Pesmaba UMM Ternyata Panas, Satu Panitia Ditahan di Lapas Lowokwaru

Rifky Ali Murfikin, Ketua Umum HMI UMM. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Rifky Ali Murfikin, Ketua Umum HMI UMM. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Penerimaan mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tampaknya berjalan lancar ternyata menyisakan masalah. Satu panitia panitia penerimaan mahasiswa baru (pesmaba) Fakultas Hukum UMM sampai masuk bui dan menjalani sidang di pengadilan negeri.

Semua bermula ketika Wahyudi, mahasiswa yang saat ini telah menjalani persidangan pertama dan meringkuk di Lapas Lowokwaru, berselisih dengan panitia lainnya, yakni Khafid. Ketika itu, Khafid sempat mengatakan kepada mahasiswa baru bahwa yang di depan itu adalah musuhmu. Saat itu Wahyudi memnag berada di depan.

Sontak ucapan provokasi itu sempat membuat Wahyudi tersinggung. Akhirnya dia melempar sebuah kayu yang tanpa sengaja mengenai Crismaya, pacar Khafid.

Rifky Ali Murfikin, ketua umum HMI UMM, mengatakan, pasca-konflik, permasalahan ini sebenarnya sudah dilakukan penyelesaian dengan mediasi bersama yang bersangkutan, orang tua korban dan pihak fakultas. "Wahyudi sebenarnya tidak secara sengaja melempar kayu kepada Crismaya. Tetapi, dari hasil pertemuan tersebut, disayangkan masih berjalan buntu," ungkap Rifky. 

Setelah mediasi, malah muncul surat pemanggilan kepada Wahyudi oleh polisi dan statusnya sudah menjadi tersangka. Wahyudi, yang juga anggota HMI UMM, akhirnya dikenakan wajib lapor di Polsek Karangploso. 

"Saat pemeriksaan selanjutnya, Wahyudi akhirnya tidak diperbolehkan pulang sampai akhirnya ditahan. Dari Polsek Karangploso, dengan waktu yang tak lama, Wahyudi akhirnya dipindahkan di Polres Malang," ungkap Rifky.

Setelah itu, pasca-mediasi pertama yang tanpa hasil, pihak kampus kembali berjanji akan menggelar pertemuan. Tetapi pihak fakultas juga tidak memastikan kapan akan digelar audiensi.

"Ketika kita coba follow up pun, dari pihak fakultas terkesan menghindar. Kita menunggu dulu. Sampai akhirnya Wahyudi malah sudah menjalani sidang pertama dan dipindahkan di Lapas Lowokwaru," beber Rifky.

Pihak keluarga Wahyudi sebenarnya sudah mempunyai iktikad baik untuk menyelesaikan masalah itu dengan datang ke rumah korban di Lumajang. Namun kuasa hukum korban tetap melanjutkan kasus ini secara hukum.

"Pihak polres pun menyayangkan kenapa bisa kejadian ini sampai ke ranah hukum. Padahal jika terjadi di dalam lingkungan kampus, bisa diselesaikan dengan pembinaan. Terlebih lagi perkara yang terjadi juga tidak terlalu besar," ucap Rifky.

Pihaknya juga selalu mendapatkan jawaban yang sama dari pihak kampus, yakni harus menunggu, ketika meminta kembali untuk melakukan penyelesaian masalah tersebut. "Sebenarnya permasalahan ini bisa diselesaikan bilamana pihak kampus mengeluarkan surat penangguhan penahanan untuk Saudara Wahyudi. Sampai saat ini memang belum ada pengeluaran surat tersebut," tandasnya. 

Wahyudi sendiri saat ini sudah menjalani sidang pertama pada 28 November 2017 dengan agenda pembacaan dakwaan oleh majelis hakim yang ditanggapi dengan pengajuan eksepsi. Untuk langkah selanjutnya, Rifky bersama rekan lainnya akan terus melakukan sounding kepada pihak fakultas untuk permasalahan ini. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top