Apa Yang Ditulis Akun FB Mustofa Ibrahimovich hingga Dilaporkan ke Polres Malang?

Dua tulisan akun FB Mustofa Ibrahimovich yang akan dijadikan alat bukti oleh PD Jasa Yasa Kabupaten Malang dalam dugaan pencemaran nama baik. (Nana)
Dua tulisan akun FB Mustofa Ibrahimovich yang akan dijadikan alat bukti oleh PD Jasa Yasa Kabupaten Malang dalam dugaan pencemaran nama baik. (Nana)

MALANGTIMES - Apa yang sebenarnya ditulis akun Facebook Mustofa Ibrahimovich di Grup Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) sehingga PD Jasa Yasa Kabupaten Malang sebagai pengelola wisata Pantai Balekambang, Ngliyep, dan beberapa wisata lainnya ini melaporkan tulisan tersebut ke Polres Malang?

Dari wawancara dengan pelapor yang diwakili Kasubag Umum PD Jasa Yasa Kabupaten Malang Achmad Mas'ud dan didampingi LBH PEKA yang berkantor di Landungsari, Kota Malang, persoalannya adalah tulisan akun FB tersebut telah mencemarkan nama institusi dan dirut PD Jasa Yasa.

"Karena persoalan itu. Tulisan akun tersebut secara terang mencemarkan nama baik kami. Padahal inti persoalannya sudah selesai dan bukan terjadi di wilayah kewenangan kami," ungkap Achmad kepada MalangTIMES, Jumat (12/01) sore hari.

Selain Achmad, Direktur LBH PEKA Lukman Wahyudi juga menegaskan, laporan ini juga dalam upaya pembelajaran bagi masyarakat saat mengeluarkan pendapat melalui tulisan di media sosial (medsos). "Ini agar kita sama-sama  menghormati sesuatu dalam menyampaikan ekspresi tulisan di medsos. Kita punya UU ITE dalam mengatur persoalan seperti ini," ujar dia.

Lantas tulisan seperti apakah yang membuat PD Jasa Yasa akhirnya melaporkan persoalan tersebut ke ranah hukum? Dari data yang diperlihatkan oleh pelapor, ada dua tulisan dari akun FB Mustofa Ibrahimovich yang nanti akan dijadikan alat bukti atas dugaan pencemaran nama baik tersebut. Data tersebut MalangTIMES suguhkan secara utuh kepada pembaca sehingga akan lebih jelas duduk persoalannya.

Inilah tulisan kedua akun FB Mustofa Ibrahimovich :

Jawaban Lolak Lolok Pengelola Pantai Balekambang

Berbeda dengan sebagian pantai lain di Malang Selatan yang dikelola kelompok masyarakat secara swadaya bekerjasama dengan Perhutani selaku pemilik wilayah, Pantai Balekambang dikelola BUMD Pemkab Malang bernama Perusahaan Daerah (PD) Jasa Yasa sejak 1985 setelah sebelumnya dikelola Desa Srigonco melalui kelompok masyarakat.

Tentu saja dengan dikelola perusahaan daerah, diharapkan pengelolaannya lebih profesional. Mengingat Balekambang merupakan salah satu pantai yang paling populer di Malang Selatan. Pengunjung bisa menikmati pemandangan alam hamparan pasir putih ditambah Pura di Pulau Ismoyo yang membuat pantai ini mirip Tanah Lot di Bali.

Namun fakta di lapangan tingginya tingkat kunjungan ternyata tidak dibarengi dengan tingkat pelayanan. Tidak jarang pengunjung komplain merasa tidak nyaman karena pelayanan yang dianggal tidak ramah. Apalagi tiket masuknya terbilang mahal. 

Bagi sebagian pengunjung tiket masuk mahal sebenarnya tidak masalah kalau diimbangi dengan pelayanan dan fasilitas yang memadai. Namun nyatanya tidak sedikit pengunjung yang bercerita pengalaman tidak mengenakkan mengenai pelayanan. 

Puncaknya ketika akun Facebook Devina Amandhita yang menceritakan ketidaknyamanannya ketika berkunjung ke Balekambang tidak lama ini. Saat itu sedang berkunjung dengan sejumlah kolega dan dua anaknya mengendarai sepeda motor. Ia yang merasa heran karena ditarik dua kali retribusi masing-masing Rp 10 ribu bertanya kepada seorang petugas yang menarik retribusi kedua. 

Petugas dengan datar menjawab kalau retribusi kedua untuk parkir. Padahal Devina melihat kalau retribusi pertama seharga Rp 10 ribu juga untuk parkir. Ia lalu melanjutkan bertanya boleh tidak parkir di pantai karena malamnya akan menginap. Dengan nada agak tinggi petugas mengatakan silakan kalau ingin sepeda motornya hilang.

