Dorong Inovasi Produk, Prodi Sastra China Universitas Brawijaya Gelar Sarasehan di Kampung Sanan

Dedy Fajar (paling kiri), Ivan Kuncoro (berkaos coklat), Diah Ayu Wulan,Ss,M.Pd (berbaju merah marun) beserta anggota tim UB dan masyarakat kampung Sanan(foto : Ira Pudjosakti for MalangTIMES)
Dedy Fajar (paling kiri), Ivan Kuncoro (berkaos coklat), Diah Ayu Wulan,Ss,M.Pd (berbaju merah marun) beserta anggota tim UB dan masyarakat kampung Sanan(foto : Ira Pudjosakti for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kampung Sanan yang terkenal sebagai sentra keripik tempe di Kota Malang menarik perhatian Program Studi (Prodi) Sastra China Universitas Brawijaya. Mereka pun mengadakan program pengabdian masyarakat di Sanan dengan tema kegiatan Peningkatan Promosi Penjualan Oleh-Oleh Khas Malang.

Baru-baru ini Malang Times meliput program pengabdian masyarakat tersebut. Ditemui dalam acara sarasehan tersebut, Diah Ayu Wulan selaku ketua tim menjelaskan tujuan diadakannya pengabdian masyarakat ini. Yaitu sebagai bentuk nyata dari Tri Dharma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat).

"Mengapa tema ini yang kami pilih? Karena prodi sastra China melihat potensi besar dari oleh-oleh khas Malang berupa keripik tempe yang bisa menjadi ikon oleh-oleh asli Malang apabila dikelola dengan lebih sistematis dan profesional," ungkap dia ketika dikonfirmasi tentang pemilihan tema tersebut.

Dalam acara sarasehan yang berlangsung akrab dan santai namun sarat ilmu tersebut, dihadirkan pemateri lulusan STMIK Asia Malang yang telah menorehkan berbagai prestasi sebagai narasumber di beberapa seminar di Malang, yakni Budi Fajar Supriyanto atau lebih akrab disapa Dedy Fajar. Pada kesempatan itu, Dedy menjelaskan dengan gamblang tentang metode pemasaran untuk keripik tempe via media online.

"Mulailah berinovasi dengan membuat produk turunan," kata Dedy memberikan tips kepada hadirin. "Jangan hanya memproduksi keripik tempe, tapi juga produk olahan tempe yang lainnya. UKM dan korporasi di Indonesia hendaknya juga mulai mempunyai standar agar produk-produknya dapat mendunia, karena standardisasi inilah yang membuat suatu produk bisa dipasarkan secara luas, termasuk standarisasi halal," sambung dia.

Dedy juga menekankan harus mulai mewaspadai adanya pasar bebas. Sebab, produk asli Indonesia bisa saja diklaim oleh negara lain. Contohnya tempe yang sudah diklaim oleh Jepang. "Bisa jadi suatu hari nanti kita harus bayar royalti ke Jepang untuk makan tempe," ujar dia.

UKM juga harus mulai go online. Tak hanya mengandalkan pameran. "Efektifkan media sosial seperti Facebook atau YouTube," tandas Dedy.

Pemberian materi yang berlangsung lebih kurang 2 jam ini benar-benar berlangsung seru dan edukatif sekali. Sesi tanya jawab juga disambut antusias oleh para peserta, terutama warga Kampung Sanan.

Ivan Kuncoro selaku ketua RW 15 Sanan mengaku sangat senang dengan adanya acara sarasehan pengabdian masyarakat dari Prodi Sastra China UB ini. Menurut dia, acara ini merupakan surprise yang menyenangkan bagi warga Sanan. "Ini pertama ada program pengabdian masyarakat dari mahasiswa. Dari dulu saya sudah lama ingin ada program ini di kampung kami ini, tapi baru sekarang terwujud. Saya senang sekali," ucapnya. /p>

Semenjak menjabat sebagai ketua RW 15, Ivan memang melakukan inovasi-inovasi agar masyarakat lebih peduli dengan lingkungan dan bisa membawa Sanan sebagai kampung wisata penghasil keripik tempe. Adapun inovasi yang telah dilakukan antara lain perbaikan infrastruktur jalan, penghijauan di area kampung dengan tanaman boga, dan membuat kampung lukis yang berasal dari ide masyarakat untuk melukis dinding rumah mereka. "Semoga adanya program ini akan membawa keripik tempe Sanan terkenal sampai seantero dunia," ujar dia. (*)

Pewarta : Ira Pudjosakti
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top