Ditahan Terpisah dari Arief, Jarot Terancam Pidana Lima Tahun Penjara

Jarot Edy Sulistyono ditahan KPK. 2017 (merdeka.com/dwi narwoko)
Jarot Edy Sulistyono ditahan KPK. 2017 (merdeka.com/dwi narwoko)

Mulai hari ini (9/11/2017) hingga 20 hari ke depan, Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Malang Jarot Edy Sulistyono (JES) resmi jadi penghuni Rumah Tahanan Negara Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK atau Rutan C1. 


Jarot ditahan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah menjalani pemeriksaan di Jakarta. Setelah berjam-jam diperiksa, Jarot keluar ruangan sudah mengenakan rompi orange. Meski dikawal beberapa petugas, Jarot disebut terlihat santai dan mengumbar senyum pada awak media seperti yang dilansir Merdeka.com. 


Kepala Bagian Publikasi dan Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha mengungkapkan, penahanan tersebut dilakukan untuk kepentingan penyidikan. "Terkait dugaan tindak pidana korupsi suap terkait pembahasan APBD-Perubahan Pemerintah Kota Malang Tahun Anggaran 2015, hari ini (9/11/2017) penyidik KPK melakukan upaya hukum penahanan terhadap tersangka JES," ujar Priharsa melalui pesan WhatsApp. 


Jarot sendiri terjerat kasus dugaan suap saat menjabat kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan Pemkot Malang pada 2015 lalu. "Untuk 20 hari ke depan, terhitung mulai hari ini, yang bersangkutan ditahan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK," tambahnya.


Artinya, Jarot ditempatkan terpisah dari mantan ketua DPRD Kota Malang M Arief Wicaksono (MAW) yang ditempatkan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) KPK di Pomdam Jaya Guntur. Arief sendiri ditahan usai menjalani pemeriksaan seminggu yang lalu, tepatnya Kamis (2/11/2017). 
Priharsa mengungkapkan, penyidik tidak membeber alasan khusus terkait penahanan Jarot. "Ga ada (alasan khusus). Penahanan ini untuk kepentingan penyidikan, berdasarkan pertimbangan subyektif dan obyektif dari penyidik," terangnya. 


Untuk diketahui, pertimbangan obyektif karena tersangka dikenakan pasal dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Sementara pertimbangan subyektif, jika penyidik mengkhawatirkan tersangka melarikan diri, menghilangkan bukti, atau mengulangi perbuatannya. 


Jarot sendiri disangkakan pasal 5 ayat 1 huruf atau huruf b atau pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo 64 kuhp jo pasal 55 ayat-1 ke-1 KUHP.


Sebagai tersangka pemberi suap, ancaman hukuman yang diberikan minimal 1 tahun penjara dan maksimal 5 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 250 juta.
Tampaknya, Jarot lebih beruntung ditempatkan di Rutan C1 dibandingkan dengan Arief yang ditempatkan di Rutan Pomdam Jaya Guntur. Sebab, seperti dilansir beberapa media, dari segi fasilitas, Rutan C1 lebih baik dibandingkan dengan Rutan Guntur. Misalnya, di Rutan C1 terdapat fasilitas AC, televisi, dan kamar mandi dalam.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Aditya Fachril Bayu
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top