Suara Merdu Bocah Tunanetra "Sihir" Peserta Jambore ABK

Navendra (9), siswa kelas 3 SLB Sumberpucung, saat menyanyikan lagu Ibu-nya Iwan Fals yang membuat pendengarnya berkaca-kaca terharu, Jumat (11/08). (Nana)
Navendra (9), siswa kelas 3 SLB Sumberpucung, saat menyanyikan lagu Ibu-nya Iwan Fals yang membuat pendengarnya berkaca-kaca terharu, Jumat (11/08). (Nana)

MALANGTIMES - Jangan Menyerah. Begitulah judul lagu ciptaan grup musik D'Masiv yang dilantunkan dengan suara jernih oleh Nevandra Devani (9), anak berkebutuhan khusus (ABK) siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Sumberpucung dalam acara Jambore Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di SLB Darma Wanita 01 Kendalpayak, Pakisaji, Jumat (11/08).

Lantunan merdu lagu Jangan Menyerah oleh Nevandra yang mengalami tunanetra itu mampu menyihir dan menumbuhkan semangat peserta Jambore ABK. Ada 75 ABK dari sembilan SLB se-Kabupaten Malang yang mengikuti acara tersebut, didominasi penyandang tunarungu dan tunawicara.

Selain peserta, tamu undangan yang hadir pun dibuat  terpesona oleh suara indah Nevandra yang memompa energi semangat dan mencerminkan kekuatan hidup ABK dalam ikut serta mewarnai kehidupan bangsa dan negara.

Kekuatan Nevandra yang bercita-cita menjadi pilot itu dalam olah vokal tidak berhenti di situ saja. Ibu, lagu lama Iwan Fals, pun mengalun dalam lengkingan jernih dan perih dari kerongkongan Nevandra. Lagi-lagi suara Nevandra membuat seluruh peserta dan undangan berkaca-kaca.

"Nevandra sejak kecil memang gemar menyanyi. Kemampuannya membuat semarak kelas," kata Prodi Tri Mahendra, guru pendamping dan wali kelas Nevandra.

Selain memiliki kemampuan dan bakat besar dalam dunia kesenian, anak kedua Kasmini, warga Donomulyo, itu juga mahir mendalang. "Sering dia mendalang di kelas sebelum pelajaran dimulai,"ujar Mahendra.

Nevandra yang diwawancarai setelah tampil oleh media ini mengaku bahwa dirinya memang sangat suka menyanyi, tapi tidak suka menulis. Selama hampir setahun, menurut Mahendra yang selama tiga tahun menjadi guru pendamping Nevandra, ketidaksukaannya terhadap menulis karena membuatnya tidak bisa bergerak aktif.

"Anaknya aktif dan ceria, tidak bisa diam. Saat disuruh anteng, memang susah. Tapi kini sudah tidak, Mas," ungkap dia.

ABK seperti Nevandra cukup banyak di Kabupaten Malang. Sebagian tidak tersentuh baik oleh institusi pendidikan maupun sosial di lingkungannya. Bahkan kerap mereka menjadi bahan perundungan teman dan lingkungan sekitarnya.

Jambore ABK yang dilaksanakan dua hari (11-12) Agustus 2017 ini merupakan medium pertemuan dan interaksi langsung ABK se-Kabupaten Malang. "Ini baru pertama dilakukan di Kabupaten Malang dengan tujuan untuk melatih kemandirian dan kreativitas siswa melalui model pembelajaran di luar sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik,"ujar  ketua pelaksana Jambore ABK Bagus Susilo. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top