Waspada Difteri, 262.406 Warga Kota Malang Bakal Diimunisasi

Siswa SDN Kauman 2 Kota Malang diimbau mengenakan masker sebagai antisipasi penyebaran wabah difteri. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Siswa SDN Kauman 2 Kota Malang diimbau mengenakan masker sebagai antisipasi penyebaran wabah difteri. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masyarakat yang tengah sakit tenggorokan, demam, dan lemas mesti segera memeriksakan diri ke pusat kesehatan terdekat. Sebab, selain flu, gejala tersebut juga muncul pada penderita difteri. Apalagi Kota Malang termasuk 16 kota/kabupaten di Jawa Timur yang menjadi sasaran Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri pada 2018 ini. 

ORI merupakan gerakan vaksinasi menyeluruh sebagai antisipasi penyebaran bakteri difteri akibat adanya lonjakan kasus pada 2017 lalu. Kementerian Kesehatan menunjuk sejumlah daerah, termasuk Kota Malang untuk melakukan imunisasi agar kejadian luar biasa (KLB) difteri tidak terulang. "Sasaran ORI di Kota Malang ini mencakup 262.406 warga dengan rentang usia 1-19 tahun," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang Husnul Muarif. 

Menurut Husnul, ORI bakal dilaksanakan dalam tiga periode. "Periode pertama Januari-Februari ini. Yang kedua Maret dan terakhir September nanti," ujar Husnul. Saat ini, lanjut dia, seluruh sekolah di Kota Malang sudah dijadwalkan untuk imunisasi. 

Setelah sebelumnya sempat menghilang, kini infeksi bakteri difteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan itu kembali menyerang. Pada tahun 2018 ini ada satu kasus penderita difteri yang ditemukan oleh Dinkes Kota Malang.

Karena itu, Dinkes pun terus melakukan imunisasi pencegahan difteri yang dilakukan kepada anak-anak. "Imunisasi ini sifatnya tambahan, karena saat ini wabah difteri kembali menyerang Kota Malang," ujar Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kota Malang Anik Hertin.

Dia memaparkan, Kota Malang rupanya cukup banyak anak yang terserang difteri. Paling banyak yakni pada tahun 2011 yang sebanyak 65 kasus. Kemudian mengalami penurunan, pada tahun 2016 ada sebanyak 32 kasus dengan jumlah kematian 2 anak. Selanjutnya pada tahun 2017 ada 19 kasus. "Tidak ada yang meninggal pada tahun lalu. Untuk tahun 2018 ini ada satu kasus," lanjutnya.

Anik mengungkapkan, rata-rata yang terserang virus difteri merupakan anak-anak usia sekolah dasar. "Paling rentan itu siswa yang usianya di kisaran usia 7-15 tahun," imbuhnya. Menurutnya, saat ini upaya pencegahan yang harus dilakukan salah satunya yakni imunisasi.

Melalui imunisasi bisa jadi penguatan secara rutin. Setidaknya, setiap anak harus melakukan 7 kali imunisasi difteri. Yakni, imunisasi dasar sebanyak tiga kali, di usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Kemudian diulang pada saat usia 1,5 tahun. Selanjutnya dilakukan ketika anak duduk di bangku kelas 1 SD, 2 SD, dan 5 SD. "Rutinitas itu diulang 10 tahun lagi," lanjutnya. 

Dia mengungkapkan, kesadaran masyarakat Kota Malang untuk melakukan imunisasi ulang masih terbilang kecil. "Kesadaran imunisasi jadi dilema. Faktanya masih banyak yang menolak," ujarnya. Bahkan, ada beberapa sekolah yang tidak mau siswanya di munisasi. 

Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat lebih peduli dengan bahaya virus difteri ini. Terlebih, jika penanganan terlambat, maka bisa berakibat fatal. "Kami imbau juga jika beraktivitas di luar rumah untuk mengenakan masker. Terutama saat tubuh kurang fit dan rentan terpapar bakteri," ucapnya. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top