Mengawal Malang Jadi Kota Mode

Wow, Daster Bordir Khas Malang ini Ternyata Langganan Pejabat Negara

Daster bordir khas Malang kreasi Eva Sophia Hayati (foto: Wahida Rahmania Arifah/ MalangTIMES)
Daster bordir khas Malang kreasi Eva Sophia Hayati (foto: Wahida Rahmania Arifah/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Apa yang terbayang di benak Anda mendengar kata 'daster'? Busana yang kerap dipakai di rumah oleh kaum hawa itu identik dengan kesan lusuh. Umumnya kalangan ibu mengenakan daster bila tengah beraktivitas di rumah. 

Tetapi, daster kreasi ibu asal Malang ini berbeda. Ya, bila daster identik dengan pakaian tanpa ada embel-embel mode. Maka di tangan Eva Sophia Hayati, daster disulap menjadi busana rumahan cantik  dengan sentuhan bordir. 

Ditemui MALANGTIMES, stigma terhadap pakaian daster itulah yang mendorong Eva membuka usaha busana daster bordir. 

"Padahal di rumah itu suami kan ingin melihat istrinya tampil cantik. Makanya, saya akhirnya inisiatif buat daster bordir dengan bahan yang enak dan nyaman," kata Sarjana Ekonomi itu saat ditemui di butiknya kawasan Jalan Borobudur Agung Barat III/1 Kota Malang. 

Tahun 2005 silam, Eva mulai membuka usaha busana daster bordir. Ia namakan usahanya kala itu Omah Daster khas Malangan. Seiring berjalannya waktu nama itu bergeser. "Awalnya saya namakan Omah Daster saja. Tapi lama-lama orang kenal saya dan mereka namakan sendiri Daster Eva," kata Eva. 

Benar bila daster bordir miliknya punya ciri tersendiri. Eva menerapkan standar kain berkualitas yakni katun Jepang ke dalam bahan daster. 

Meski Eva tak mengenyam sekolah mode formal, soal desain daster Eva tergolong jempolan. Kreasi daster tidak sebatas satu bahan, tak jarang Eva memadukan beberapa kain dan memberi sentuhan bordir motif bunga pada daster. 

"Jujur saya enggak sekolah mode tapi saya punya kemauan belajar dari kecil. Umur dua tahun saya sudah suka menggambar," ungkapnya. 

Desain daster bordir Eva nyatanya mampu memikat banyak kalangan. Tak main-main, pelanggan daster bordir Eva adalah kalangan pejabat Republik Indonesia (RI). Meski enggan membeberkan siapa saja pejabat yang kerap mampir ke butiknya, Eva mengaku mereka berasal dari kalangan istana. 

"Ya adalah soalnya ini menyangkut kerahasiaan klien saya ya. Alhamdulillah meski usaha saya ini bisa menyentuh kalangan menengah atas," tutur alumnus Universitas Widyagama Malang itu. 

Kesuksesan Eva memikat kalangan atas mengenakan daster bordir bukan tanpa alasan. Kemauan dan tekad keras keluar dari jeratan ekonomi pas-pasan mendorong ia terus berkreasi. 

"Saya ingat dulu keinginan saya bikin usaha karena saya enggak ada uang pensiun waktu jadi dosen. Akhirnya saya buka usaha daster ini. Awalnya enggak mudah, sempat ada masa-masa sulit. Pastilah usaha begitu. Itulah mengapa saya terus memacu diri saya untuk berkreasi buat model apa ya, oh seperti ini ya," cerita ia. 

Eva masih ingat betul kala itu ia merintis bisnis daster dengan modal awal Rp 6 juta. Daster bordir yang kala itu diproduksi modelnya masih polos. 

Ia lantas menunjukkan model awal daster bordir kreasinya. Warna daster merah menggunakan kain jenis katun. Bordir pada sisi atas busana dan di bagian bawah. Lengan daster dibuat lurus dan panjang. 

"Kalau sekarang lengan modelnya macam-macam. Terus saya juga buat untuk lengan pendek dan kadang saya padukan untuk bagian lengan itu motif kainnya beda," terang Eva. 

Ada dua jenis kain yang digunakan Eva yakni katun biasa dan katun Jepang. "Karena memang kualitasnya lain sebagai pilihan saja untuk pembeli," kata dia. 

Meski usaha yang dirintis sepuluh tahun silam itu kini sedang berkibar, Eva tak mematok harga melambung. "Kalau saya benar ini bisnis tetapi yang paling penting daster saya tetap disenangi pelanggan saya dan karyawan saya dapur tetap mengepul," ujarnya. 

