Kue Kekinian Artis Ibu Kota Gerus Produk UMKM Malang (18)

Produk Harus Jadi Artis, UMKM Perlu Berani Perkuat Modal

Operations & Human Capital Director BFI Finance Andrew Adiwijanto (Berdiri) saat tengah memberi penjelasan soal literasi keuangan di Hotel Savana. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Operations & Human Capital Director BFI Finance Andrew Adiwijanto (Berdiri) saat tengah memberi penjelasan soal literasi keuangan di Hotel Savana. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Makobu Cake by Diva KD yang di-launching artis Krisdayanti siang tadi (17/9/2017) menambah daftar panjang toko oleh-oleh kue kekinian artis ibu kota di Malang. Gerai-gerai penganan berdasar kue bolu dan pastry itu disinyalir menggeser citra oleh-oleh lokal yang terlebih dulu ada. Misalnya keripik tempe. 


Oleh-oleh kue kekinian artis juga dikhawatirkan menggerus pasar produk usaha mikro,  kecil, dan menengah (UMKM) Kota Malang. Terkait hal itu, praktisi finansial Andrew Adiwijanto mengungkapkan bahwa merebaknya bisnis artis memang sangat memengaruhi daya saing UKM dan UMKM, khususnya di Malang Raya. "Apalagi kita ketahui selain menang branding, para artis itu pasti memiliki modal cukup besar dalam berbisnis," ujar dia.


Pria yang saat ini menjabat operations & human capital director BFI Finance itu menegaskan bahwa meski dinilai klasik, masalah permodalan masih menjadi salah satu faktor utama.


Menurut dia, supaya industri UKM tetap berkembang, sudah seharusnya pemerintah memberikan support. Baik itu pemberdayaan maupun bantuan permodalan.  "Selama ini ada beberapa program bantuan. UKM harus berani memperkuat permodalannya. Bisa juga melalui lembaga finance," ujarnya saat ditemui MalangTIMES di sela seminar Literasi Keuangan bagi Pengusaha UKM di Kota Malang, Sabtu (16/9/2017) di Hotel Savana.


Andrew mengatakan, para pelaku UMKM maupun UKM musti membuka diri terhadap perbankan maupun perusahaan pembiayaan yang dapat menjadi alternatif sumber permodalan. Sebab, salah satu tantangan terbesar bagi pengusaha UKM pada umumnya adalah mendapatkan akses permodalan yang mudah, cepat dan efektif mendukung kebutuhan dunia usaha yang dinamis. "Kalau artis berbisnis, kan mengandalkan namanya yang terkenal. Tapi UKM harus bisa menjadikan produk sebagai artis yang mampu bersaing," tambah Andrew. 


Para pelaku UMKM dan UKM juga diharapkan terus meningkatkan kualitas dan mau membaca keinginan pasar. Dengan begitu, mereka tidak terjebak pada pola pikir 'asal laku' yang membuat usaha jalan di tempat, bahkan semakin ditinggalkan. "Kegiatan-kegiatan seperti workshop kewirausahaan dan pemberdayaan UKM itu jangan hanya diikuti seremonial karena pasti ada hal baru yang bisa diterapkan untuk menguatkan pasar," tegasnya.


Andrew menguraikan, lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan beberapa perusahaan permodalan dalam berbagai kesempatan turut aktif menyosialisasikan program literasi keuangan ke kalangan pengusaha UKM. Sebab, pelaku yang paham soal permodalan cenderung akan lebih cepat berkembang. 


Dia mencontohkan, hingga semester pertama 2017, BFI Finance berhasil menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 6,7 triliun untuk para pelaku UKM dan UMKM. "Ini hanya contoh. Intinya agar pelaku UKM tidak alergi lembaga keuangan dan bantuan permodalan," pungkasnya. (*)

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Aditya Fachril Bayu
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top