375 Anak Berkebutuhan Khusus Melukis di Payung

Saiful, penderita ABK, melukis payung dengan menggunakan kaki di Dino Mall, Jatim Pak 3, Minggu (14/1/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Saiful, penderita ABK, melukis payung dengan menggunakan kaki di Dino Mall, Jatim Pak 3, Minggu (14/1/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Sebanyak 375 payung berwarna-warni memenuhi gedung Dino Mall, Jatim Park 3. Di payung-payung itu terdapat goresan lukisan abstrak dari tangan para anak berkebutuhan khusus (ABK) Malang Raya.

Ya mereka sedang berkumpul bersama untuk mengikuti Festival Lukis Bersama 400 Anak Istimewa, Minggu (14/1/2018). Jika biasanya mereka diajak untuk melukis diatas kanvas, kali ini mereka ditantang untuk melukis di atas payung polos.

Dengan kreativitas mereka, banyak yang menggambar mulai dari abstrak, karakter tokoh kartun, tanaman, hingga ikon Kota Batu. Saiful Arif, misalnya. Penyandang ABK ini melukis ikon Kota Batu, yakni apel, dengan menggunakan satu kakinya.

Saiful mengaku cukup mudah melukis di atas payung. Berbeda dengan saat ia melukis di atas kanvas. Sebab, media kanvas, menurut dia, tidak mudah untuk digoresi tinta.

"Aku suka melukis di atas payung karena medianya halus. Kalau kanvas biasanya kan agak kasar. Jadi, harus lebih ekstra. Tapi senang bisa melukis bersama banyak teman," ungkap Saiful.

Ya media melukis payung ini bukan hanya sekadar payung biasa. Tapi diartikan bahwa payung sebagai pelindung. Payung yang akan melindungi para ABK sehingga mereka bisa terus berkarya.

Hal tersebut diungkapkan, Dyah Rani Ayu, ketua Griya Anita. Di ulang tahun Griya Anita dan Hari Difabel ini, para ABK diajak melukis dan berimajinasi melalui gambar, sketsa, dan warna. Pemilihan payung juga dirasa sebagai pelindung ABK.

"Kami sebagai lemabaga memberikan wadah bagi mereka (ABK) untuk berkreasi. Bahwa di balik kekurangan, mereka memiliki sejuta kelebihan," kata perempuan yang akrab disapa Nia ini.

Kegiatan ini diikuti oleh banyak penyandang disabilitas. Mulai dari tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, downsyndrom, autis dari kurang lebih 30 lembaga. Mereka mulai dari taman kanak-kanak hingga SMA.

Kegiatan ini juga dibuka oleh Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko yang juga ikut melukis payung bersama ABK. Selama ini memang Dewanti selalu terlibat dalam kegiatan tersebut. 

Bagi Dewanti, acara tersebut mampu mengembangkan potensi ABK sehingga nantinya bisa membuat ABK menjadi mandiri. Bahkan karya ABK bisa menjadi mesin uang.

"Melalui Griya Anita ini, ABK bisa terus berkembang agar bisa mandiri. Mampu berkarya membuktikan kepada masyarakat luar bahwa mereka tidak kalah dengan orang normal," ucap Dewanti. Karena itu, ia berharap ke depannya melalui lembaga ini, banyak ABK yang sukses dan mandiri. 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Batu TIMES (JatimTimesNetwork)
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top