Pengusaha Hotel Malang Raya Keluhkan Kurangnya Support Infrastruktur Pendukung Wisata

Ilustrasi hotel di Kota Malang. (Foto: dok JatimTIMES)
Ilustrasi hotel di Kota Malang. (Foto: dok JatimTIMES)

MALANGTIMES - Di tengah pengembangan pariwisata di Malang Raya, support infrastruktur pendukung dari pemerintah masih kurang. Hal itu diungkapkan sejumlah hotelier atau pegusaha jasa perhotelan yang tergabung dalam Indonesian Hotel General Manager (IHGM) DPC Malang Raya. 

General Manager The 101 Malang OJ Hotel Anzar Maulana mengungkapkan, saat ini pariwisata di Malang Raya mulai menjadi jujukan wisatawan Nusantara (winus). Hal itu ditunjang dengan tersedianya fasilitas penginapan untuk semua kelas wisatawan yang datang. Namun, Anzar mencatat yang menjadi tantangan perhotelan di Malang Raya justru kurangnya infrastruktur yang diadakan oleh pemerintah. 

"Kalau ada tamu yang datang ke Malang, mereka terkadang kesulitan untuk mencari informasi. Mungkin, perlu diadakan semacam tourism centre atau peta Kota Malang untuk memudahkan wisatawan. Selain itu, bisa juga diadakan satu kawasan khusus untuk pusat oleh-oleh," papar dia.

Anzar juga menuturkan, hotelier sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendatangkan tamu dengan berbagai macam strategi yang mereka miliki. Namun, hal tersebut juga masih terganjal dengan kurangnya tenaga profesional. 

Misalnya, ketika tamu asing yang datang, masyarakat terkendala bahasa. "Masyarakat Malang masih belum sadar kalau Malang Raya adalah kota wisata yang menjadi jujukan. Agar pariwisata bisa maju, semua pihak, baik stakeholder, pemerintah maupun masyarakat, harus bersinergi untuk membangun pariwisata," ujarnya. 

Senada dengan Anzar, General Manager Singhasari Resort Rusmaidi Fetra mengatakan setiap tahun kunjungan wisata terus meningkat. Meski di tengah kondisi ekonomi yang dikabarkan turun, orang-orang tetap banyak yang melakukan piknik ke luar kota. Termasuk di Malang Raya.

"Artinya, orang-orang banyak mengeluarkan uang kan. Okupansi hotel di Malang Raya, utamanya Kota Batu, sering full. Antar hotel biasanya bersaing harga. Semua memiliki strategi masing-masing untuk itu," ungkapnya.

Ketua IHGM DPC Malang Raya Ratna Dwi Rachmawati menerangkan, saat ini pihaknya tengah fokus untuk menghadapi tantangan perhotelan yang akan dihadapi sepanjang 2018. Selain meningkatkan revenue melalui online travel agent (OTA), pihaknya menginginkan adanya sinergi yang baik antara stakeholder, pemerintah, dan seluruh masyarakat Malang Raya untuk meningkatkan sektor pariwisata. 

Ratna mengatakan, setiap bulan pihaknya selalu mengadakan pertemuan rutin untuk menjalin silaturahmi antaranggota yang saat ini jumlahnya sebanyak 32 orang. Pada pertemuan tersebut, selalu ada sharing yang diberikan antar-anggota. "Kami memang bersaing, tapi bersaing sehat. Jadi, setiap pertemuan selalu ada hal positif yang bisa menambah wawasan baik untuk diri sendiri maupun tim," terang Ratna.

Seperti pertemuan yang digelar akhir pekan ini di Swiss Belinn, Malang. IHGM DPC Malang Raya mendiskusikan terkait penjualan melalui OTA. "Saat ini, hotel sudah memanfaatkan OTA yang memiliki berbagai macam platform dengan policy masing-masing. Setiap hotel punya ukuran sendiri untuk menentukan berapa kontribusi tamu yang datang dari OTA. Kami tidak bisa pukul rata," papar Ratna. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top