Seru, Meet and Greet Dicky Smash di Yala Cafe

Akhmad Wahid (baju biru), Dicky Smash, dan Galih Yoga Kusuma (berkaos hitam) (foto : Ira Pudjosakti for MalangTIMES)
Akhmad Wahid (baju biru), Dicky Smash, dan Galih Yoga Kusuma (berkaos hitam) (foto : Ira Pudjosakti for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Siang itu sebuah cafe bernuansa Timur Tengah di daerah Dinoyo mendadak ramai, Minggu (23/7/2017). Cafe Yala namanya. Dalam Bahasa Arab kata Yala bermakna "ayo". 

Maklum, siang itu memang sedang berlangsung Meet and Greet Dicky Smash dengan para penggemarnya yang lebih dikenal dengan sebutan FanaDicky. 

Dicky Muhammad Prasetya atau Dicky Smash hadir di Yala Cafe ditemani Brand Ambassador Acara Malang, Asmi. 

Ini kali kelima Dicky datang ke Malang. Dicky mengakui kecintaannya kepada Kota Malang karena banyak ragam kuliner terutama bakso bakar yang jadi favoritnya.

Acara Meet and Greet yang berlangsung sekitar pukul 13.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB ini sangat akrab, tidak terkesan ada jarak antara seorang artis terkenal dengan penggemarnya.

Lagu Smash I Heart You  menjadi pembuka yang disambut antusias FanaDicky, sebutan bagi penggemarnya, dengan bernyanyi bersama. Dicky bahkan menunjukkan keakrabannya dengan fans dengan menarik salah satu penggemar untuk bernyanyi bersamanya.

Dilanjutkan dengan acara "Ngobras" atau ngobrol santai dengan para fans yang dipandu oleh Nadya dari Acara Malang.

Dicky menjelaskan tentang rencana launching album kompilasi di Bulan Agustus nanti merupakan hasil kerjasama dengan KFC. 

Mereka akan mendaurulang lagu-lagu dari band legenda Indonesia yaitu Koes Plus. Dalam album tersebut ada juga Mitha Lestari dan Virly.

Selain itu juga ada serial yang akan tayang di YouTube yang saat ini sedang dalam proses pembuatan.

Dicky mulai bersolo karier tahun 2014 dengan bermain di sinetron yang sempat booming beberapa waktu lalu yaitu Ganteng-Ganteng Srigala bersama Aliando Syarief dan Prilly Latuconsina.

Cowok kelahiran 18 Juni 1993 agak bingung ketika ditanya, lebih pilih musik atau akting? karena dua-duanya merupakan passion-nya (hasrat, red) di dunia seni. 

Ketika ditanya apa tipsnya untuk menjaga kesehatan, cowok Bandung yang pernah cidera pundaknya karena ditarik terlalu keras oleh Aliando ini, memilih untuk minum vitamin dan banyak minum air putih.

Penggemar berat boyband Winner dan 2EN1 dari Korea ini juga suka melakukan pijat ketika lelah melanda.

Ditanya tipe cewek seperti apa yang dia sukai, Dicky menjawab bahwa dirinya suka cewek tipe oriental seperti cewek Korea, sekalipun untuk saat ini belum ada cewek yang dekat dengannya karena lebih memilih fokus berkarier.

Cowok yang mengidolakan Reza Rahardian ini, sempat meneteskan air mata ketika FanaDicky menanyakan perasaannya tentang Smash, "Jadi sedih deh ! Kalian bisa bayanginlah gimana rasanya, biasanya sama-sama ke mana-mana, sekarang sendiri. Ya berasa sedih banget ! Karena sebenarnya aku ini kan pemalu orangnya, kalau ada teman-teman Smash yang lain kan enak, ada yang memulai pembicaraan duluan dengan orang baru, kalau sekarang ya aku harus lebih berani." ujarnya.

Tapi baik Dicky maupun FanaDicky tetap optimis kalau Smash akan menelorkan album baru lagi ke depannya, karena mereka memang tidak bubar hanya vakum.

Dua dari empat owner Yala Cafe turut hadir pula dalam acara tersebut yaitu; Akhmad Wahid dan Galih Yoga Kusuma.

Yoga menjelaskan  ini atas permintaan dari FanaDicky selain memang komunitas penggemar cowok yang jago dancing dan tidak suka buah ini memang besar di Malang dan sesuai juga dengan segmen pasar dari Yala Cafe sendiri yang mulai buka sejak awal April 2017 tersebut.

Yala Cafe merupakan salah satu bisnis bersama dari ke-empat owner tersebut. Lebih lanjut Yoga menjelaskan bahwa, "Bisnis ini diharapkan bisa menjadi pioner bagi para pengusaha muslim di Malang. Selain cafe, kami juga akan membangun kos muslimah, properti syariah, dan juga katering halal. Yang sudah mulai beroperasi juga dengan kantor pusat kami di daerah Dau. Masing-masing owner memang pengusaha yang sudah kompeten di bidangnya, seperti Pak Akhmad Wahid yang sebelumnya bermukim di Jeddah selama 15 tahun lalu pulang ke Malang dan membuka bisnis,' bebernya' 

"Dan tema Timur Tengah ini memang sengaja kita usung karena belum ada cafe dengan tema seperti ini di Malang." imbuhnya ketika ditanya tentang pemilihan konsep cafe-nya.

Ketika ditanya apa pendapatnya tentang Yala Cafe, Dicky mengatakan bahwa makanannya enak, wajib dicoba, suasananya keren, bagus dengan nuansa Timur Tengahnya yang kental. 

Meet and Greet kali ini ditutup dengan lagu dari Dicky, Tak Kan Bersatu, dilanjutkan dengan sesi foto sekaligus Dicky mengutarakan harapannya agar ke depan kariernya lebih lancar dan para FanaDicky tetap setia mendukungnya. Sebab, tanpa support mereka Dicky bukanlah siapa-siapa.

Usai acara, para FanaDicky pun melangkah pulang dengan senyum puas di wajah masing-masing, bertemu idola mereka yang ramah dan rendah hati tentu merupakan pengalaman yang menyenangkan. (*)

Pewarta : Ira Pujosakti
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top