Malang Punya Klub Sepak Bola Tertua, Apa Saja ?

Stadion Gajayana tempo dulu yang menjadi saksi lahirnya tim-tim besar Malang (istimewa)
Stadion Gajayana tempo dulu yang menjadi saksi lahirnya tim-tim besar Malang (istimewa)

MALANGTIMES- Malang memang tak bisa lepas dari sepak bola, bahkan masyarakatnya dikenal gila bola alias gibol. Tidak salah jika sejarah mencatat bahwa sepak bola adalah harga diri bagi warga pribumi Malang.

Sepak bola Malang juga tercatat sebagai salah satu culture sepak bola yang tertua di Indonesia. Karena klub sepak bolanya lahir seiring dengan diperkenalkan olahraga sepak bola dimasa penjajahan Belanda, banyak pemain asli Malang mewakili klubnya sebagai duta Timnas Hindia Belanda yang berlaga ditingkat Internasional hingga Piala Dunia 1938. Maka pemahaman Malang lahir di era modern adalah salah besar.

Stadion yang menjadi venue pertandingan juga merupakan stadion tertua di Indonesia. Iya betul, Stadion Gajayana adalah warisan zaman Belanda yang terletak dipusat Kota Malang. Stadion ini mulai dibangun pada tahun 1924 dan dibuka tahun 1926. Mungkin anak-anak zaman now belum tahu ya tentang ini.

Stadion Gajayana mengalamai renovasi pada awal 90an, sehingga dapat menampung sekitar 15.000 penonton.

Mempunyai stadion yang berkapasitas cukup banyak pada era itu, warga Malang kekinian juga harus berbangga karena klub-klub sepak bola nya adalah sejarah terbentuknya klub di kota-kota lain.

Klub pertama yang didirikan di Malang adalah Go Ahead, pada tahun 1898, yang kemudian bermain dengan ECA dari Soerabaja tiga kali dalam tahun yang sama (dua kali di Malang dan sekali di Soerabaja). 

Pertumbuhan klub sepak bola tampaknya semakin menjamur. Pada tahun 1902 lahirlah Voorwaarts dan berlanjut MOT pada tahun 1904. Tak hanya itu, Malang pernah memiliki klub militer yang tercatat, yakni Wilhelmina pada tahun 1909.

Terus berkembang, klub-klub Cina juga lahir di Malang. Yang pertama adalah Kam Soe Twie dan Tjoe Kian Hwee pada tahun 1913. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1914 berdirilah Hak Sing Hwee dan kemudian semua digabung menjadi HCTNH pada tahun 1930.

Lahirnya HCTNH tampaknya membawa berkah bagi persepakbolaan Malang, karena kiper utamanya didapuk menjadi penjaga gawang Timnas Hindia Belanda (Indonesia) pada Piala Dunia 1938, ia adalah Mo Heng.

Seperti didaerah lain, persepakbolaan Malang pada masa Hindia Belanda mempunyai organisasi yang menaungi klub-klub tersebut. Berdiri pada 7 Agustus 1922, Malangsche Voetbal Bond (MVB) menjadi induk organisasi klub Malang. 

Sebelumnya nama tersebut (MVB) pernah digunakan oleh empat klub sepak bola sejak 1917, hanya saja mereka tidak bisa menggunakan nama tersebut karena ditolak oleh NIVB (PSSI zaman Hindia Belanda) pada tahun 1919. 

Bukan sepak bola jika tidak ada konflik, Malangsche Voetbal Bond didera permasalahan internal sehingga banyak klub yang keluar masuk dari perserikatan tersebut. Bahkan beberapa tim ada yang membuat perserikatan baru yang sepemikiran.

Tahun 1933 perserikatan sepakbola di Malang yang sesungguhnya dibuat oleh warga lokal atau pribumi dinamakan Persatoean Sepak bola Indonesia Malang (PSIM). Namun pda oktober 1934, persatuan tersebut berganti nama menjadi Persatoean Sepakbola Toemapel (PST).

Pada akhirnya pada tahun 1935, akhirnya seluruh klub serta anggota perserikatan yang beda pendapat mampu menemukan jalan tengah dan membentuk Malangsche Voetbal Unie (MVU) pada 11 Juli 1935.

Pada masa pendudukan Jepang, perserikatan sepak bola di Malang sempat buyar terutama M.V.B. Perserikatan ini akhirnya berdiri lagi pada tahun 1949 dengan nama yang sama dan hanya saja diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Persatoean Sepakbola Malang (PSM). Secara struktural, perserikatan ini merupakan campuran antara MVB dengan PSIM, hanya saja sebagian pemain sepak bola yang merupakan orang Eropa dan keturunan sudah berkurang dan kembali ke negara asal mereka.

Sejak itu munculah nama Persema pada 20 juni 1953.  Namun sesungguhnya nama Persema telah digunakan pada tahun 1951 dan 1952. Bahkan kumpulan seluruh pemain dari klub-klub sepakbola di Malang yang bersatu dengan menggunakan nama Persema ini sendiri sudah mengikuti kompetisi yang diselenggarakan PSSI pada tahun 1952. 

Dari tim Persema ini lah persepakbolaan Malang semakin berjaya, pemain-pemain asli Malang mampu menjelma sebagai penggawa Timnas Indonesia kala itu.

Episode selanjutnya menjalar lahirnya Arema yang hingga kini menjadi klub besar di Indonesia dengan suporter yang dikenal sangat militan dalam mendukung.

Simak terus cerita lawas sepak bola Malang hanya di MalangTIMES.

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top