Ini Bentuk Keseruan Adu Kreasi Masak Onde-Onde di Festival Titisan Ragam Budaya Singhasari

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara memantau peserta lomba onde-onde dalam acara festival budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari di Graha Wiyata Outbond Wisata Agro Taman Lawang. (foto : Imam Syafii)
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara memantau peserta lomba onde-onde dalam acara festival budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari di Graha Wiyata Outbond Wisata Agro Taman Lawang. (foto : Imam Syafii)

MALANGTIMES - Sebanyak 25 peserta tampak antusias mengikuti lomba adu kreasi masak onde-onde dalam rangka menyemarakkan Festival Budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari bertajuk North Malang Culture and Heritage yang digelar di Aula Graha Wiyata Outbond Wisata Agro Taman Lawang, Sabtu (16/9/2017).  

Acara yang digelar mulai (16-17/9/2017) ini secara langsung dibuka Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya Weshantara.

Menurutnya, program ini bertujuan mengenalkan potensi wisata di wilayah Malang Utara sebagai pusat wisata sejarah budaya.

Dari pantauan MalangTIMES, para peserta tampak sibuk mengolah adonan untuk dijadikan onde-onde khas masyarakat Lawang. Onde-onde yang dibuat peserta harus yang original dan murni hasil kreasi mereka.

Dari berbagai peserta mulai pelajar hingga orang tua ini mereka menampilkan olahan onde-onde dengan konsep yang berbeda. Ada onde-onde rasa kacang coklat, pisang, kentang, herbal, susu, bahkan campuran kismis.

Salah satu peserta asal Desa Sidodadi Kalianyar, Anik Hermawan membuat onde-inde dengan kreasi campuran daun suji.

"Kami membuat onde-onde dengan mencampurkan daun suji. Nanti hasilnya onde-onde berwarna hijau bertabur wijen yang di dalmnya ada kismis," kata Anik disela membuat bahan dasar adonan onde-onde didampingi rekannya.

Anik menerangkan alasan membuat kreasi onde-onde daun suji isi kismis itu, lantaran dirinya menonjolkan onde-onde khas dengan bau dan warna almi daun suji tersebut.

"Kebanyakan onde-onde memakai bahan pewarna buatan, tapi kami tidak menggunakan itu. Kami menggunakan pewarna alami dari daun suji dan daun pandan. Jadi rasanya empuk dan terlihat menarik," jelas perempuan 44 tahun tersebut.

Kemudian, Koordinator Pariwisata Malang Utara, Tarmudji menjelaskan maksud dan tujuan Festival Budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari ini sesuai dengan tema yang diusung yakni North Malang Culture dan Heritage.

"Kami mewakili masyarakat di wilayah Lawang ingin mengembangkan dan mengenalkan potensi wisata sejarah dan budaya yang ada di sini untuk dikenal di kalangan wisatawan. Kami akan mempromosikan makanan onde-onde khas Lawang," kata Tarmudji kepada MalangTIMES, Sabtu, (16/9/2017).

Tak hanya itu saja, pihaknya juga ingin onde-onde menjadi makanan khas Lawang. Oleh karena itu dalam acara ini digelar beragam perlombaan di antaranya lomba olahan onde-onde, tari dan fotografi bangunan tua bersejarah di Lawang.

"Kami ingin mengangkat makanan onde-onde khas Lawang, karena masyarakat di sini sudah lama membuat onde-onde yang rasannya tidak kalah enaknya dengan onde-onde daerah lain. Kendalanya masih belum dipromosikan dan dikenal di kalangan masyarakat umum," jelasnya.

Selain itu, acara ini juga bertujuan mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa kawasan Lawang memiliki beragam bangunan tua bersejarah serta terkenal dengan kuliner onde-onde.

"Karena itu kami ingin sekali Pemerintah Kabupaten Malang dalam hal ini Dinas Pariwisata untuk menjembatani dan merealisasikan Lawang menjadi destinasi wisata kota tua bersejarah. Itu harapan kami semua, dan pastinya kami butuh saran, bimbingan dan pembinaan dari pemerintah dalam pengelolaannya nanti seperti apa," harap pria yang juga menjadi Pendiri Graha Wiyata Outbond Wisata Agro Taman Lawang tersebut.

Hal senada disampaikan, Camat Lawang, Wahyu Widodo. Dalam sambutannya ia ingin menjadikan kawasan Lawang sebagai wisata kota tua bersejarah.

"Wilayah Lawang banyak bangunan tua bersejarah peninggalan Belanda yang bisa menjadi daya tarik wisatawan, selain objek wisata alam seperti Agro Wisata Kebun Teh Wonosari, Pasar Lawang yang buka nonstop 24 jam," terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara mengatakan event seperti ini sangat bagus untuk mempromosikan dan mengenalkan potensi wisata, khususnya di wilayah Lawang. 

"Untuk menjadikan Lawang wisata kota tua, kita lihat perkembangannya nanti konsepnya seperti apa. Nanti kami laporkan ke pak Bupati, (Rendra Kresna) terkait pengembangan wisata tersebut," ujarnya.

Disamping itu, pembukaan Festival Budaya Titisan Ragam Budaya Singhasari bertemakan North Malang Culture dan Heritageoleh Kadisparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara ditandai dengan pemukulan gamelan.

Pewarta : Imam Syafii
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top