Mengobati Rindu Pada Festival Malang Tempo Doeloe (7)

Mendikbud Muhadjir Effendy Ingin Ada Memoar Kerajaan Kanjuruhan di Malang Tempo Doeloe

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy menyempatkan datang ke Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) yang digelar Minggu (12/11/2017) di kawasan Jalan Simpang Balapan Kota Malang. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu punya pesan khusus terhadap penyelenggaraan MTD. 

Bagi Muhadjir, MTD ialah memoar Malang yang diulang kembali. Ia begitu senang kala Pemerintah Kota Malang bekerja sama dengan Yayasan Inggil serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang menggelar kembali Festival Malang Tempo Doeloe.

"Saya senang sekali Malang Tempo Doeloe digelar lagi. Dan saya berharap tiap tahun ada acara ini. Dan nanti akan dicatat di Kementerian Pariwisata sebagai kalender tahunan," harap Muhadjir saat ditemui MalangTIMES, Minggu (12/11/2017).

Melihat masa lalu, Muhadjir menilai penting agar tidak melupakan sejarah. Oleh sebab itu, pria bergelar profesor ini menyarankan agar memoar Malang masa lampau dibuat lebih lengkap mulai zaman Kerajaan Kanjuruhan hingga masa perjuangan melawan penjajahan. 

"Kota Malang ini penuh sejarah. Jangan lupakan bahwa sebelum ada Kerajaan Singasari, terlebih dahulu ada Kerajaan Kanjuruhan. Letaknya di sini di kawasan Dinoyo. Karena itu, Malang Tempo Doeloe sebaiknya menampilkan kejayaan di era kerajaan Kanjuruhan," saran dia.

Selain Kerajaan Kanjuruhan yang tersohor di masanya, Muhadjir menjelaskan Malang Tempo Doloe perlu mengulas kisah perjuangan para pahlawan di Malang melawan penjajah. Ia bahkan menyebut gelar sebagai Kota Pahlawan bukan saja milik Surabaya. 

"Menurut saya Malang adalah Kota Pahlawan, tidak kalah dengan Surabaya. Di dekat sini, tepatnya di Jalan Pahlawan TRIP, itu adalah saksi perjuangan pelajar melawan penjajah. Dulu namanya Jalan Salak, sekarang jadi Jalan Pahlawan TRIP. Sebelum MTD digelar, seharusnya ada agenda kilas balik sejarah. Apalagi kemarin tanggal 10 kan Hari Pahlawan," imbuhnya. 

Dalam pertempuran melawan penjajah, Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dengan senjata sederhana melakukan perlawanan gigih kepada tentara Belanda yang terlatih dan dilengkapi persenjataan lebih canggih, termasuk beberapa tank. Total 35 pelajar gugur dan beberapa lainnya luka-luka tertawan, termasuk komandan kompi.

Komandan Batalyon Trip 5000 Susanto pun gugur di depan Gereja Ijen. Dahulu nama jalan itu ialah Jalan Salak dan kemudian sebagai bentuk penghormatan berubah nama menjadi Jalan Pahlawan TRIP. 

Napak tilas perjuangan para pahlawan di Malang, kata Muhadjir, dapat dimasukkan sebagai agenda penyelenggaraan MTD di tahun depan.

"Sebaiknya memang begitu bukan hanya event ini saja. Dan di event ini juga sambil mengajarkan ke generasi muda kejayaan Kerajaan Kanjuruhan, kerajaan Singasari, perjuangan pahlawan TRIP. Dan jangan lupa kita punya pahlawan namanya Hamid Roesdi," tukas dia. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top