Tidak Kalah dengan Anak Sekolah, Setiap Jumat Kru Barenlitbang Kota Malang Wajib Belajar Bersama

Kegiatan FGD tematik Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Malang menghadirkan narasumber-narasumber ahli di masing-masing pertemuan. (Foto: Barenlitbang Kota Malang for MalangTIMES)
Kegiatan FGD tematik Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Malang menghadirkan narasumber-narasumber ahli di masing-masing pertemuan. (Foto: Barenlitbang Kota Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Prinsip belajar hingga akhir hayat tak hanya jadi slogan di Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang. Layaknya tengah sekolah, lembaga eks badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda) itu punya jadwal khusus bagi seluruh krunya untuk belajar bersama.

Tak tanggung-tanggung, dalam sesi belajar itu mendatangkan guru-guru yang telah terbukti unggu di bidangnya masing-masing. Kepala Barenlitbang Kota Malang Erik Setyo Santoso mengungkapkan, agenda belajar bersama tersebut dikemas dalam bentuk forum group discussion (FGD). Jadwalnya, setiap Jumat selepas ibadah salat Jumat. para staf mendapatkan paparan materi dan berdiskusi dengan para ahli. 

"Jadi, setiap hari Jumat sepanjang Oktober hingga Desember mendatang kami agendakan FGD yang dikemas secara fun (menyenangkan) dengan tema menarik dan berhubungan dengan tugas pokok fungsi (tupoksi) Barenlitbang," ujar Erik kepada MalangTIMES. Rencananya, ada enam kali pertemuan yang sudah dirancang.

Narasumber FGD, lanjut Erik, merupakan akademisi dan praktisi yang ahli dibidangnya dengan bekerjasama dengan lembaga penelitian ekonomi pembangunan Universitas Brawijaya (UB) Malang. "Setiap materi akan dimulai dan diakhiri dengan ice breaking untuk menumbuhkan semangat belajar peserta," ujarnya. 
 


Selingan-selingan ice breaking juga diharapkan bisa mengembalikan potensi atau kemampuan dalam menangkap materi secara maksimal. Jenis ice breaking yang dilakukan, terutama yang bisa membangun kerjasama, membangun konsentrasi dan kepekaan serta membangun kreativitas dan imajinasi. "Sebagian staf kan sudah lama lepas dari bangku pendidikan, tentunya butuh cara khusus agar belajar ini tidak tegang dan membosankan," ujarnya.


Beberapa tema yang diangkat dalam FGD itu, di antaranya soal Ekonomi Makro untuk Pembangunan Daerah yang dipandu oleh Prof Candra Fajri Ananda PhD. Juga materi Review Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang menghadirkan dosen dan pengamat ekonomi pembangunan Wildan Syafitri PhD. 

Selain mengasah kemampuan kelompok, materi-materi yang disajikan juga mengasah kemampuan individual seluruh staf Barenlitbang. Misalnya soal Teknik Presentasi dan Komunikasi Interpersonal yang dipandu oleh trainer dan konsultan Dedy Marquis MPsi. 

Materi-materi penting untuk menyusun arah pengembangan Kota Malang juga tak luput dipilih. Seperti tema Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang yang mendatangkan pemateri Dr Eng Turnintyas R ST MT. "Dalam pertemuan-pertemuan itu kami tidak hanya dapat materi melulu. Tetapi membandingkan antara pengembangan konsep dan praktek sekaligus. Juga disertai studi kasus yang ada di Kota Malang," ujar pria yang menjabat sejak Agustus 2017 lalu itu. 

Permasalahan-permasalahan urgen yang jadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Malang pun tak luput dibahas. Misalnya bersama Guru Besar Fakultas Ekonomi UB Prof Munawar Ismail SE MSc DEA, seluruh staf membahas tema Kemiskinan dan Kebijakan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.

Nah, perkembangan era teknologi komunikasi juga penting untuk diikuti. Misalnya untuk publikasi dan juga menyosialisasikan program-program BArenlitbang. Untuk itu, salah satu sesi FGD mengangkat tema Teknik Marketing Melalui Teknologi Digital yang mendatangkan pengamat ekonomi sekaligus pembicara berbagai seminar internasional Dias Satria PhD.

Erik menguraikan, sebagai motor penggerak berbagai program pemerintahan di Kota Malang seluruh staf Barenlitbang tak boleh segan untuk terus belajar. "Semua perkembangan dan dinamika yang terjadi di Kota Malang kami harap terus terpantau dan bisa disikapi kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Untuk merumuskan itu, ilmu-ilmu dari para ahli dibutuhkan agar ada pijakan berpikir yang kuat," pungkas Erik. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top