Sinau Musik, Benarkah Jazz Lebih Berkelas daripada Dangdut?

Suasana acara Sinau Ing Kampung
Suasana acara Sinau Ing Kampung 'Alih Bahasa Musik' bersama komposer kelahiran Malang Andhika Riptayudo Nugroho. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Lain kepala lain pula kesenangannya terhadap musik. Dari itu, mainlah musik, asalkan jangan saling mengusik.

Lirik lagu berjudul Musik yang dipopulerkan Rhoma Irama itu dibahas dengan gayeng oleh para penikmat dan praktisi musik Malang Raya kemarin di Omah Ngopi Cempluk, Jalan Dieng Atas, Desa Kalisongo, Dau, Kabupaten Malang. 

Dalam kegiatan Sinau Ing Kampung 'Alih Bahasa Musik' itu, hadir komposer kelahiran Malang Andhika Riptayudo Nugroho. Seorang komposer jebolan jurusan non-classical music Akademi Musik Yogyakarta dan jurusan pendidikan musik Universitas Negeri Surabaya.

Andhika mengungkapkan, selama ini banyak penikmat mauun praktisi musik yang masih keblinger dengan mengkultuskan genre yang disukai. Juga banyak masyarakat yang menganggap setiap aliran musik itu memiliki kelas-kelas atau derajat khusus. "Soal derajat musikmisalnya, ada yang bilang dipengaruhi kelas ekonomi. Orkestra dan Jazz dipandang merupakan musik kelas  atas, beda sama dangdut atau punk. Padahal itu sama sekali nggak ada," ujarnya. 

Dia memberikan contoh kasus pada musik dangdut. Musik dengan ciri khas irama gendang itu lazim disebut musik kalangan menengah ke bawah. "Sering disebut musik pinggiran, padahal kalau dilihat sejarahnya itu justru dari perkusi ritus tabla India dan jazirah Arab.  Dan musiknya untuk kalangan atas," tuturnya.  

Hal tersebut berkebalikan dengan musik jazz yang dikenal classy. "Katanya untuk pendengar kelas atas. Padahal munculnya dari kalangan budak. Jazz itu sirkus musikal. Lebih rumit, mungkin iya. Tapi bukan lebih tinggi atau lebih rendah," terang Andhika.

"Itu pilihan mau jazz atau punk atau yang lain," tambahnya. Andhika mengungkapkan, setiap genre musik memiliki cara yang berbeda untuk menikmatiya. Dia juga bercerita tentang dulunya yang hanya menggeluti jazz lalu juga belajar menikmati aliran punk dan yang lain. "Bagaimana menikmati punk, bayangkan punya masalah banyak,  nggak bisa bayar kos, belum kerjakan tugas, buang masalah itu di musik. Dengarkan musik punk, ikut teriak, buang masalah. Bisa ketawa setelahnya," ujarnya di hadapan para audiens yang sebagian mahasiswa itu.

Andhika menegaskan bahwa di setiap genre musik terdapat elemen yang tidak dimiliki aliran lain. Hal itu tidak bisa dibandingkan mentah-mentah. Untuk menjembatani pengenalan genre musik pada kalangan penndengar tertentu, Andhika pun memaparkan sejumlah upaya alih bahasa  musik atau penggubahan dari satu genre ke genre lain. 

Sebagai contoh, dia pun memutarkan beberapa lagu yang telah diterjemahkan ke genre lain. Misalnya lagu campursari-dangdut berjudul Alun-Alun Nganjuk, Andhika mengaransemen menjadi musik orkestra. "Saat saya perdengarkan, para siswa saya mengira lagu itu berasal dari Venesia. Tidak ada yang mengira lagu dangdut. Dan mereka suka," terangnya. 

Andhika menegaskan, perlunya memahami soal konsep bahwa musik sederajat dan tidak mengenal kelas. Dia juga mengajak agar masyarakat memahami kekayaan kearifan lokal musik tradisi Indonesia, dan agar para  musisi muda tidak minder. "Jangan sampai  lebih mengagung-agungkan musik luar, justru menganggap remeh musik kita. Padahal di luar, musik kita sangat dihargai," sebutnya. 

Untuk diketahui, Andhika memiliki seabrek pengalaman dalam bermusik. Menjadi pendiri, komposer dan arranger di Abigail Rhythm, Oxy Wave (gospel), d X n’Trick (entertainment). Pendiri dan anggota Malang Jazz Forum. Andhika juga merupakan founder/music director/arranger di Tembangan Production.

Penggagas kegiatan Sinau Ing Kampung, Redy Eko Prastyo, mengungkapkan, agenda tersebut merupakan kegiatan rutin yang melibatkan lintas komunitas.  "Kegiatan Sinau Ing Kampung ini baru pertama, tapi kami agendakan rutin. Bukan hanya membahas soal musik tapi nanti berkembang juga mengenai isu yang tengah hangat di masyarakat," terang Redy.

Sesuai tajuknya,  kegiatan tersebut digelar di kampung, tepatnya di Kampung Cempluk. "Memang menyasar warga kampung  juga untuk belajar bersama, baik pemuda karang taruna dan yang lain. Tentu agar pengetahuan ini tidak hanya berkutat di lingkaran akademisi tetapi bisa ditularkan langsung ke masyarakat," pungkasnya. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top