Kredit Capai Rp 14 Triliun, BI Pamerkan UMKM Binaan

Dua model memeragakan batik tulis produk UMKM binaan Bank Indonesia Malang di Malang Town Square dalam rangkaian UMKM Fair 2017. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)
Dua model memeragakan batik tulis produk UMKM binaan Bank Indonesia Malang di Malang Town Square dalam rangkaian UMKM Fair 2017. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Perkembangan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit kepada UMKM. Setiap tahun kredit kepada UMKM mengalami pertumbuhan dan secara umum pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total kredit perbankan. 

Hal tersebut dipaparkan Kepala Bank Indonesia Malang Dudi Herawadi dalam pembukaan UMKM Fair 2017 di hall Malang Town Square (Matos) sore ini (16/12/2017). Dudi menguraikan, pencapaian angka kredit untuk UMKM di Malang naik signifikan. "Tahun ini, total kredit secara keseluruhan sekitar Rp 40 triliun. Dari jumlah itu, pembiayaan untuk UMKM sekitar Rp 14 triliun," terangnya. 

Jika dipersentase, angka tersebut mencapai 35 persen. "Kalau melihat target kredit UMKM secara nasional dipatok 20 persen, Malang melampaui itu," terangnya. Dudi menguraikan, naiknya kredit untuk UMKM setiap tahun juga dipacu kemudahan-kemudahan regulasi yang diberikan perbankan dan juga pemerintah daerah.

Meski demikian, menurut Dudi masih ada pekerjaan rumah yang musti dilakukan untuk meningkatkan daya saing UMKM. "Umumnya kesulitan UMKM masih masalah pemasaran dan kualitas. Kualitas kalau tidak bersaing dengan produk luar ya repot. Padahal jika mau serius, segmen premium bisa laku keras," tuturnya.

Dalam UMKM Fair 2017 tersebut, terdapat sekitar 22 stan UMKM dan perbankan yang memamerkan produk unggulan masing-masing. Seperti diketahui, BI Malang membawahi wilayah Kabupaten Lumajang, Kabupaten dan Kota Malang, Kabupaten dan Kota Pasuruan, Kabupaten dan Kota Probolinggo, dan Kota Batu. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) untuk pelaksanaan pameran ini," terangnya.

Pembukaan pameran tersebut diisi dengan fashion batik dari masing-masing daerah. Misalnya dari Kota Malang, dipamerkan Batik Buring. Keunikannya, batik yang diproduksi di wilayah Kecamatan Kedungkandang itu menggunakan pewarna alami alias organik.

Meski hasil pewarnaan organik tidak secerah hasil pewarna buatan, harga yang dipatok justru lebih mahal. Sholehudin, pemilik UMKM Batik Buring mengungkapkan, batik tulis organik produknya dibanderol mulai harga Rp 250 ribu. Sedangkan batik yang menggunakan pewarna sintetis, dihargai Rp 150 ribu per lembar. 

Nilai yang lebih tinggi itu, menurutnya karena proses pengerjaan yang lebih lama. "Proses membatik dengan canting membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Lalu untuk pewarnaan, satu warna bisa enam sampai sepuluh kali pencelupan," tuturnya. 

Dia juga menunjukkan, penggunaan beberapa bahan utama pewarna alami. Misalnya biji jelawe yang menghasilkan warna hijau kekuningan, kayu tegeran untuk warna kuning cerah, dan kulit kayu mahoni untuk merah bata.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Aditya Fachril Bayu
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top