Terlalu Lama Pilih-Pilih, Anton Kelimpungan Cari Koalisi

Wali Kota Malang Moch Anton saat ditemui awak media usai melakukan pertemuan dengan Bupati Malang Rendra Kresna di Pendopo Agung Kabupaten Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Moch Anton saat ditemui awak media usai melakukan pertemuan dengan Bupati Malang Rendra Kresna di Pendopo Agung Kabupaten Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Niat Wali Kota Malang Moch Anton yang bakal melenggang sebagai petahana dalam Pilkada 2018 mendatang tampaknya tak semulus yang diharapkan.

Sempat menjadi calon idaman partai-partai lain, pria yang juga Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Malang itu kini terkesan 'mengejar' dukungan. 

Salah satunya, Anton mengejar suara dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dengan mendatangi pucuk pimpinan DPW Nasdem Jawa Timur, Rendra Kresna. Sebelumnya, Anton juga sempat muncul di agenda Partai Demokrat Kota Malang beberapa waktu lalu. 

Meski sudah mengklaim dukungan dari Partai Keadilan Sosial (PKS) tetapi masih ada suara partai-partai politik lain yang belum menentukan sikap.

Beberapa di antaranya adalah partai yang cukup memiliki suara. Seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai pemenang pemilu, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), juga Partai Golongan Karya (Golkar). 

Anton sendiri mengakui bahwa saat ini waktu untuk menghimpun dukungan sudah mepet alias injuri time.

"Sebetulnya kami sudah bergerak, tapi kami lihat selama ini belum ada kepastian dan hanya menggantung saja. Lha ini saya tidak berharap seperti itu," ujar Anton. 

Pria kelahiran 31 Desember 1965 itu mengungkapkan, pihaknya harus memastikan pada masing-masing partai. Apakah tetap akan melanjutkan koalisi secara permanen atau tidak.

"Kami lihat ada potensi itu (untuk berkoalisi), tetapi kalau tidak ada ya terpaksa kami lakukan independen," jelasnya.

Anton membenarkan bahwa pilihan maju sebagai calon independen sudah disiapkan. Namun hal itu urung dilakukan karena mulai ada partai yang memberikan dukungannya secara terang-terangan.

"Kalau independen, KTP sebenarnya sudah siap. Tetapi kami lihat ada potensi partai lain memberikan dukungan pada kami," terangnya.

Salah satu syarat yang ditentukan PKB untuk menjalin koalisi pada pilkada mendatang, Anton ingin wakilnya dari internal partai. Hal tersebut bisa dibilang wajar, sebab jika Anton kembali memenangkan periode kedua maka wakilnya berpotensi melenggang sebagai calon kuat di Pilkada 2023 mendatang. "Kami inginnya N2 (bakal calon wakil wali kota) dari internal," terangnya. 

Hingga saat ini, Anton mengaku sudah ada beberapa partai yang melakukan komunikasi serius. Salah satunya  PKS yang memberikan rekomendasi padanya.

"PKS bahkan memberikan rekom tanpa syarat," ujarnya. Rekomendasi tersebut, sudah diterima partai sejak Kamis (30/11/2017) lalu. 

Dengan bergabungnya  PKS maka Anton sudah bisa maju mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum. Sebab, jika ditotal sudah ada sembilan kursi legislatif yang mengusungnya. Yakni enam dari PKB dan tiga dari PKS. "Artinya, PKB bisa jalan sendiri, N2 bisa ditentukan oleh PKB," jelasnya.

Selain itu, Anton menyebut beberapa partai juga masih akan bergabung dalam koalisi PKB-PKS. Namun dia masih belum menyebutkan secara langsung.

"Yang jelas Nasdem akan berikan (dukungan) ke PKB. Baik Demokrat, Golkar, yang lain-lain ini masih kami lakukan dalam rangkaian lobi-lobi," ujar Anton.

Soal koalisi Bangjo atau merah hijau antara PDIP dengan PKB yang diusung dalam Pilgub Jatim 2018 mendatang, Anton mengaku juga belum ada kata pasti. "Semua masih terbuka, yang penting adalah ada kesamaan visi-misi kita. Bisa juga partai-partai lain," pungkasnya.  

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top