Panggil Ketua HMI, Dekan Fakultas Hukum Beber Kronologi Sebenarnya Kasus Pesmaba UMM

Dekan Fakultas Hukum UMM, Dr. Tongat SH M.Hum (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Dekan Fakultas Hukum UMM, Dr. Tongat SH M.Hum (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus yang terjadi saat Penerimaan Mahasiswa Baru (Pesmaba) di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari pihak kampus. 

Tudingan Ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Komisariat UMM, Rifky Ali Murfikin yang menyatakan bahwa pihak fakultas tidak melakukan upaya apapun untuk menyelesaikan kasus ini dibantah Dekan Fakultas Hukum UMM, Dr. Tongat, SH., M.Hum.

Menurutnya, kronologi kejadian yang diceritakan Rifky Ali Murfikin kepada MalangTIMES, Senin (4/12/2017) lalu sepenuhnya tidak benar. 

Sejak peristiwa ini bergulir pihak fakultas sudah maksimal melakukan upaya perdamaian terhadap kedua belah pihak termasuk kepada Wahyudin, mahasiswa yang saat ini telah menjalani persidangan pertama dan meringkuk di Lapas Lowokwaru. 

Pihaknya sudah berupaya maksimal mendamaikan kasus ini dengan membuka ruang komunikasi dengan Khafid dan Crismaya, korban pelemparan kayu saat kejadian itu. 

Tidak hanya itu, pihak fakultas juga sudah memanggil orang tua kedua belah pihak agar persoalan ini tidak berlanjut.

Ia menjelaskan, kasus ini sebenarnya masalah internal yang terjadi pada sesama teman panitia Pesmaba. 

Munculnya kasus ini bukan karena ada unsur kesengajaan. Kasus ini timbul karena ada miskomunikasi antara Wahyudin dan Khafid.

"Kita juga sudah mempertemukan para mahasiswa yang terlibat kasus ini langsung setelah kejadian itu," jelas Tongat kepada MalangTIMES di kantornya, Kamis (7/12/2017).

Ia juga membeberkan kronologi sebenarnya sekaligus sebagai koreksi terhadap keterangan Ketua HMI UMM, Rifky Ali Murfikin kepada MalangTIMES sebelumnya.  

Peristiwa itu terjadi pukul 16.00 WIB. Saat itu Khafid yang notabene merupakan panitia Pesmaba UMM bersama Wahyudi menyampaikan candaan kepada mahasiswa baru dengan kalimat, "Itu lo musuhmu yang sebenarnya" sambil menunjuk Wahyudin. 

Khafid melontarkan pernyataan tersebut dalam konteks bercanda. "Tapi saya juga nggak ngerti apakah karena candaan tersebut dirasa sensitif sehingga direspons Wahyudin seperti itu," imbuh Tongat. 

Sebenarnya, setelah bercanda itu mereka terlihat sudah tidak ada masalah dengan saling berjabat tangan. Namun, selang 15 menit kemudian, Wahyudin ke belakang mengambil kayu dan melemparkannya ke Khafid.

Jadi, saat melemparkan kayu tersebut, lanjut Tongat, Crismaya bukanlah sasaran. Saat itu Crismaya dalam posisi duduk, lalu berdiri dan terkena lemparan kayu dari Wahyudin. 

Akibatnya, Crismaya yang menjadi korban salah sasaran ini mengalami cedera yang cukup serius di bagian kepala. Saat itu, yang bersangkutan langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) UMM untuk mendapatkan perawatan. 

"Setelah persitiwa itu, saya langsung meluncur ke RS UMM untuk memastikan bahwa korban mendapat perawatan semestinya. Setelah dirawat, oleh dokter korban diperbolehkan pulang. Dia diantar pakai mobil saya sampai ke kosnya untuk menjamin yang bersangkutan benar-benar aman," bebernya.

Setelah mengurus korban, dirinya bertemu dengan Wahyudin untuk mencari tahu tentang permaslahan yang sebenarnya terjadi. 

Setelah memperoleh gambaran, tentang apa yang terjadi pihaknya menyampaikan kepada kepada kedua belah pihak agar tidak melakukan tindakan-tindakan untuk memperpanjang masalah ini. Termasuk tindakan hukum karena ia yakin hal ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

"Cuma kan kita tak bisa melarang atau memaksa untuk terkait hal itu. Setelah itu, informasinya sekitar pukul 22.00 WIB, si Crismaya didatangi temannya lalu mengajaknya melaporkan kasus ini ke kantor polisi," jelasnya.

