Kematian Seekor Anjing Part 2

Ilustrasi puisi kematian seekor anjing (Istimewa)
Ilustrasi puisi kematian seekor anjing (Istimewa)

Kematian Seekor Anjing Part 2

dd nana

(1)

"Aku tak akan masuk nirvana, kalau anjing ku tak kau perkenankan masuk," ujar Puntadewa.

Sepasang mata anjing berwarna beludru itu menatap lamur . Sayu serupa kelopak bebunga yang menunggu ajalnya tiba. Atau serupa cinta yang berpuih, lupa pada rumahnya yang telah lama ia tinggalkan.

Konon, seekor anjing berwarna beludru itu telah mengawini waktu. Menjaga sesuatu yang disebutnya takdir. 

"Wujudkan memang anjing. Tapi aku sama memiliki jiwa. Sama memiliki hasrat untuk kembali. Ke muasal kita semua. Nirwana," ucapnya. Matanya yang lamur kembali menatap sesuatu yang aku tak ketahui.

Aku sedang menunggu para kekasih dengan wujud buruk ku di dunia. Para kekasih yang mampu melihat ruh ku yang sejati. "Tapi, sudahlah. Kau tak akan percaya pada salak keringku ini," ujarnya lagi kepadaku. Seekor anjing berwarna beludru itu kembali khusyuk. Serupa melafalkan do'a dengan bahasa yang tak pernah aku mengerti.

Di bukit penantian ini, entah berapa miliar bebunga yang mati. Tak tercatat. Hanya gaung sunyi penantian dan sabda yang masih menetap. Walau lirih di kepung serpihan peristiwa. 

"Tak kan kuinjakkan kakiku di tanah nirwana, kalau kau tak perkenankan anjing ku juga menapakinya," tegas Puntadewa yang terengah-engah berjuang menuju pintu yang dijaga para dewa.

"Tapi surga hanya untuk para kekasihnya," kata dewa penjaga nirvana. 

Salak anjing berwarna beludru begitu lemah. Dia tak pernah diajari cara berdebat. Apalagi dengan kasta dewa. 

"Anjing ini telah membuktikan diri sebagai kekasih sejati," tegas Puntadewa yang ambruk ditumbuk rasa lelah. Diseret gelombang sejarah yang tak pernah ia inginkan.

Angin berpuih piuh, menabrakkan dirinya ke tembok-tembok waktu. Bicaralah, bicaralah waktu. Ungkap segala apa yang dinamakan kekasih sejati. Walau bagi mereka yang hidup merangkak atau yang melata. Bicaralah.

Aku menatap peristiwa itu dengan mata lamur. Sang maut berkeliaran, tepat di atas kepalaku yang lelah untuk diajak berdebat.

"Aku tak pernah diajari berdebat. Yang aku tahu bagaimana rasa hormat tumbuh besar menjadi penyerahan total," salak ku lirih.

(2)

Apa agamamu. Hingga kau bersikeras ikut dan masuk nirvana ini.

Aku menunduk. Mataku yang dulu awas, agar para pemuda yang menjadi kekasihku tidak dirajam rezim, melamur oleh siksa waktu.

Apa agamamu, anjing. Aku menyalak dan meringkuk menghadapi bentakan itu. Mencoba melindungi para pemuda yang lari dari kekejian penguasa yang memburu mereka. Yang kini tertidur lelap di rahim goa.

"Tolong tuan jangan berisik. Para kekasihku sedang tidur. Biarkan mereka istirahat dari segala beban angkara yang jadi pikiran mereka,". 

Apa agamamu, anjing.

Mataku nyalang berjuta-juta tahun. Menjaga para kekasih yang dilahirkan di dunia. Dari sergap mata serigala, buaya dan para setan yang bergentayangan.

Agamaku cinta, cukup tuan?

(3)

Kita anjing, yang lapar mata-mata suci para kekasih-Mu.

Kita anjing yang akan menunggu sampai mati. Para kekasih kembali dilahirkan di sini.

Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top