urine Kerbau, Dicacah, Sampai Jadi Santapan Burung Bangkai, Hanya di Ngadas Kabupaten Malang yang Tidak

Jasad yang telah dirajam dimasukkan kotak, lantas dimasukkan ke totem dan dipajang di depan rumah. Ini ritual kematian suku Haida di Amerika Utara. (Pinterst. Com)
Jasad yang telah dirajam dimasukkan kotak, lantas dimasukkan ke totem dan dipajang di depan rumah. Ini ritual kematian suku Haida di Amerika Utara. (Pinterst. Com)

MALANGTIMES - Kematian adalah sesuatu yang pasti di dunia. Kepastian inilah yang membuat masyarakat di berbagai dunia merayakan kematian dengan berbagai cara yang mungkin terlihat unik, aneh bahkan terkesan sadis di mata sebagian yang lain.

Kematian di berbagai suku yang ada di dunia, tidak sekadar dilihat dari terpisahnya raga dan roh serta berhentinya detak jantung dan fungsi organ tubuh semata. Tapi, mereka memosisikan kematian sebagai suatu fase dalam melanjutkan kehidupan di dunia lain. Kematian merupakan peristiwa penting dalam siklus kehidupan mereka. Tak berbeda dengan peristiwa kelahiran, perkawinan dan lainnya.

Bertolok dari kepercayaan tersebut, ritual kematian yang terlihat unik, aneh, sadis dan lainnya terus dilakukan sampai saat ini. Tak terkecuali ritual atau upacara kematian yang ada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang masyarakatnya merupakan bagian dari Suku Tengger.

Negara atau suku mana sajakah yang masih melanggengkan ritual kematian di tengah modernitas yang bertumpu pada rasionalisme, serta sikap serba praktis ini. MalangTIMES menyuguhkan berbagai ritual kematian unik di dunia untuk anda.

1. Filipina

Mata ditutupi kain adalah bagian dari ritual kematian di Filipina (combiboilersleeds. com)

Di Filipina yang memiliki beberapa suku di dalamnya, mirip dengan yang ada di Indonesia. Ritual pemakamannya terbilang unik dan tentunya memiliki nilai mistik dan filosofis yang berkembang sejak lama dalam masyarakatnya. Misalnya di masyarakat Suku Benguet yang tinggal di barat laut Filipina. Apabila ada warganya yang meninggal, mereka biasa menutup mata orang tersebut dengan kain sebagai bentuk kepercayaan turun temurun. Tidak hanya itu.Sang mayat pun tidak langsung dikubur, tapi didudukkan dulu selama 8 hari di sebelah pintu masuk rumah saat dia hidup.

Suku Apayao Filipina lain lagi. Mereka mengubur anggota keluarganya yang mati di bawah lantai dapur rumah mereka. Sedangkan Suku Caviteno memiliki tradisi unik mengubur mayat dengan cara mendirikan tubuh si mayat dan dimasukkan di dalam batang pohon besar. 

2. India

Perlakuan jasad di India hampir mirip dengan di Tibet dan Monggolia. Jasad di letakkan untuk dimangsa burung bangkai (wikimedia. Org)

India menjadi negara yang juga memiliki tradisi atau ritual unik dalam kematian. Bahkan mungkin dianggap nyeleneh dan tidak masuk akal. Seperti yang terjadi pada para penganut Zoroaster di Mumbai. Jasad dimandikan dengan urine (air kencing) kerbau dan wajib menunggu untuk dikunjungi seekor anjing yang mereka anggap suci. Sebelum jasad diletakkan di Dhakma (Menara Kesunyian) untuk jadi santapan burung bangkai.

Ritual ini hampir sama dengan yang dilakukan di Tibet dan Monggolia. Jasad setelah dipotong-potong, lalu diletakkan di pucak gunung untuk jadi santapan burung bangkai. Bagi kepercayaan mereka, jasad orang yang sudah meninggal cuma wadah kosong. Setelah jiwa atau ruh berpindah ke alam lain, maka jasad wajib dikembalikan ke bumi. Tapi bukan dengan cara dikubur atau dikremasi, karena menurut kepercayaan mereka itu bisa mencemari bumi.

