Panglima TNI: Waspada, Pertumbuhan Manusia di Dunia Berbahaya bagi Indonesia

Panglima TNI RI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) saat akan mengesahkan pembangunan Masjid An-Nur Al Murtadlo, Bululawang, Minggu (16/07). (Foto: Nana/MALANGTIMES)
Panglima TNI RI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) saat akan mengesahkan pembangunan Masjid An-Nur Al Murtadlo, Bululawang, Minggu (16/07). (Foto: Nana/MALANGTIMES)

MALANGTIMES - Panglima TNI RI Jenderal Gatot Nurmantyo menyisipkan berbagai pesan yang patut diwaspadai oleh bangsa dan negara Indonesia. Pesan itu disampaikan panglima dalam acara halalbihalal di Pondok Pesantren An-Nur Al Murtadlo Bululawang, Minggu (16/7).

Pesan kuat panglima TNI tersebut menyoroti permasalahan pertumbuhan manusia yang tidak berbanding lurus dengan sumber bahan makanan dan energi di dunia. Menurut Gatot, pertumbuhan manusia di dunia serupa teori matematika, yaitu perkalian yang menghasilkan jumlah akhir penggandaan. "Tahun 1.800 jumlah penduduk hanya sekitar 1 miliar. Tahun 2011 jumlahnya sudah berkali-kali lipat, sebanyak 7 miliar," ujar dia.

Pertumbuhan manusia di dunia setiap tahunnya melesat dan tidak membutuhkan waktu lama. Dulu pertumbuhan manusia per 1 miliar membutuhkan waktu 130 tahun. Kini, hanya membutuhkan 6 tahun, manusia bertambah setiap 1 miliar jiwa.

Permasalahan yang terjadi adalah pertumbuhan sumber makanan dan energi semakin menurun dan langka. Ibaratnya serupa teori matematika, yaitu pertambahan yang hasilnya tidak sebesar perkalian.

Inilah yang akhirnya membuat persaingan manusia semakin sengit dan melibatkan juga antarnegara dalam memperebutkan bahan makanan dan energi. "Dan Indonesia menjadi negara yang menjadi rebutan negara lainnya karena kekayaan alam yang dimiliki. Ini menjadi berbahaya kalau kita tidak waspada," tandas Gatot kepada puluhan ribu santri. 

Kewaspadaan bangsa dan negara Indonesia akibat meledaknya jumlah penduduk membuat berbagai ancaman juga menyertainya. Kekayaan alam Indonesia sejak dulu telah menjadi incaran dan rebutan negara-negara yang akhirnya berujung pada penjajahan.

Penjajahan ekonomi, teknologi, budaya dengan semakin mencairnya dunia dan tanpa sekat telah masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. "Maka, pertahanan paling teruji dan terbukti sejarah kembali bertumpu pada para ulama, kiai dan santri dalam menghadapi era penjajahan baru saat ini," terang Gatot yang menegaskan keberhasilan perjuangan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama.

Filterisasi berbagai penjajahan baru dengan semakin sesaknya dunia, baik  ideologi melalui media sosial (medsos) maupun manusia secara langsung telah menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tidak bisa dihindari oleh negara mana pun. "Dan sekali lagi Indonesia menjadi negara yang diincar karena berbagai kelebihan alamnya. Presiden Soekarno telah mewanti-wanti sejak dulu mengenai hal ini," ucap panglima TNI RI.

Pesan terakhir dari Gatot terhadap ribuan santri PP An-Nur Al Murtadlo Bululawang adalah mengenai wasiat dari Jenderal Besar Soedirman yang mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih karena adanya komando yang satu.

"Komando dari komandan dalam pergerakan Indonesia itu ya ulama dan kiai, bukan TNI. Sekarang pun dalam kondisi dunia yang mengalami kelebihan penduduk dan kekurangan sumber makanan dan energi, ulama yang akan jadi benteng pertahanan dari ekses negatifnya," pungkas Gatot. (*)

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Angga .
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top