20 Tim Penari Meriahkan Festival Titisan Ragam Budaya Singhasari

Salah satu penari menampilkan Tari Grebeg Sabrang di ajang Festival Budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari di Lawang, Minggu (17/9/2017) siang. (foto : Imam Syafii/MalangTIMES)
Salah satu penari menampilkan Tari Grebeg Sabrang di ajang Festival Budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari di Lawang, Minggu (17/9/2017) siang. (foto : Imam Syafii/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sebanyak 20 penari se Kabupaten Malang menampilkan performa terbaiknya di ajang perlombaan Tari Topeng Malangan dalam Festival Titisan Ragam Budaya Singhasari yang digelar di Aula Graha Wiyata Outbond Wisata Agro Taman Lawang, Minggu (17/9/2017) siang.

Dari pantauan MalangTIMES para peserta tampak semangat menampilkan Tari Topeng Malangan di antaranya Tari Bapang Malangan dan Tari Grebeg Sabrang. 

Para penari terlihat lihai menggerakkan anggota tubuhnya dengan sangat gemulai sesuai intonasi alunan musik tradisional Jawa.

Di hadapan tiga juri yakni dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang; Bambang Supono, Seniman tari sekaligus pemilik Sanggar Tari Gganesha Turen, Jumiarah dan seniman tari, Agung Shandi Prayudowati peserta secara kompak melakukan gerakan tari khas Malangan itu.

Salah satu peserta dari SMA NMC menampilkan Tarian Grebeg Sabrang yang diikuti oleh 5 penari tersebut mengatakan momentum ini mereka manfaatkan untuk menampilkan Tari Grebeg Sabrang yang menceritakan tentang keberanian barisan Prajurit Sabrang yang gagah perkasa dalam melawan musuh.

Koordinator Wisata Malang Utara Tarmudji mengatakan even ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya peninggalan sejarah,salah satunya adalah Tari Malangan. 

"Kabupaten Malang memiliki Tari Topeng Malangan yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Karena itu kita adakan event seperti ini untuk edukasi kepada masyarakat, agar kesenian ini tidak punah dan diklaim negara lain,"  kata Tarmudji saat ditemui MalangTIMES di sela acara berlangsung.

Ia mengaku sangat senang karena event ini disambut antusias para pelajar yang menyuguhkan tarian bagus sesuai pakem Tarian Malangan

"Acara ini sebagai awal untuk mengenalkan budaya seni tari khas Kabupaten Malang yang mulai banyak ditinggalkan masyarakat," jelasnya.

Tarmudji mengaku merasa sedih bila kesenian budaya di Indonesia tidak dilestarikan dan ditularkan kepada generasi muda.

Oleh karena itu, dirinya sangat berterima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang yang selama ini getol melakukan pembinaan dan sosialisasi agar seni budaya yang merupakan warisan leluhur tak hilang ditelan zaman.

"Mohon maaf ada beberapa kesenian Indonesia yang di klaim atau di caplok nergara tetangga. Misalkan Reog Ponorogo dan batik. Kami tidak ingin kesenian Tari Topeng Malangan mengalami nasib yang sama, diklaim milik negara lain," pungkasnya.

Pewarta : Imam Syafii
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top