3. Suku Haida di Amerika Utara

Totem suku Haida Amerika Utara  tempat menyimpan jasad yg telah dilebur (istimewa)

Di Suku Haida ada dua perlakuan untuk mengantar warganya yang mati. Pertama, apabila yang mati adalah kepala suku atau orang penting dalam strata kehidupan mereka, seperti dukun, maka jasad mereka wajib dihancurkan terlebih dahulu sebelum dinasukkan ke dalam kotak tertutup. Suku Haida akan merajam jasad tersebut dengan pukulan gada sampai hancur. Baru dimasukkan kotak yang nantinya kotak tersebut akan disimpan dalam tiang totem yang dipajang di depan rumah. Mereka percaya dengan perlakuan seperti itu, ruh orang yang mati akan dituntut oleh para arwah leluhur menuju akhirat.

Perlakuan kedua bagi warga biasa di suku tersebut apabila mati adalah dengan melemparkannya ke lubang besar. Tujuannya agar bisa disantap binatang buas sampai habis. 

4. Suku Tengger Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Ritual agung kematian suku tengger Ngadas,  Poncokusumo. Ruh gotong royong terasa kental (Ist)

Suku Tengger Ngadas, Poncokusumo, memiliki ritual agung dalam memperlakukan jasad warganya yang mati. Suku Tengger sangat menghormati berbagai peristiwa dalam kehidupan mereka melalui adat istiadat yang berlangsung ratusan tahun. Dalam ritual kematian, budaya gotong royong terasa begitu kental. Berbagai bantuan mengalir kepada keluarga yang ditinggalkan. Mereka menyebutnya Nglawuh.

Setelah mayat dimandikan, tubuhnya diletakkan di atas balai-balai. Sang tetua atau dukun akan memercikkan air suci dari prasen kepada jenazah sambil mengucapkan doa kematian. 

Sebelum kuburan digali, dukun juga terlebih dahulu menyiramkan air dalam bumbung yang telah diberi mantra. Tanah yang tersiram air itulah yang digali untuk liang kubur. Mayat orang Tengger dibaringkan dengan kepala membujur ke selatan ke arah Gunung Bromo. Setelah semua prosesi pemakaman selesai, keluarga yang ditinggalkan akan melaksanakan selamatan petang harinya. Serta orang yang telah meninggal tersebut diganti dengan boneka yang disebut bespa. Terbuat dari bunga dan dedaunan yang akan diletakkan di atas balai-balai bersama berbagai macam sajian.

5. Ritual Pemakaman Tanah Toraja

Bukit mayat tanah toraja (wikimedia.org)

Ritual pemakaman masyarakat Tanah Toraja terbilang paling unik di Nusantara, bahkan dunia. Perlakuan terhadap orang yang mati sangatlah meriah dan bisa berlangsung sampai beberapa minggu. Ratusan kerbau disembelih, musik, tarian dan pesta makan mengiringi keberangkatan ruh menuju surga. Jasad si mati akan disimpan di dinding-dinding gua, setelah segala prosesi selesai. Selain itu, orang-orang akan membuat patung kayu yang menyerupai orang yang meninggal tersebut.

Sedangkan bagi keluarga yang belum melaksanakan prosesi, sang almarhum akan ditempatkan terlebih dahulu di kamar khusus di dalam rumah. Sang jasad yang belum selesai dilaksanakan prosesinya, dianggap belum mati. Mereka dianggap sedang tidur atau sakit, sehingga pihak keluarga wajib untuk tetap memberi makan.

6. Koreo Selatan

Hasil kremasi jasad di Korsel yang dijadikan manik-manik hiasan (odditycentral.com)

Di Koreo Selatan diberlakukan undang-undang untuk memindahkan makam setelah mereka dikebumikan selama 60 tahun. Hal ini dikarenakan semakin terbatasnya lahan pemakaman. Masyarakat pun akhirnya mulai memilih kremasi. Tapi debu dari sisa kremasi tersebut tidak dibuang atau ditaburkan ke alam. Masyarakat Koreo Selatan memilihnya untuk dijadikan manik-manik perhiasan dengan berbagai warna indah. Seperti Hijau toska, pink, hitam dan lainnya. Manik-manik ini nantinya ditaruh di dalam wadah kaca yang cantik dan dipajang di rumah. 

*Diolah dari berbagai Sumber"

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top