Devina berlalu dan giliran anaknya usia 20 tahun yang membonceng adiknya usia 10 tahun berhadapan dengan petugas dan mengingatkan agar jangan kasar-kasar kalau bicara. Namun petugas menurut pengakuan Devin di Facebook justru memukul anaknya yang berusia 20 tahun. 

Merasa tidak ingin ribut, Devina bersama anak-anaknya memilih berlalu. Namun tidak lama setelah peristiwa itu dia barangkali karena masih merasa kesal mengunggah ceritanya itu di Facebook. Sembari dia mengingatkan pengguna Facebook lain agar berhati-hati dengan pelayanan tidak ramah saat mengunjungi Balekambang.

Unggahan itu viral dan ternyata banyak netijen yang juga bercerita pengalaman buruknya ketika berkunjung ke pantai itu dari tahun ke tahun dianggap tidak berubah. Netijen mengancam tidak lagi berkunjung ke pantai itu selagi pengelola belum berbenah.

Alih-alih mendapatkan respon melegakan dari pengelola, netijen justru mendapatkan jawaban lolak lolok dari Dirut PD Jasa Yasa, Ahmad Faiz Wildan. Tanpa merasa bersalah dan beritikad baik untuk memperbaiki pelayanan, Wildan justru berdalih kalau kejadian itu bukan di kawasan Balekambang melainkan di Pantai Regent.

Ia justru mengaku dirugikan dan menuding oknum petugas itu bukan petugasnya tetapi petugas Perhutani pengelola Pantai Regent. Bahkan lebih menyebalkan tanpa merasa bertanggungjawab melalui situs berita malangtimes dia mengatakan kalau kejadian itu sudah beda rumah.

Jawaban lolak lolok ini membuktikan kalau selama ini PD Jasa Yasa tidak mengelola Balekambang secara profesional. Buktinya dengan menuding Perhutani selama ini tidak ada komunikasi yang baik antar kedua institusi ini. Mereka justru terkesan saling berebut lahan. 

Jawaban ini juga tidak masuk akal. Kalau merasa sudah beda rumah mengapa 19 petugas tidak mengarahkan pengunjung yang parkir di Pantai Regent agar parkir di wilayah Balekambang saja? Katanya dirugikan tapi selama ini kok realitinya demikian? Padahal sudah jelas lho pengunjung itu ingin ke Balekambang bukan ke Hotel Regent Park. Jangan cuma mau ambil uang saja tapi tidak mau tanggungjawab om kalau bermasalah.

Kalaupun harus bersaing, Indomaret dan Alfamart saja yang lokasinya sering berdekatan tidak sampai menuding sebegitunya. Siapa yang paling dirugikan atas kelolak-lolokan pengelola? Tentu saja pengunjung! Sudah bayar sampai dua kali kena retribusi ketika kena masalah justru dapat jawaban yang tidak bertanggungjawab.

Jawaban lempar tanggungjawab seperti itu tidak akan jadi soal kalau aset yg dikelola itu aset perusahaannya sendiri. Tapi ini yang dikelola pantai, aset Malang, ciptaan Tuhan bukan aset yang dibuat Wildan sendiri. Kalau ada masalah yang dirugikan AREK AREK MALANG kabeh! Gak cuma Wildan tok. Saya juga mempertanyakan kapabilitas Wildan ini kok bisa orang lolak-lolok ini ditunjuk sebagai direktur perusahaan yang mengelola asete Arek Malang.

Apalah artinya Pemkab promosi sampai-sampai pasang baliho besar yang berisi ajakan mengunjungi pantai tetapi fotonya bupati dan wakil bupati kalau pengelolanya masih lolak lolok. Lebih baik pengelolaan seperti pelayanan dna fasilitas dimaksimalkan dulu. Kalau sudah memuaskan saya yakin tanpa pasang baliho wajah bupati dan wakil bupati, Balekambang banyak dicari pengunjung. Karena berdasakan penelitian sarana promosi yang efektif dan murah itu ya dari cangkem ke cangkem.

Bagi pengunjung luar Malang, pelayanan buruk pengelola Balekambang juga akan dianggap mewakili wajah pariwisata, tidak saja kabupaten, tapi juga Malang Raya. Akan menyedihkan kalau mereka menggeneralisir kalau semua pariwisata di Malang pelayanannya buruk. Kalau sudah begitu pelaku wisata se-Malang Raya juga akan terdampak hanya karena satu destinasi bermasalah saja.

Memang benar netijen lebih tidak berkunjung ke Balekambang dulu sebelum pengelola berbenah. Ini juga sebagai pelajaran karena dikomplain juga tidak ditanggapi malah lempar tanggungjawab. Masih banyak destinasi wisata lain di Malang Raya yang bisa dikunjungi. Di Malang Selatan sendiri konon pantainya sampai 1.000 tidak cuma Balekambang tok. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top