Untuk produk daster bordir berbahan katun standard dibandrol dengan kisaran harga mulai Rp 90-115 ribu. Sedangkan, daster bordir dengan kualitas katun Jepang dipatok dengan harga Rp 105 ribu dan daster berlengan panjang Rp 135 ribu. (*)

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

  • Lagi Tren, Street Wear Adu Warna-Warna Ini

    Pernah dengar istilah hijab street wear? Maknanya adalah padu padan busana yang kamu punya. Pun untuk hijab. Street wear juga membebaskan kamu berkreasi. Umumnya street wear diterapkan di negara-negara maju akan mode sebut saja Jepang dan Perancis. Di neg

  • Pelatih Sriwijaya FC : Kami Bermasalah di Babak Kedua, Arema Bermain Efektif

    Pelatih Sriwijaya FC Rahmad Darmawan mengakui kekalahan timnya usai dipermalukan 3-0 oleh Arema FC ketika bermain di Stadion Jakabaring Palembang, Sabtu (21/7/2018).

  • Serunya Petik Sayur Hidroponik di Kota Batu

    Pertanian hidroponik menjadi salah satu alternatifbercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Tak terkecuali di Kota Batu. Di Kota Dingin ini, masyarakat pun pun bisa membeli sayur pada pertanian hidroponik dengan memetik sendiri.

  • Tiga Tradisi Ini Hanya Ada Di Malang, Apa Saja?

    Untuk menjaga tradisi leluhur, Indonesia kerap melaksanakan berbagai macam tradisi untuk terus melestarikannya. Ada banyak hal yang menjadi latar belakang selain hanya melestarikan tradisi, salah satunya adalah menjaga kesakralan wilayah tersebut.

  • Batu Secret Zoo Bakal Miliki Bayi Gajah Lagi

    Setelah kelahiran gajah Sumatera bernama Lili, koleksi Batu Secret Zoo bakal bertambah lagi. Ya saat ini gajah Sumatera Batu Secret Zoo Jawa Timur Park 2 bernama Nazumi sedang mengandung.

  • Kartunis Buat Ilustrasi Merinding Abad Ini, Disaksikan 3 Juta Pasang Mata

    Seorang kartunis bernama Gunduz Agayev membuat warganet tercengang. Tak kurang dari 3,5 juta orang menyaksikan potret yang dilukiskan Agayev lewat ilustrasi yang ia buat. Kartunis asal Azerbaijan itu membuat beragam gambar yang menyindir kondisi dunia sa

  • Belum Semua Aset Pemkot Malang Tersertifikasi Jadi Celah Pindah Tangan

    Kasus penjualan tanah aset Pemerintah Kota (Pemkot) Malang seperti yang tengah ditangani kejaksaan negeri (kejari) memang rentan terjadi. Pasalnya, sebagian besar aset pemkot saat ini belum memiliki kekuatan hukum berupa sertifikat. Menurut Sekretaris Dae

  • Wali Kota Malang Bakal Sidak Mobil Para ASN, Ada Apa?

    Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Malang, Sutiaji, mengungkapkan, terkait upaya untuk menekan volume sampah di Kota Malang, pihaknya juga bakal berencana melakukan sidak pada masing-masing mobil dinas yang dipakai oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemko

  • Hajar Sriwijaya di Palembang, Arema Duduki Posisi 11

    Arema membuktikan janji untuk merebut kemenangan di kandang Sriwijaya FC Palembang. Dalam laga pekan ke-17 Liga 1 yang digelar di Stadion Jakabaring Palembang, Sabtu (21/7/2018) sore, Arema membawa pulang tiga poin.

  • Muda-Mudi Indonesia Demam Keke Challenges, Youtuber Ria Ricis Unjuk Aksi

    Setelah mannequin challenge, kini ada lagi satu challenge yang sedang populer di Indonesia. Challenge satu ini banyak dikenal dengan istilah ‘keke challenge’. Keke challenge merupakan sebuah aksi tarian di luar mobil yang sedang berjalan.

  • Saingi Toko Modern, Tiap Tahun Ada Permak Pasar Tradisional

    Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang mengagendakan revitalisasi 22 pasar dari total 28 pasar rakyat yang ada di Kota Malang. Hal ini tentunya untuk semakin meningkatkan daya saing pasar rakyat di Kota Malang dengan menjamurnya toko-toko modern yang saat

  • 281 CJH Kota Batu Berangkat, 134 Risiko Tinggi dan 1 Gagal Naik Haji

    Sebanyak 281 calon jamaah haji (CJH) Kota Batu diberangkatkan menuju tanah suci dari masjid Kementerian Agama Kota Batu di Jl Sultan Agung, Sabtu (21/7/2018). Isak tangis keluarga melepas kepergian sanak saudara maupun orang tua pun melebur dalam pemberan

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top