Waduh, Burung Nuri dan Kakatua Hasil Buruan Masih Dijual Bebas di Splendid

Puluhan aktivis Profauna Indonesia menggelar aksi teatrikal dalam peringatan Hari Kakatua Indonesia di Balai Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Puluhan aktivis Profauna Indonesia menggelar aksi teatrikal dalam peringatan Hari Kakatua Indonesia di Balai Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Organisasi Protection of Forest & Fauna (Profauna) Indonesia menggelar kampanye publik mengajak masyarakat untuk tidak membeli burung nuri dan kakatua. Kampanye itu disampaikan melalui aksi demo dan teatrikal dalam rangkaian peringatan Hari Kakatua Indonesia di depan Balai Kota Malang, siang ini (16/9/2017).

Mereka menyayangkan masih banyaknya bangsa burung paruh bengkok atau Psittaciformes yang diperjualbelikan secara bebas. Termasuk di Pasar Burung Splendid, Kota Malang. Juru kampanye Profauna Indonesia Bayu Sandi mengungkapkan bahwa timnya telah melakukan investigasi di Pasar Splendid, kemarin (15/9/2017). "Ada temuan beberapa burung paruh bengkok dijual bebas. Tetapi yang kami perhatikan lebih salah satunya jenis nuri kasturi Ternate," ujar Bayu.

Profauna Indonesia mencatat setidaknya ada sekitar 10 ekor burung bernama latin Lorius Garralus itu di Splendid. Burung dengan warna bulu dominan merah menyala dan bulu sirip hijau cerah itu dijual dengan harga kisaran Rp 2 jutaan. "Burung-burung itu 95 persen adalah tangkapan dari alam, utamanya dari Maluku Utara. Di sana para pemburu mematok harga hanya Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu saja," tambahnya. 

Bayu menambahkan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017, Profauna Indonesia mencatat setidaknya ada 10 kasus penyelundupan dan perdagangan burung nuri dan kakatua asal Maluku dan Maluku Utara yang terungkap di wilayah Jawa Timur. Di antara kasus-kasus itu, yang paling menyita perhatian luas adalah kasus penyelundupan puluhan ekor burung kakatua jambul kuning dalam kemasan botol plastik. Penyelundupan itu digagalkan di pelabuhan Tanjung Perak pada November 2015. "Kasus itu menjadi cermin betapa mengerikannya metode yang digunakan para pedagang untuk mengangkut burung dari Indonesia Timur ke Jawa karena Jawa merupakan pasar utama," ungkapnya.

Dalam kampanye publik itu, sejumlah aktivis Profauna mengenakan kostum burung nuri dan kakatua. Mereka membentangkan spanduk berisi ajakan agar masyarakat tidak lagi membeli serta memelihara burung nuri dan kakatua.

Burung nuri dan kakatua merupakan salah satu kekayaan alam khas Indonesia yang sulit dijumpai di bagian dunia lain. Di Indonesia terdapat sekitar 89 spesies burung paruh bengkok, dengan 14 spesies di antaranya sudah dilindungi secara hukum.

"Profauna juga mendesak agar pemerintah segera memasukkan kakatua putih dan Kasturi Ternate dalam daftar satwa dilindungi, untuk memastikan secara hukum burung endemik Maluku Utara ini tidak lagi diperdagangkan," pungkas Bayu. (*)

 

 
Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top