Di Teluk Asmara, Ratusan Warga Lepas Anak Penyu ke Laut

Pelepasan anak penyu di Teluk Asmara dan Pantai Bongsang Sumawe yang disaksikan oleh ratusan warga dan wisatawan sebagai wujud perlindungan populasi penyu yang jadi hewan favorit buruan ilegal, Kamis (21/09) (for MalangTIMES)
Pelepasan anak penyu di Teluk Asmara dan Pantai Bongsang Sumawe yang disaksikan oleh ratusan warga dan wisatawan sebagai wujud perlindungan populasi penyu yang jadi hewan favorit buruan ilegal, Kamis (21/09) (for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Perburuan penyu untuk diperdagangkan, baik telur dan dagingnya yang pernah marak di pesisir selatan Kabupaten Malang dalam beberapa tahun lalu membuat keberadaan hewan dilindungi negara ini semakin langka ditemui.

Jika dulu mudah menjumpai Penyu Hijau (Chelonia Mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys Imbricata), Penyu Slengkrah (Lepidochelys Olivaceae), dan Penyu Belimbing (Dermochelys Coriaceae) di pantai, kini berbagai jenis penyu itu sulit ditemukan lagi.

Padahal, sebelum marak perburuan, masyarakat bisa melihat aneka jenis penyu tersebut bertelur di pesisir selatan Kabupaten Malang sepanjang tahun.

Kondisi inilah yang akhirnya menyadarkan masyarakat di pesisir selatan untuk secara langsung melindungi keberadaan penyu yang kian langka dari perburuan ilegal. Dengan bantuan dari berbagai organisasi pecinta lingkungan hidup, aparat hukum dan pemangku kepentingan wilayah, masyarakat di pesisir selatan, misalnya di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, telah berhasil mengurangi perburuan penyu.

Bahkan, masyarakat telah memiliki lokasi penangkaran dan penetasan telur penyu sebelum dilepas ke laut. Data yang tercatat di masyarakat Sitiarjo tahun 2014 ada sekitar 800 anak penyu yang dilepaskan ke laut.

Kesadaran yang tumbuh atas pentingnya menjaga keseimbangan alam tersebut, membuat proses penyelamatan penyu dan anak penyu di pesisir selatan Kabupaten Malang menjadi program rutin dan semakin masif mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Hal ini kembali terlihat dari pelepasan anak penyu di Teluk Asmara dan Pantai Bangsong yang terletak di Dusun Rowoterate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kamis (21/09) siang.

Ratusan warga bersama wisatawan yang ada di Pantai Bangsong dan Teluk Asmara serta kepolisian resort  (Polres) Malang mengikuti prosesi pelepasan anak penyu ke laut.

Pelibatan kepolisian merupakan wujud nyata lahirnya kesadaran masyarakat desa dalam penyelamatan penyu yang jadi buruan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pelibatan ini pun direspon baik oleh kepolisian yang menurut Kapolsek Sumawe AKP Agus Murdiantono telah berjalan cukup lama. 

"Kita sangat mendukungnya. Bahkan kita terus intensifkan patroli bersama warga dalam perlindungan penyu," kata Agus, Kamis (21/09), yang menegaskan ini merupakan wujud nyata Polri dalam melestarikan dan menyelamatkan hewan yang dilindungi Undang-Undang.

Agus menambahkan, bahwa komitmen tersebut juga didukung oleh pihak Perhutani dan Muspika Kecamatan Sumawe. "Semua memahami pentingnya pelestarian ini. Walau sudah bisa dibilang tidak ada perburuan penyu, tapi kami tetap akan terus menjaganya bersana warga," ujarnya.

Sri Siswanti, nelayan Sitiarjo menyatakan, dulu masyarakat karena ketidaktahuan sering berburu penyu dan anak penyu untuk dijual, baik ke penduduk lokal maupun pesanan dari berbagai daerah. "Harga telur penyu di tahun 2014-an per butir bisa Rp 2 ribu. Untuk dagingnya bisa dihargai Rp 75 ribu per kilogram," terang Sri.

Dari satu penyu dewasa yang rata-rata berbobot antara 75-90 kilogram per ekor, para pemburu ini bisa mendapatkan keuntungan Rp 5-6 Juta. "Hal inilah yang dulu membuat perburuan penyu begitu maraknya," ujar Sri.

Kini, kondisi telah berbeda. Masyarakat beserta seluruh pemangku kepentingan bersama-sama berada di garda depan untuk menyelamatkan penyu yang populasinya memang kian langka ini.

Penegakan hukum atas para pemburu pun semakin galak dan diintensifkan. Sanksi diterapkan secara maksimal seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menetapkan pelaku perdagangan telur penyu terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. 

Kini, warga dan pengelola pantai Bangsong dan Teluk Asmara yang juga terkenal sebagai tempat wisata telah menerapkan prinsip ecotourism yang sesuai dengan usaha konservasi.

Pewarta : Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top