Siapa memiliki inisiatif membawa kasus ini ke kantor polisi dirinya mengaku tidak tahu. Meskipun demikian, hari berikutnya pihaknya mempertemukan Wahyudin dan Khafid bersama kedua orangtuanya. Saat itu, Crismaya didampingi ibunya. 

Sebetulnya, lanjut Tongat, semua pihak yang terkait kasus ini sudah saling memaafkan. Bahkan, waktu itu sudah ada surat perdamaian dan Wahyudin ikut menandatanganinya. Meskipun, Crismaya masih belum tandatangan dengan alasan masih akan berkonsultasi dengan sang ayah. Namun, intinya korban sudah saling memaafkan.

"Terkait laporan ke polisi itu, saya bahkan sempat telepon Polsek Karangploso. Saya minta agar kasus ini bisa selesai secara damai. Sembari kita menunggu surat yang belum ditandatangi Crismaya saya tetap minta teman-teman Polsek untuk memfasilitasi perdamaian," jelas Tongat.

Hanya saja, lanjutnya,  saat perdamaian itu diupayakan pihak fakultas, kasus ini ramai di media sosial. Banyak pihak yang terkesan ribut sendiri dan memancing agar kasus ini semakin keruh.

"Saya tetap minta diselesaikan secara kekeluargaan. Saya fasilitasi untuk mediasi. Hadir Wahyudin dan perwakilan dari pihak Crismaya. Ada kesepakatan sementara kasusnya tidak diproses menunggu Wahyudin mendatangkan orang tuanya ke Malang untuk bertemu keluarga Crismaya dan lawyernya," beber Tongat. 

Saat mediasi itu disepakati dalam rentang waktu dua minggu Wahyudin harus menghadirkan orangtuanya. Sembari menunggu orang tuanya datang dan memastikan Wahyudin kooperatif dalam kasus ini Wahyudin diminta lapor ke Polsek dengan kesepakatan tak harus setiap hari.

Dalam hal ini pihak Polsek sudah sangat longgar dan memberi toleransi. Wahyudin tidak harus setiap pukul 7 pagi absen. Yang penting tiap hari lapor. Ini menunjukkan mediasi di Polsek sudah ada hasilnya.

"Nah masalahnya kemudian, setelah ada kesepakatan, dalam rentang waktu dua minggu yang mestinya Wahyudin lapor dia tidak lapor. Karena tak lapor sesuai dengan janji awal, kapolsek akhirnya melanjutkan kasusnya. Orangtuanya juga datang ke Malang jauh setelah lewat dua minggu. Semestinya bisa dikomunikasikan, kalau belum bisa datang. Karena tak ada komunikasi akhirnya kasus ini diproses sesuai kesepakatan awal. Saya juga menyayangkan hal itu," ungkapnya.

Perlu diketahui, imbuhnya, selama ini semua tanggung jawab keperdataan Wahyudin terhadap korban sepenuhnya sudah ditanggung fakultas seperti biaya operasi plastik dan biaya rawat jalan. Tak sedikit pun dibebankan kepada Wahyudin.

Sementara itu, untuk mengklarifikasi semua pernyataannya ke MalangTIMES beberapa waktu lalu, pihak fakultas memanggil Ketua HMI Komisariat UMM Rifky Ali Murfikin, Kamis (7/12/2017).

Dalam klarifikasinya, Rifky meminta maaf atas semua penjelasan yang ia sampaikan sebelumnya. Ia meluruskan kembali pernyataannya bahwa pihak fakultas tidak melakukan upaya apapun untuk menyelesaikan masalah ini tidak benar adanya.  

"Atas nama HMI saya minta maaf terkait tuduhan bahwa fakuktas hukum tak melakukan upaya apapun dalam kasus ini. Bahwa sudah ada dialog yang difasilitasi fakultas untuk menyelesaikan kasus ini kami sudah tahu. Jadi, tidak ada maksud kami untuk menyudutkan pihak fakultas. Ini hanya bentuk kepedulian kami terhadap Wahyudin dalam kasus ini," pungkasnya.

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top