Alun-alun 'Kotak' Malang: Ruang Perlawanan Rakyat Jelata Melawan Belanda

Suatu sore di Alun-alun Kotak Malang. Alun-alun yang dibangun untuk merepresentasikan kekuasaan kolonial dengan mudah "dijajah" rakyat jelata. (Istimewa)
Suatu sore di Alun-alun Kotak Malang. Alun-alun yang dibangun untuk merepresentasikan kekuasaan kolonial dengan mudah "dijajah" rakyat jelata. (Istimewa)

MALANGTIMES - Alun-alun Malang tentunya tidak asing lagi bagi masyarakat Malang Raya. Alun-alun berbentuk kotak yang dibangun sekitar tahun 1882 oleh Kolonial Belanda ini, merupakan bagian peninggalan "gagal" arsitektur Belanda. 

Kegagalan pembangunan alun-alun Malang, bukan dalam sisi arsitekturnya, tapi dari sisi penguasaan dan legitimasi kolonialismenya. Lihatlah bangunan pemerintahan yang biasanya mengelilingi alun-alun, tapi tidak dengan yang ada di Malang. Ada anomali. Biasanya, sebuah alun-alun akan dikelilingi oleh pendopo kabupaten yang langsung menghadap ke alun-alun. Namun, alun-alun Malang ini tidak.

"Iya ya mas. Letak pendopo kabupaten berada di sebelah timur alun-alun dan tidak menghadap tepat ke arahnya. Pendopo menghadap selatan," kata Siwi Ardiansyah warga Klojen Malang saat ditanya MalangTIMES. 

Anomali ini, menurut beberapa sumber dan data ternyata memiliki sejarah 'pembangkangan' rakyat jelata Malang zaman Kolonial Belanda. Belanda membangun alun-alun kotak sebagai representasi dari kekuasaannya terhadap masyarakat bumi Arema ini. 

Representasi Pemerintah Kolonial Belanda dilanjutkan dengan membangun berbagai bangunan khas Belanda,seperti rumah residen, Javasche Bank, gereja, dan Sociteit Concordia (tempat para pembesar Belanda berpesta di sekitarnya). 

"Maksud awal dari pembangunan Alun-alun Malang adalah untuk membentuk sebuah pandangan bahwa pusat kota sudah dikuasai Pemerintah Kolonial. Dengan adanya representasi dari bangunan kolonial tersebut, maka kontrol ekonomi kolonial atas pribumi akan didapat," tulis Purnawan Basundawan Penulis buku Dua Kota Tiga Zaman.

Hasrat menguasai Belanda melalui alun-alun ini ternyata mendapat perlawanan dari rakyat jelata Malang, saat itu. Alun-alun Kota Malang yang seharusnya menjadi sebuah cermin kontrol penguasa ternyata dengan mudah dikuasai rakyat. 

Dari sebuah foto lama yang dikoleksi oleh A Bierens de Haan yang diambil sekitar tahun 1900-an  menggambarkan betapa mudahnya Alun-Alun Kota Malang ditaklukan oleh rakyat jelata.

Dalam foto hitam putih tersebut, alun-alun dipenuhi banyak pedagang makanan dan minuman yang berjualan di bawah pohon beringin rindang yang berada di sisi barat dan selatan alun-alun.

Para pembeli pun juga terlihat banyak. Duduk dengan asyik menikmati hangatnya sore di Malang yang saat itu sebenarnya masih terkungkung oleh kekuasaan kolonial. 

"Perlawanan kultural ini membuat alun-alun yang semula diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan, tidak tercapai. Meski banyak bangunan kolonial di sekelilingnya, tak satupun bukti menunjukkan eksistensi kolonial Belanda di Alun-alun Malang," tulis Purnawan.

Ssebaliknya rakyat jelata begitu mudah menguasai alun-alun. Selain dikuasai para pedagang, rakyat pun melawan kebiasaan dansa para pembesar Belanda di Sociteit Concordia melalui aneka seni lokal yang sering dipentaskan di alun-alun. 

Kalah menancapkan kekuasaan di Alun-alun Kotak, pihak pemerintah Kota Hindia Belanda akhirnya tidak memasukkan Alun-alun Malang sebagai bouwplan (rencana pembangunan) tata kota. 

Thomas Karsten, sang arsitek Kota Malang mulai membangun kawasan Alun-alun Bundar dengan bangunan khas Eropa yang mengelilinganya. Konsep pembangunan Alun-alun Bundar adalah kelanjutan menancapkan kekuasaan Belanda. Tak satupun aktivitas rakyat pribumi bisa dilangsungkan di sana, waktu itu.

*Berbagai Sumber

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Aditya Fachril Bayu
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top